Pages

Wednesday, December 17, 2014

Guru Tersenyum Berambut Ikal
by : EF


             
            Saya ingin sedikit bercerita tentang seorang gadis cilik nan cantik yang begitu memukau.
            Saya bertemu dengannya saban hari, saat sore mendung, di suatu angkotan kota. Hari itu kebetulan saya tidak mengendarai kendaraan saya ke sekolah, dan melipir menggunakan angkot. Salah satu alasan mendasar saya karena naik angkot adalah, supaya bisa bertemu dengan orang-orang sederhana, mendengar percakapan-percakapan ringan antar penumpang, mengobrol basa-basi perihal negeri ini dengan seorang tetua yang naik angkot.
            Rasanya hanya nyaman. Walaupun saya tidak terlalu menyukai menaiki si kotak ini, karena notabene membuat badan saya bercucuran keringat, terlebih sepulag sekolah yang melelahkan. Bayangan menaiki kendaraan sendiri lebih adem dan menyenangkan, tetapi saya sendiri, tidak bertemu dengan berbagai macam orang yang bisa menjadi kawan seperjalanan.
            Tentang gadis kecil ini. Dia duduk di sebelah saya waktu itu. Umurnya mungkin tidak jauh dari umur adik saya yang paling kecil, umur 9 atau 10-an. Pipinya gemuk sekali, lengan dan betisnya yang penuh bergelayut bersama tulangnya, bergoyang kesana kemari saat angkot tak sengaja jatuh ke dalam cerukan jalan. Kulitnya kuning langsat, matanya belo’ dan berbinar cerah, rambutnya ikal-mencuat kesana kemari dibawah bandananya.

            ‘Aih, cantik nian adik kecil ini. Sedari tadi juga hanya senyam-senyum melihat pemandangan di luar angkot. Membantu membawa belanjaan mama-nya yang berisi selada air. Lucu sekali.’ Batinku.

            Aku terus saja memadanginya, karena adik kecil ini begitu menggemaskan. Pandangannya tertuju kepada setiap penumpang yang masuk, lalu ia tersenyum. Kemudian ia menatap pemandangan diluar angkot, dan lagi-lagi tersenyum. Memang begitu adanya, melihat anak kecil, belum memiliki dosa, begitu damai dan tentram. Kadang saat itu juga aku ingin menangis saat ibunya memegang erat tangan si anak yang tak kunjung mengoceh seperti anak kebanyakan di dalam angkot.

            Ia hanya bungkam. Sampai pada akhirnya, ia meracau sesuatu yang tak jelas. Tepat di samping saya.

            “Ma’a, ma’u ulang, ma’a.” Ucapnya, dengan nada suara yang terputus-putus. Kemudian tangannya bergerak menunjukkan bahasa isyarat.

            Ya Tuhan...

            Kalau di televisi, film-film, sinetron saya melihat orang tunawicara sudah cukup menyedihkan, ini ada seorang adik perempuan kecil nan cantik yang tidak bisa bicara. Saya benar-benar kaget, seisi angkot pun tiba-tiba melirik ke anak kecil ini. Rasanya benar-benar mengharukan, kasihan, dan... ah entahlah, saya sendiri sulit menafsirkan. Hanya semua begitu nyata. Cobalah sendiri kalau tidak percaya, duduklah sendiri di sebelah anak kecil ini, rasakan aura yang terpancar dari diri seorang anak yang masih belia namun ternyata tunawicara..

            Kemudian si ibu menjawab, “Iya, iya sebentar lagi. Itu di depan, ya.” jawabnya dengan tulus.

            Si anak terlihat kesal karena kegerahan, “Ma’ang! Ki’i! Ma’ang, ki’i!” Mang, kiri. Katanya. Ia berkata susah payah, kemudian memegang lehernya setelah berusaha mengeja 'mang, kiri' tadi. Untuk mengeja beberapa suku kata saja, ia kewalahan. Sudah berhasil keluar suara pun, tenggorokannya seperti tercekat sesuatu, lantas ia memegang lehernya sambil mengernyitkan dahi. Lihatlah usahanya untuk mengeja suatu kata, begitu luar biasa... 
 Ia menunjukkan bahasa isyarat lagi kepada ibunya, kemudian ia makin tampak kesal karena kegerahan.

            “Ayo-ayo turun.” Ucap ibunya.
            Lalu anak itu tersenyum saat angkot berhenti, dan ia turun bersama ibunya. Rambutnya bergoyang kesana kemari, bibirnya yang merah berucap sesuatu yang membuat ibunya tersenyum. Aku yakin, bagaimanapun keadaan anak itu, ibu itu pasti merasa sebagai ibu paling beruntung di dunia, karena memiliki anak yang teramat istimewa.

            Itulah pelajaran yang saya ambil hari itu. Saya menjadi lebih bersyukur kepada Tuhan atas segala-galanya. Kadang, hal-hal luar biasa bisa kau jumpai bahkan dalam keadaan yang sederhana. Dan bisa lebih memaknai hidup ini dengan senyuman. Anak-anak kecil memang gurunya tertawa, gurunya tersenyum, gurunya kebahagiaan, gurunya kesederhanaan.

