Pages

Wednesday, December 17, 2014

Guru Tersenyum Berambut Ikal
by : EF


             
            Saya ingin sedikit bercerita tentang seorang gadis cilik nan cantik yang begitu memukau.
            Saya bertemu dengannya saban hari, saat sore mendung, di suatu angkotan kota. Hari itu kebetulan saya tidak mengendarai kendaraan saya ke sekolah, dan melipir menggunakan angkot. Salah satu alasan mendasar saya karena naik angkot adalah, supaya bisa bertemu dengan orang-orang sederhana, mendengar percakapan-percakapan ringan antar penumpang, mengobrol basa-basi perihal negeri ini dengan seorang tetua yang naik angkot.
            Rasanya hanya nyaman. Walaupun saya tidak terlalu menyukai menaiki si kotak ini, karena notabene membuat badan saya bercucuran keringat, terlebih sepulag sekolah yang melelahkan. Bayangan menaiki kendaraan sendiri lebih adem dan menyenangkan, tetapi saya sendiri, tidak bertemu dengan berbagai macam orang yang bisa menjadi kawan seperjalanan.
            Tentang gadis kecil ini. Dia duduk di sebelah saya waktu itu. Umurnya mungkin tidak jauh dari umur adik saya yang paling kecil, umur 9 atau 10-an. Pipinya gemuk sekali, lengan dan betisnya yang penuh bergelayut bersama tulangnya, bergoyang kesana kemari saat angkot tak sengaja jatuh ke dalam cerukan jalan. Kulitnya kuning langsat, matanya belo’ dan berbinar cerah, rambutnya ikal-mencuat kesana kemari dibawah bandananya.

            ‘Aih, cantik nian adik kecil ini. Sedari tadi juga hanya senyam-senyum melihat pemandangan di luar angkot. Membantu membawa belanjaan mama-nya yang berisi selada air. Lucu sekali.’ Batinku.

            Aku terus saja memadanginya, karena adik kecil ini begitu menggemaskan. Pandangannya tertuju kepada setiap penumpang yang masuk, lalu ia tersenyum. Kemudian ia menatap pemandangan diluar angkot, dan lagi-lagi tersenyum. Memang begitu adanya, melihat anak kecil, belum memiliki dosa, begitu damai dan tentram. Kadang saat itu juga aku ingin menangis saat ibunya memegang erat tangan si anak yang tak kunjung mengoceh seperti anak kebanyakan di dalam angkot.

            Ia hanya bungkam. Sampai pada akhirnya, ia meracau sesuatu yang tak jelas. Tepat di samping saya.

            “Ma’a, ma’u ulang, ma’a.” Ucapnya, dengan nada suara yang terputus-putus. Kemudian tangannya bergerak menunjukkan bahasa isyarat.

            Ya Tuhan...

            Kalau di televisi, film-film, sinetron saya melihat orang tunawicara sudah cukup menyedihkan, ini ada seorang adik perempuan kecil nan cantik yang tidak bisa bicara. Saya benar-benar kaget, seisi angkot pun tiba-tiba melirik ke anak kecil ini. Rasanya benar-benar mengharukan, kasihan, dan... ah entahlah, saya sendiri sulit menafsirkan. Hanya semua begitu nyata. Cobalah sendiri kalau tidak percaya, duduklah sendiri di sebelah anak kecil ini, rasakan aura yang terpancar dari diri seorang anak yang masih belia namun ternyata tunawicara..

            Kemudian si ibu menjawab, “Iya, iya sebentar lagi. Itu di depan, ya.” jawabnya dengan tulus.

            Si anak terlihat kesal karena kegerahan, “Ma’ang! Ki’i! Ma’ang, ki’i!” Mang, kiri. Katanya. Ia berkata susah payah, kemudian memegang lehernya setelah berusaha mengeja 'mang, kiri' tadi. Untuk mengeja beberapa suku kata saja, ia kewalahan. Sudah berhasil keluar suara pun, tenggorokannya seperti tercekat sesuatu, lantas ia memegang lehernya sambil mengernyitkan dahi. Lihatlah usahanya untuk mengeja suatu kata, begitu luar biasa... 
 Ia menunjukkan bahasa isyarat lagi kepada ibunya, kemudian ia makin tampak kesal karena kegerahan.

            “Ayo-ayo turun.” Ucap ibunya.
            Lalu anak itu tersenyum saat angkot berhenti, dan ia turun bersama ibunya. Rambutnya bergoyang kesana kemari, bibirnya yang merah berucap sesuatu yang membuat ibunya tersenyum. Aku yakin, bagaimanapun keadaan anak itu, ibu itu pasti merasa sebagai ibu paling beruntung di dunia, karena memiliki anak yang teramat istimewa.

            Itulah pelajaran yang saya ambil hari itu. Saya menjadi lebih bersyukur kepada Tuhan atas segala-galanya. Kadang, hal-hal luar biasa bisa kau jumpai bahkan dalam keadaan yang sederhana. Dan bisa lebih memaknai hidup ini dengan senyuman. Anak-anak kecil memang gurunya tertawa, gurunya tersenyum, gurunya kebahagiaan, gurunya kesederhanaan.

            Anak kecil tadi saja, walaupun memiliki keterbatasan, masih bisa tersenyum untuk memaknai setiap perjalanan yang ia tapaki. Mengapa saya yang diberi oleh Tuhan sehat walafiat selalu murung dan jarang tersenyum? Ah, betul-betul sebuah pelajaran.