Guru Tersenyum Berambut Ikal
by : EF
Saya
ingin sedikit bercerita tentang seorang gadis cilik nan cantik yang begitu
memukau.
Saya
bertemu dengannya saban hari, saat sore mendung, di suatu angkotan kota. Hari
itu kebetulan saya tidak mengendarai kendaraan saya ke sekolah, dan melipir
menggunakan angkot. Salah satu alasan mendasar saya karena naik angkot adalah,
supaya bisa bertemu dengan orang-orang sederhana, mendengar
percakapan-percakapan ringan antar penumpang, mengobrol basa-basi perihal
negeri ini dengan seorang tetua yang naik angkot.
Rasanya
hanya nyaman. Walaupun saya tidak terlalu menyukai menaiki si kotak ini, karena
notabene membuat badan saya bercucuran keringat, terlebih sepulag sekolah yang
melelahkan. Bayangan menaiki kendaraan sendiri lebih adem dan menyenangkan,
tetapi saya sendiri, tidak bertemu dengan berbagai macam orang yang bisa
menjadi kawan seperjalanan.
Tentang
gadis kecil ini. Dia duduk di sebelah saya waktu itu. Umurnya mungkin tidak
jauh dari umur adik saya yang paling kecil, umur 9 atau 10-an. Pipinya gemuk
sekali, lengan dan betisnya yang penuh bergelayut bersama tulangnya, bergoyang
kesana kemari saat angkot tak sengaja jatuh ke dalam cerukan jalan. Kulitnya
kuning langsat, matanya belo’ dan berbinar cerah, rambutnya ikal-mencuat kesana
kemari dibawah bandananya.
‘Aih, cantik nian adik kecil ini. Sedari
tadi juga hanya senyam-senyum melihat pemandangan di luar angkot. Membantu
membawa belanjaan mama-nya yang berisi selada air. Lucu sekali.’ Batinku.
Aku
terus saja memadanginya, karena adik kecil ini begitu menggemaskan.
Pandangannya tertuju kepada setiap penumpang yang masuk, lalu ia tersenyum.
Kemudian ia menatap pemandangan diluar angkot, dan lagi-lagi tersenyum. Memang
begitu adanya, melihat anak kecil, belum memiliki dosa, begitu damai dan
tentram. Kadang saat itu juga aku ingin menangis saat ibunya memegang erat
tangan si anak yang tak kunjung mengoceh seperti anak kebanyakan di dalam angkot.
Ia hanya
bungkam. Sampai pada akhirnya, ia meracau sesuatu yang tak jelas. Tepat di
samping saya.
“Ma’a,
ma’u ulang, ma’a.” Ucapnya, dengan nada suara yang terputus-putus. Kemudian tangannya bergerak menunjukkan bahasa
isyarat.
Ya
Tuhan...
Kalau
di televisi, film-film, sinetron saya melihat orang tunawicara sudah cukup
menyedihkan, ini ada seorang adik perempuan kecil nan cantik yang tidak bisa
bicara. Saya benar-benar kaget, seisi angkot pun tiba-tiba melirik ke anak
kecil ini. Rasanya benar-benar mengharukan, kasihan, dan... ah entahlah, saya
sendiri sulit menafsirkan. Hanya semua begitu nyata. Cobalah sendiri kalau
tidak percaya, duduklah sendiri di sebelah anak kecil ini, rasakan aura yang
terpancar dari diri seorang anak yang masih belia namun ternyata tunawicara..
Kemudian
si ibu menjawab, “Iya, iya sebentar lagi. Itu di depan, ya.” jawabnya dengan
tulus.
Si
anak terlihat kesal karena kegerahan, “Ma’ang! Ki’i! Ma’ang, ki’i!” Mang, kiri.
Katanya. Ia berkata susah payah, kemudian memegang lehernya setelah berusaha mengeja 'mang, kiri' tadi. Untuk mengeja beberapa suku kata saja, ia kewalahan. Sudah berhasil keluar suara pun, tenggorokannya seperti tercekat sesuatu, lantas ia memegang lehernya sambil mengernyitkan dahi. Lihatlah usahanya untuk mengeja suatu kata, begitu luar biasa...
Ia menunjukkan bahasa isyarat lagi kepada ibunya, kemudian ia makin tampak kesal karena kegerahan.
Ia menunjukkan bahasa isyarat lagi kepada ibunya, kemudian ia makin tampak kesal karena kegerahan.
“Ayo-ayo
turun.” Ucap ibunya.
Lalu
anak itu tersenyum saat angkot berhenti, dan ia turun bersama ibunya. Rambutnya
bergoyang kesana kemari, bibirnya yang merah berucap sesuatu yang membuat
ibunya tersenyum. Aku yakin, bagaimanapun keadaan anak itu, ibu itu pasti
merasa sebagai ibu paling beruntung di dunia, karena memiliki anak yang teramat
istimewa.
Itulah
pelajaran yang saya ambil hari itu. Saya menjadi lebih bersyukur kepada Tuhan
atas segala-galanya. Kadang, hal-hal luar biasa bisa kau jumpai bahkan dalam
keadaan yang sederhana. Dan bisa lebih memaknai hidup ini dengan senyuman. Anak-anak
kecil memang gurunya tertawa, gurunya tersenyum, gurunya kebahagiaan, gurunya kesederhanaan.
Anak
kecil tadi saja, walaupun memiliki keterbatasan, masih bisa tersenyum untuk
memaknai setiap perjalanan yang ia tapaki. Mengapa saya yang diberi oleh Tuhan
sehat walafiat selalu murung dan jarang tersenyum? Ah, betul-betul sebuah
pelajaran.

