            Anak kecil tadi saja, walaupun memiliki keterbatasan, masih bisa tersenyum untuk memaknai setiap perjalanan yang ia tapaki. Mengapa saya yang diberi oleh Tuhan sehat walafiat selalu murung dan jarang tersenyum? Ah, betul-betul sebuah pelajaran. 

Thursday, October 2, 2014

Nathan dan Laura #1


            Kopi yang Laura pesan rasa-rasanya begitu bosan ingin segera dilahap oleh empunya. Alih-alih meminum kopi, Laura begitu serius mengenai project kerjanya yang akan jatuh tempo bulan depan. Carut-marut mukanya dan matanya menatap layar laptopnya begitu serius. Sudah hampir tiga jam Laura berkutat dengan pekerjaannya, dan tiba-tiba saja, saat ia mendongak, ia melihat sosok itu disana.

            Iya, dia. Di pojok kedai kopi ini, sama carut-marutnya dengan Laura.

            Lantas, hati Laura berdegup kencang. Benarkah itu dia? Laura bergumam. Sosok itu begitu resah diatas sofa yang ia duduki. Rambutnya kesana-kemari seakan tidak kerasan diatas sana. Lelaki itu serius menatap layar laptopnya dengan berbagai macam buku di atas meja. Sekali ketika, ponselnya berdering dan ia terlihat begitu frustasi menjawab penelponnya.

            Laura semakin tertegun. Semakin Laura menatapnya, rasa-rasa itu menyeruak kembali, remah-remah kenangan yang telah lama hilang tiba-tiba saja datang tanpa permisi. Laura terus mengamatinya. Lima tahun tidak bersua sejak lulus SMA, disinikah mereka harus bertemu kembali? Sebagai orang yang sama-sama asing? Entahlah, Laura sendiri menjadi resah saat ia harus melihat sosok tersebut. Lantas, karena merasa diperhatikan, sosok itu mendongak. Tatapan mereka bertemu dan ada jeda hening sesaat mengambang di tengah-tengah fatamorgana itu. Beginilah rasanya, saat kau bertemu kembali dengan seseorang yang dulu pernah berarti, ada rasa yang membuatmu seakan-akan jatuh begitu saja.

            Laura tersenyum, laki-laki itu balas tersenyum dan menghampiri meja Laura.

            “Nathan.” Bisik Laura
            “Hai, daritadi disini aja? Kok nggak sadar ya aku?” Nathan berucap.
            Laura tersenyum getir. “Iya, aku juga nggak sadar. Terus, kayaknya kenal sama yang duduk di pojokan, eh taunya,”
            Nathan tersenyum, “Boleh duduk disini? Kosong, kan? Atau... ada janji sama orang lain?”
            “Penyakitnya nggak hilang deh, pasti curigaan melulu. Nggak kok, please have a sit.” Laura mencoba mencairkan suasana.
            Nathan terkekeh, lalu mereka sama-sama diam, bergeming. Pura-pura sibuk menatap sekitar mereka. Ada apa perihal semua ini, di sekian banyaknya kedai kopi di Bandung, mengapa harus di kedai ini mereka bertemu? Terlebih sebagai orang asing.
            “Jadi... apa kabar?” Nathan akhirnya memulai percakapan, mengakhiri kecanggungan.
            “Great. Kebanyakan jalan hidup aku sesuai yang aku inginkan.” Jawab Laura.
            “Maaf ya, aku belum baca novel ke-empat mu. Maklum, deadline kerjaan numpuk. Udah jadi teknisi mesin sekarang?” Nathan bertanya lagi.
            Laura terdiam. Jadi selama ini Nathan membaca novel-novelku?
            “Jadi kamu baca semuanya? Ya ampun, makasih ya, terharu deh. Iya nih, teknisi mesin tapi kerjanya di media jurnalis, nggak nyambung banget, ya?”
            Nathan membelalakkan matanya, “Serius? Jadi kerja di media jurnalis sekarang? Wah, kayaknya hidup kamu sesuai sama yang dulu dicita-citakan.”
            “Ya begitulah, perjuangannya nggak semudah yang dibayangkan. Hahaha, iya, cita-cita yang sering kita omongin zaman SMA dulu ya di koridor sekolah? Ya ampun, udah lama banget! Time flies so fast banget. Kamu gimana? Apa kabar sekarang?” Laura bertutur seakan mereka teman lama. Seakan tidak ada jurang pemisah di antara mereka. Seakan mereka tidak pernah menjalin komitmen dan hal-hal lainnya. Padahal ia hanya menutupi kecanggungannya saja.
            Nathan tersenyum melihat tingkah Laura. “Jadi cita-citanya terwujud ya? Jadi penulis, sarjana teknik mesin, kerja di perusahaan jurnalis. Cita-cita yang sering banget diucapin pas pulang sekolah bareng. Hebat. Aku? Aku baik, kadang nggak baik juga.”
            “Kebiasaan, suka over-thinking.”
            Nathan tertawa, “Jadi nostalgia, kan.”
            Mereka sama-sama tertawa, lantas terdiam, kecanggungan merebak kembali. Nathan permisi untuk memindahkan laptop berserta tetek bengeknya ke meja Laura, Laura menyeruput kopi untuk sekedar menutupi kecanggungan.
            “Kerjaan numpuk banget ya, Than? Kerja dimana sekarang?”
            Nathan masih sama, harumnya, matanya, ekspresinya saat ia merasa kewalahan...
            “Aku kerja di perusahaan IT sekarang.” Jawabnya ringkas.
            “Wah, keren. Jadi, cita-citanya udah terwujud ya? Sarjana teknik industri, kerja di perusahaan IT.” Tambah Laura.
            Nathan menggeleng.
            “Apa lagi?” Laura mengernyitkan dahi. “Oh astaga! Belum ke old trafford ya?”
            Nathan tertawa lalu mengangguk. “Masih inget aja. Bener banget, belum kesana, belum puas rasanya. Jadi setelah tumbuh jadi wanita sukses, kapan nih nikahnya?”
            Tiba-tiba saja pertanyaan itu melayang begitu saja dari mulut Nathan. Sedikit membuat Laura tersentak.
            “Hahaha apaan sih, calon aja nggak punya. Kamu kali, kapan nyebar undangan?” dengan menutupi kegetirannya Laura berkata demikian.

            Andai aku bisa sebar undangan pernikahan kita dengan nama kita tertera di dalamnya, Laura. Andai semua angan-angan kita saat SMA dulu terwujud. Menikah, bekerja keras, mewujudkan cita-cita, membina rumah tangga, menerima baik dan burukku, menemani suka dan dukaku. Andai aku yang menjadi penampingmu, Laura. Batin Nathan berkata.

            “Nyebar undangan apa, Ra?”
            “Nikah.”
            “Bukan undangan ulang tahun?”
            “Dasar bocah!” ucap Laura, lantas Nathan tertawa.
            “Pacar aja nggak punya, Ra. Apalagi nyebar undangan. Nihil, kan. Kamu calon nggak ada, tapi pacar ada kan ya.” tukas Nathan.
            “Pacar apa sih, ngarang deh.” Laura berkata sinis.
            Namun tiba-tiba, Riani—sahabat Laura dan seorang anak kecil perempuan, datang tergopoh-gopoh memasuki kedai kopi tersebut.
            “Ra!” teriak Riani.
            Laura bangkit dari duduknya. “Riani, ada apa disini? Kenapa?”
            “Kamu kemana aja sih, Ra. Ditelfon sibuk, untung satpam kantor tau kamu mau kesini. Penting, Ra. Kamu harus pulang, sekarang!” ucapnya berapi-api.
            Nathan kebingungan.
            “Mama Laura, ayo pulang, mama...” ucap anak kecil di samping Riani.
            Apa?! Mama? Batin Nathan.
            *
           
           

            

Friday, September 19, 2014

Siapa Tuan Punya?
karya : EF
Apa kau pernah sekali masa bertanya-tanya,
Perihal pukul 12 malam,
Kepada siapakah statusnya bermuara
Apakah kepada angka 24.00?
Atau 00.00?
Pernahkah kau bertanya-tanya,
Siapa tuan punya pukul 12 malam itu?

Apa kau pernah sekali masa
Merasa peduli terhadap hal sekitar
Tentang pencuri ayam yang dihukum 5 tahun lebih lamanya
Sementara para tikus kotor di negara kita
Yang meraup harta haram,
Harta hasil jerih payah para orang tua kita,
Hasil peluh, bahkan darah yang acap kali menetes
Dihukum hanya dengan hal yang begitu sepele?
Harusnya  mereka dirajam!
Berilah hukuman yang lebih bernas!
Tentang semua kepiluan ini,
Tentang keadilan ini
Siapa tuan punya?

Apa pernah sekali masa kau bertanya-tanya
Perihal pukul 14.30 pada hari kita
Kepada siapa ia bermuara?
Apakah pukul stengah tiga sore?
Apakah siang masih terlalu egois untuk mengambil 14.30 menjadi miliknya?
Pukul 14.30, siapa tuan punya?

Apakah pernah sekali masa
Kau peka terhadap saudara kita,
Di pinggir rel kereta api, dibawah kolong jembatan,
Bahkan yang bersemayam dan tinggal dalam gerobak
Rintihan mereka bertalu-talu
Untuk mendapat hidup yang lebih layak!
Tapi apa realitanya?
Pemerintah seakan lalai, seakan mencoba buta, seakan tak peduli mereka ada
Bukannya diberi tempat layak untuk tinggal
Tanah mereka malah digusur sesuka keotoriteran suatu pihak
Sementara orang berada?
Cih, jangan kau tanya kesahajaan hidup mereka
Di negeri kita,
Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin
Kemanusiawian ini, siapa tuan punya?

Kekasihku, aku kerap kali berangan-angan
Bimbang rasanya untuk mencoba memaafkanmu
Pilu seperti ditusuk sembilu jikaku mengingat kelakuan binatangmu
Rasa-rasanya, kata maaf saja tak sebanding
Entah apa yang meliputi semua kegundahan hati ini
Kata-kata maafmu itu,
Siapa tuan punya?
Kebenaran? Atau hanya sekedar pemanis bibir berstampelkan kebohongan belaka?


Thursday, April 10, 2014

[Sekitar Buku] Favourite part in The Graveyard Book

"Ah gila, keren banget."
"Serem abis."
"Ya ampun bagus banget."

hahaha, itulah monolog saya ketika membaca buku ini. Buku yang berjudul The Graveyard Book. Salah satu buku favorit saya, karena demi alam semesta buku ini manis sekali, dan jenius dalam satu paket. Dan, ada salah satu part favorit saya yang ditulis dengan sangat cantik dan menawan oleh si penulis.

ini dia,

"Hari itu hari musim semi yang sempurna, dan udara hidup oleh kicauan burung dan dengungan lebah. Bunga-bunga daffodil bergemerisik dalam tiupan angin sepoi dan di sana-sini, di lereng bukit, beberapa kuntum bunga tulip yang mekar lebih awal mengangguk-angguk. Bunga-bunga forget-me-not biru mungil yang tersebar dan bunga-bunga primrose kuning yang indah dan gemuk menyelingi warna hijau lereng sementara kedua anak itu mendaki bukit ke arah mausoleum kecil keluarga Frobisher. " -- hal 63, The Graveyard Book, karya Neil Gaiman. 
saya suka sekali dunia dongeng dan isi di dalamnya. Hamparan bunga di atas bukit, musim semi yang indah, peri-peri dan lain sebagainya. Dan ketika ketemu dengan penggalan novel itu, saya jatuh hati. Begitu jenius dan manis novel yang ditulis oleh Neil Gaiman ini :)

Saturday, April 5, 2014

none.

i know it can't make you melt, feel a butterfly in your chest, or a cheesy and creepy things like those. i just hope you will read it, and smile for it, then remember me. i hope you smile.

“When we hold each other, in the darkness, it doesn't make the darkness go away. The bad things are still out there. The nightmares still walking. When we hold each other we feel not safe, but better. "It's all right" we whisper, "I'm here, I love you." and we lie: "I'll never leave you." For just a moment or two the darkness doesn't seem so bad.” 
― Neil GaimanNeil Gaiman's Midnight Days

as usual, i have sent you my favourite conversation from Laura and Max-my favourite charcter in Melbourne.
and in this letter, just imagine i said the convers in Neil Gaiman's Midnight Days.
i hope you understand this, and don't get confused.
i love you, and i hope that we wont lie as the text said before.
i love you, goodnight.

to : you-know-who, Mr.30

Tuesday, April 1, 2014

Surat Untuk Mantan

Surat ini diikutsertakan untuk lomba #SuratUntukRuth novel Bernard Batubara.


   
            Teruntuk, lelaki September.

Sebuah lagu berjudul ‘September’ tadi malam terputar di radio secara tidak sengaja. Lalu aku tiba-tiba saja tersentak, dan pikiran melayang, mencari kotak lama tentang kita. Yang sekarang label ‘kita’ sudah kadaluarsa dan tidak ada. Lalu dengan ditemani lagu ‘September’, remang jalanan malam, kegelapan di dalam mobil, juga tetes hujan yang menyumput malu dibalik lampu-lampu jalan, aku tersenyum. Entah aku pun tidak bisa mendefinisikan arti senyum itu apa dan karena apa. Semuanya begitu tiba-tiba. Lagu itu seakan badut yang mengagetkanku yang sedang melamun di tengah keramaian taman bermain.

            Ini hanya basa-basi kata berstampelkan surat.

            Terserah apa kamu sudi membacanya atau tidak.

            Kamu, laki-laki yang aku kagumi daridulu. Kita pernah punya angan-angan konyol akan tinggal dalam rumah yang sederhana. Saat semua itu tersebut pukul stengah enam sore, rebahan berdua di tanah lapang, dibawah langit yang beranjak senja. Burung-burung, bahkan layang-layang pun sedang menertawakan kita sepertinya. Betapa dua insan muda itu dimabuk roman hingga kepayang.

            Kamu, seseorang yang pernah bersamaku merasakan teori-teori dangkal di buku roman kesukaanku. Yang pernah mengisi percakapan sepertiga malam hingga ujung jendelaku pun cemburu. Yang pernah tertawa dan menari bersama, seperti penghuni rumah sakit jiwa dibawah langit yang sedang deras-derasnya menangis.

            Lagu tadi malam juga membuatku pilu seperti teriris sembilu. Mengenang kembali pijakan kita dulu. Rasanya, aku ingin berteriak saja. Hingga seluruh isi perutku memberontak keluar. Hingga kepala ini pecah. Hingga air mata ini bercampur adu dengan darah. Mengingat kandasnya kita, beralasankan Tuhan kita yang beda. Tentang berbedanya jalur, dan pertentangan keluarga. Dan bahkan, tinggal berdua dalam rumah sederhana pun kini sudah basi. Seperti sebongkah nasi dua hari di atas meja.

            Tetapi kamu, masih tetap laki-laki yang aku kagumi. Kamu mengajariku untuk tetap berada di jalur sebagaimana mestinya. Kamu yang bersikukuh untuk menuruti kemauan ibunda mu tercinta, bahwa cinta kita mutlak terlarang. Dan kamu juga mengajariku untuk tidak terlalu carut-marut menghadapinya. Bahwa kelak, kalau Tuhan mengizinkan, kita akan mengucap janji setia berdua hingga mati. Dan lagi-lagi, kamu juga mengajariku untuk ikhlas.

            Sudah dua tahun ini kata-kata ikhlas itu, aku harap senantiasa menjadi teman terdekatku. Dan hari ini, tanggal 13 September, aku menuliskan ini untukmu. Hanya Tuhan yang tahu apa kamu sempat singgah untuk membaca ini apa tidak, di hari jadi kita yang ke lima tahun-seharusnya.

Perempuan yang jatuh cinta pada lelaki September.
            

Sunday, March 30, 2014

Global Youth Festival 2014 : Youth Talk!

It's been more than a week from the event i came. Tapi nggak apa-apa :))

Hari minggu, 23 Maret 2014 kemarin aku datang ke acara Global Youth Festival, tepatnya di universitas Institut Teknologi Bandung. Yeay!


Jadi pertamanya tuh, aku dapet semacam poster iklan acaranya gitu dari group nulis buku di whatsapp *perlu dijelasin kan?*

drrt.. drrt..
daaan, ini dia posternya
Akhirnya aku nge whatsapp juga temen-temenku untuk datang ke acara tersebut, dan akhirnya kita fix datang. 

Pengisi acaranya keren banget! Sumpah, serius nggak bohong. Mereka benar-benar nge-inspirasi aku banget lewat kata-kata mereka. Di acara ini, kita diajarkan bagaimana menjadi seorang leadership. Dari salah satu pembicara bilang, bahwa seorang leadership itu harus inovatif dan solutif. Kalau seorang leadership hanya mampu punya ide tanpa punya solusi untuk memecahkannya, jangan harap jadi seorang leadership yang baik.

Nah, karena acaranya keren dan inspiratif banget, aku ingin share aja beberapa quotes yang ngena dari kakak-kakak pembicara yang super.

"Kita tuh butuh seorang pemimpin yang semangat, yang ngomongnya menginspirasi, lugas, tegas, nggak loyo dan malah bikin ngantuk" *kemudian ngikutin suara bapak-bapak pidato di tv umur 50an*

"Kalian harus berani bermimpi. Kalau kalian punya bakat, asah. Kalau kalian udah percaya sama mimpi kalian, kekuatan alam semesta tuh kayak dukung kalian buat raih mimpi kalian itu. Mau besar atau kecil. Serius deh."


"Wanita sebagai pemimpin? Kenapa enggak? Justru wanita sangat berperan untuk menjadi seorang pemimpin di jaman sekarang. Kalian itu harus tough. Suka lihat kan ibu kalian, kalau lagi masak atau cuci piring, kadang suka sambil nelfon, dan bicara. Dari situ aja udah membuktikan, kalau wanita malah memiliki feel yang lebih untuk mengkoordinir sesuatu."


"Apa benar remaja berumur 15-24 tahun itu berpotensi untuk mengubah dunia? Apa kalau seseorang yang berumur 24 tahun 365 hari sudah nggak remaja lagi? Seberapa besar sih peran remaja di zaman sekarang ini?"


"Oke, sekarang emang kalau kita ngomongin bangsa udah basi banget lah ya kesannya. Tapi, kalian itu mahasiswa. Kalau kalian nggak pernah ngomongin tentang bangsa ini, bangsa Indonesia, mending kalian jadi anak SMA aja."

terus aku sama teman-teman langsung kaget banget, karena peserta seminar disana mahasiswa semua.
"Eh, disini ada yang masih sma?"
*kita bertiga angkat tangan*
"Eh sorry, yaudahlah ya kalian kan sebentar lagi mahasiswa. Oke lanjut..."
*seisi ruangan ketawa*
*it's okay :)*

Karena aku nulis ini sudah seminggu dari acara yang diselenggarakan, jadi aku lupa apa aja yang udah kakak-kakak speaker bilang :") tapi aku tetep kagum sama kata-kata yang kakak-kakak speaker kasih ke kita. Dan jadi semangat, siapa tahu bisa jadi seorang leader di kemudian hari walaupun seorang wanita. Info lebih lengkap, bisa dibaca disini.


Dan gak sabar untuk dateng ke acara Youth Talk tahun depan!:))

Saturday, March 22, 2014

Percakapan absurd dengan sel kelabu.


"Lo tahu nggak, kadang gue cinta banget sama hujan. Padahal, gue orangnya ya biasa-biasa aja gitu kalau hujan dateng. Biasa-biasa juga sama bau petrichor."

"Dulu, gue sama hujan stranger gitu. Acuh malah, jual harga diri tinggi gitu deh. Tapi sekarang kita temenan baik. Dia baik banget sama gue. Ternyata bener, orang yang paling lo nggak mau berteman sama dia, eh malah jadi temen baik akhirnya."

"Jadi, pernah suatu sore, gue kejebak sama doi. Gara-gara hujan. Kita neduh di tempat parkiran pasar tradisional gitu. Dadakan banget pokoknya. Dan disana banyak banget orang. Tapi masa bodoh, gue nggak peduli."

"Disana kita ngobrol banyak banget. Gue seneng hujan tetep turun selama dua jam. Gue bisa lihat senyum doi ke gue. Mata dia yang berbinar-binar. Sikap gentle dia yang nyuruh gue duduk aja di motornya, daripada gue pegel berdiri selama berjam-jam. Gue seneng banget hari itu. Itu hari Sabtu, gue inget banget."

"Hei sel kelabu! Lo ngedengerin gue kan? Lo bisa bayangin, kan gimana senangnya gue hari Sabtu bulan Desember itu?"

"Ah, lo kan pernah muda juga, wahai Sel Kelabu. Lo pasti ngerti gimana rasanya, gimana rasa meletup-letup itu ada di perut lo. Dan lo pulang ke rumah dengan senyum idiot bertengger di bibir lo semalaman."

"Bagi gue, hal-hal kecil kayak gitu yang paling berkesan. Bukan pemberian mewah seperti coklat mahal dan tetek bengeknya. Gue suka percakapan gue sama 'dia' saat kejebak hujan itu. Kita bisa ngobrol apa aja, ngalor-ngidul. Bicara soal keluarganya, soal kehidupannya yang lampau, terus kita sama-sama tertawa karena takdir kita yang dulu itu ternyata konyol. Dan ini titik puncak kebahagiaan gue, saat kita sama-sama tertawa."

"Gue lebih suka ngopi sama dia, terus ngobrol berjam-jam. Dapet sms selamat pagi yang bikin mood gue naik seharian. Naik motor bareng dia, dan cobain rute-rute ngaco yang belum pernah gue atau dia telusuri. Dianter dia ke perpustakaan kota, dia nungguin gue dengan sabar saat gue harus pilih buku apa. Ke kantin bareng sama dia, kadang-kadang dia beliin gue beng-beng. Ngobrol di depan koridor kelas saat jam istirahat. Dipinjemin jaket dia yang wanginya doi banget." 

"Tapi sel kelabu, gue nggak tahu kenapa akhir-akhir ini sedih banget. Gue juga nggak tahu kenapa. Sedih sendiri, ya sakitnya sendiri. Mau cerita ke siapa juga percuma. Lo juga pasti bosen kan nina boboin gue tiap malem dengan mata bengkak dan sesenggukan. Intinya, gue sedih. Dan, gue nggak tahu harus apa." 

"Sel kelabu, please gue harus gimana?" 

Sunday, February 23, 2014

[Radio] Makhluk Muda FM airing bareng @GOMBRANGBDG!

Asik banget kalau udah dengerin streaming mereka setiap sabtu malam jam 18.00-21.00 di mah-mud.com *visit ya guys! :)*
Tujuan tulisan disini adalah ingin memperkenalkan radio streaming kita. Hasil bentukan teman pas smp. Awalnya radio ini namanya tigaradio, namun kami berevolusi jadi mahmudFM, mahmud ini sungkatan dari makhluk muda.

Ini ada beberapa foto teman-teman plus mamang gombrangbdg yang lagi siap-siap airing, minggu itu kita airing di cafe potluck kitchen di kawasan DU Bandung. Kebetulan aku lagi nggak ikut airing bareng mereka, sedih kan :(



Pokoknya seru banget! Wajib dengerin stramingnya setiap hari sabtu malam, pukul 18.00-21.00 WIB. Lumayan kan nemenin yang jomblo-jomblo di rumah. Boleh juga dibaca artikel-artikel terbaru kami, di mah-mud.com

Buat apa sabtu malam di rumah, ngelamun nggak ada kerjaan? Nungguin sms atau chat si doi yang slow respon? Mending dengerin kita streaming. Radio streaming yang kekinian dan selalu setia menemani setiap sabtu malam kamu, hanya di mah-mud.com!

[Assignment] Leaflet

Judulnya sok inggris banget ya, padahal kalau kata orang sunda mah, bahasa inggris aku masih amburadul :( *skip*
Jadi aku ingin post hasil leaflet (brosur) tentang kota Cimahi, tempat rumah si mama dan si papa. Leaflet ini hasil karya aku dan teman sebangku aku, Patricia Jesslyn. Kita ngerjain ini ngebut banget, dikejar deadline, sampai harus begadang-begadang segala :( 

Tujuan dari dibuatnya leaflet kota Cimahi ini adalah, tak lain dan tak bukan agar nama Kota Cimahi terangkat \(≧o≦)/ supaya banyak orang di Indonesia tahu bahwa kota Cimahi ada kota yang tjuantik dan ketje. Here it goes! 




 [abaikan coretan di meja]
























Leaflet kita, dan grammar bahasa inggris kita emang masih jauh dari kata sempurna. Tapi yang penting kita udah maksimal, kerjainnya sampe tertatih-tatih *y ajadeh* 

Sunday, February 16, 2014

Tugas Melukis

Ingin aja nge-post lukisan aku sama temanku. Ini tugas seni kami, jadi kami di kelas dibagi jadi 4 orang per-kelompok, dibagi secara acak. Dan aku kebagian kelompok sisa, jadi kami ngerjainnya berdua. Agak suram sih, tapi ternyata kami hanya harus gambar 2 karton yang dibagi dua terus dijadikan satu, nggak seperti kel. lain yang harus gambar di empat karton lalu disatukan. *HAHAHA*

Kita gambar bunga, lukisan bunga ini aliran surrealisme. Pertama, medianya kertas karton.
Terus kami pindahkan ke kanvas, dan ini hasilnya. 
*) ini dua gambar dari proses melukis yang melelahkan dengan media canvas. 

*) gambar yang ini, bagian atas medianya kertas karton, masih diwarnai pakai crayon. Gambar yang kedua, medianya kanvas, sama temannya cat lukis. 

Itu gambarnya sungguh agak absurd, dan kami ngerjainnya sepenuh tenanga karena disela sama tugas-tugas yang membabi-buta lainnya :( *agak lebay* 
Tapi bagi aku, walaupun gak jago mewarnai atau menggambar, coloring is such a fun activity. 



Thursday, January 30, 2014

Racauan : People and Effort.

Kesel. 
Itu sih kata-kata yang pas kalo saat-saat itu dateng. 

Pernah nggak sih ngerasa kesel sendiri? Padahal orang lain ngebuat semuanya jadi super ribet buat mood kita. Saat ada orang lain yang minta bantuan ke kamu, sementara keesokan harinya pas kita minta bantuan dia, dengan malas-malasan dia bergerak buat membantu. Atau mereka sama sekali nggak ngebantu kita, dengan berbagai genre alasan yang bikin muak.

Tunggu dulu, konteks disini bukan berniat negatif atau jelek-jelekkin seseorang, cuman ingin menumpah ruahkan aja, sih. Bukan juga kalau kita ngebantu seseorang, orang tersebut harus memberi imbalan balik. Sama sekali nggak. Aku seneng banget selagi bisa, aku bisa banu orang yang bersangkutan. Cuman, kenapa sih saat kita butuh, saat kita minta tolong, kesan mereka ke kita itu nol besar?

Dan aku sering menemui orang-orang seperti itu. 
lempar orangnya ke kali Ciliwung
*hembusin nafas*
*elus dada*
*do'ain orangnya semoga sadar*

Between people and effort actually make me confuse to the most. 

Friday, January 24, 2014

Mampir ke gedung Kompas

Jadi itu hasil jepretan kamera hp aku yang kurang bagus, saat mampir ke gedung Kompas Gramedia. 

Mampir? 
Iya. Jadi waktu itu aku kan iseng ikut seleksi Kompas Muda. Trus aku kirim CV-ku. Dan alhamdulillah lolos seleksi CV dan dipanggil untuk wawancara di gedung Kompas.

Foto yang pertama itu ada anak-anak lain yang lagi nunggu giliran wawancara. Foto yang kedua diambil pas aku sama temenku (kami dipanggil wawancara) keliling gedung Kompas. Gedungnya enak banget, bikin betah, apalagi waktu kesana pas lagi hujan deras. Foto yang ketiga diambil dari kaca jendela yang mau naik ke lantai entah laintai berapa. Yang keempat, foto aku sama chuck taylor yang udah buluk dan udah singgah kemana-mana.

Walaupun belum keterima jadi kompas muda batch V, tapi seneng banget.
Kenapa? Kok malah seneng?
Karena aku dapet pengalaman baru dan bisa mampir ke gedung kompas.
Sekian *kemudian tertawa sendiri*

Somebody Out There

When those feelings come to me suddenly, i do not have no idea what must i do. I just write and listen. Mostly to the song which can makes me get better. So here's the sweet song i listen everytime i get down. Somebody Out There from A Rocket To The Moon. 



You deserve someone who listens to you
Hears every word and knows what to do
When you’re feeling hopeless lost and confused
There’s somebody out there who will

You need a man who holds you for hours
Make your friends jealous
When he brings you flowers
And laughs when he says they don’t have love like ours
There somebody out there who will

There’s somebody out there who’s looking for you
Someday he’ll find you, I swear that its true
He’s gonna kiss you and you’ll feel the world standstill
There’s somebody out there who will

He’ll take you dancing and pull you in close
Spin you around and won’t let you go
Till they turn the lights off and he’ll take you home
There’s somebody out there who will

There’s somebody out there who’s looking for you
Someday he’ll find you I swear that its true
He’s gonna kiss you and you’ll feel the world standstill
There’s somebody out there who will

Tossing and turning and dreaming at night
About finding him and praying and hoping you might
‘Cause you deserve someone who knows how to treat you right

I know he’s out there
He’s looking for you
Someday he’ll find you I swear that it’s true
And he’s gonna kiss you and you’ll feel the world standstill
Oh

You need some who’ll miss you
Hold you and kiss you
There’s somebody out there who will

Racauan : Setiap apa-apa memiliki warna.

Oke, jadi kali ini saya ingin meracau tentang warna. 

foto diambil dari tumblr dengan search : colour 

Tulisan ini lebih ke personal sih sifatnya, lebih ke pikiran random saya yang tiba-tiba muncul. Yang sebenernya sering banget muncul, tapi menguapnya juga sering banget. 

Menurut saya, setiap apa-apa itu punya warna. Misal, kalau saya pulang ke rumah, saya ingat tentang mama atau papa atau saudara perempuan saya. Nggak hanya harumnya yang khas, setiap sosok tersebut juga memiliki warna yang mencerminkan dirinya. Kalau saya ingat mereka, saya teringat warna putih tulang. 
Mengapa harus warna putih tulang? Entahlah. Itu yang saya maksud pikiran random yang sering banget muncul. Putih tulang itu rasanya lembut dan suci. Nyaman dan juga nggak buat saya merasa asing. Kalau mencicipi kue bolu buatan mama, saya ingatnya warna putih tulang. Kalau sedang baca buku berdua dengan papa, suasana momen itu warnaya putih tulang. 

Banyak orang bilang, "I'm feeling blue, ugh." i don't think so. 
Kenapa istilah galau punya frase feeling blue? Apa kebanyakan orang kalau lagi bergalau ria, yang ada di awang-awangnya warna biru semua? Jawabannya, saya nggak tahu. 

Warna biru kalau menurut saya, identik dengan suasanya yang tenang. Tenang dan damai. Seperti waktu kecil saya duduk di atas lapangan hijau di sore hari pukul empat, lalu langit biru muda tanpa awan, memenuhi pemandangan mata saya. Lalu ditambah angin yang sepoi-sepoi membaur dengan suasana. Rasanya damai dan tenang. Bukan galau yang sampai bersedih-sedihan. Malah saya ingin berlama-lama rebahan di lapangan hijau tersebut.
Warna yang pas untuk bergalau ria itu ya warna semrawut, yang nggak karuan, yang dicampur ini-itu sehingga jadi nggak jelas. 

Kalau ingat hujan, saya ingat warna abu-abu dan putih. Saya bukan penggemar hujan sih, bukan juga nggak suka sama hujan. I'm not really addict to it. Kalau hujan, ya itu berkah. 

Kenapa harus abu-abu dan putih? Kenapa nggak hitam saja? 
Karena setiap hujan, momen yang hadir lebih kuat. Entah itu momen duka atau momen suka. Kalau momen duka, saya ingat-ingat itu dan tersenyum meringis. Lalu warna yang muncul jadi abu-abu. Momen itu pahit, seperti kopi hitam, tapi itu masa lalu. Lalu hujan yang datang mengingatkan itu menyadarkan saya bahwa itu suatu pelajaran, dan masih ada masa depan membentang yang lebih baik. Semuanya identik dengan abu-abu, nggak pahit nggak manis. 
Kalau putih, saya jadi ingat momen suka saya. Momen bahagia sama mama, papa, adik-adik. Momen seru-seruan sama sahabat. Momen sama si doi. Semuanya putih, membahagiakan. Dan hujan yang hadir membuat momen itu lebih kuat, entah kenapa. 


Dan saya selalu setuju, bahwa setiap apa-apa itu punya warna. Bukan warna dari objek tersebut, tapi warna yang ada di pikiran saya, warna yang melingkupi objek atau suasana tersebut. 

Gimana menurut kamu? Apa hal-hal random yang kamu ingat tiba-tiba ingat sama suatu warna? Apa momen sedih waktu itu ada warna tersendiri? Apa momen bahagia sampai kamu ingin berteriak dan jingkrak-jingkrak itu juga punya warna yang mengingatkan kamu? 

Thursday, January 2, 2014

Catatan Kecil : Papa

Kalau membicarakan orang tua, tentang kerja keras mereka, rasanya saya ingin menangis. Seminggu ini pun, sepertinya saya terlalu banyak menangis gara-gara menonton film, yang ada kaitannya dengan orang tua. Oke, sebut saya ini lebay atau dramaqueen. Tapi jujur, kalau ingat orang tua, ingat mama, ingat papa, saya bisa menangis sekejer-kejernya. Masih merasa malu sama diri sendiri, belum bisa kasih yang terbaik untuk mama papa.


Papa. One in a million. Cinta pertama saya. Yang selalu bawel dan cerewet di telefon kalau saya sedang nggak ada di rumah.
'Cepat pulang, anak perempuan nggak boleh pulang malam.'
'Mbak, pulang udah malam.'
'Mbak diluar udah makan belum?'
ah, rasanya senang sekali di recoki oleh bertubi-tubi perasaan khawatir papa seperti itu. Nggak ada laki-laki yang seperhatian papa kepada saya. Nggak ada laki-laki yang sesayang papa kepada saya. Nggak ada laki-laki lain yang selalu dukung saya, dalam kegiatan apapun, selain papa saya. 

Papa nggak pernah pukul saya. Saya sangat tenang kalau duduk berdua dengan papa membaca buku. Atau berdebat tentang ini-itu. Atau berbicara mengenai kerajaan Majapahit (papa saya senang membahas ini). Atau tentang buku-buku jaman dulu. 
Saya ingat sekali waktu balita, kepala saya dielus-elus sampai saya tertidur pulas. Bahkan sampai umur saya menginjak 16 tahun ini, saya masih sangat ingat bagaimana rasanya. 


Papa agak keras dengan agama. Dan saya yang bandel ini masih merasa berdosa, jikalau saya keluar pagar rumah nggak memakai jilbab. Papa yang selalu diam-diam membuka handphone saya, membaca pesan saya, siapa laki-laki yang mengirimi saya pesan. Papa yang khawatir tentang anak-anaknya. 
Papa itu laki-laki nomor satu untuk saya. Yang membiayai saya sekolah, yang memberi nafkah, yang bekerja sampai berpeluh-peluh. Papa adalah panutan saya. Papa pintar mengaji. Papa banyak hafal surat-surat di dalam Al-Qur'an. Papa yang menjunjung tinggi tentang kesucian. Papa yang suka buah belimbing. Papa yang sangat sayang sama mama. Papa yang sangat sayang kepada anak-anaknya.

Papa yang nggak gendut, nggak kurus. Papa yang gemar membaca. Papa yang mengelus-elus kepala saya. Papa yang pendiam. Papa yang humoris. Papa yang bekerja keras. Nggak ada kata-kata untuk mengungkapkan lebih, selain 'aku sangat sayang papa. aku sayang papa'.

I love you, pa. I love you.