Pages

Thursday, April 10, 2014

[Sekitar Buku] Favourite part in The Graveyard Book

"Ah gila, keren banget."
"Serem abis."
"Ya ampun bagus banget."

hahaha, itulah monolog saya ketika membaca buku ini. Buku yang berjudul The Graveyard Book. Salah satu buku favorit saya, karena demi alam semesta buku ini manis sekali, dan jenius dalam satu paket. Dan, ada salah satu part favorit saya yang ditulis dengan sangat cantik dan menawan oleh si penulis.

ini dia,

"Hari itu hari musim semi yang sempurna, dan udara hidup oleh kicauan burung dan dengungan lebah. Bunga-bunga daffodil bergemerisik dalam tiupan angin sepoi dan di sana-sini, di lereng bukit, beberapa kuntum bunga tulip yang mekar lebih awal mengangguk-angguk. Bunga-bunga forget-me-not biru mungil yang tersebar dan bunga-bunga primrose kuning yang indah dan gemuk menyelingi warna hijau lereng sementara kedua anak itu mendaki bukit ke arah mausoleum kecil keluarga Frobisher. " -- hal 63, The Graveyard Book, karya Neil Gaiman. 
saya suka sekali dunia dongeng dan isi di dalamnya. Hamparan bunga di atas bukit, musim semi yang indah, peri-peri dan lain sebagainya. Dan ketika ketemu dengan penggalan novel itu, saya jatuh hati. Begitu jenius dan manis novel yang ditulis oleh Neil Gaiman ini :)

Saturday, April 5, 2014

none.

i know it can't make you melt, feel a butterfly in your chest, or a cheesy and creepy things like those. i just hope you will read it, and smile for it, then remember me. i hope you smile.

“When we hold each other, in the darkness, it doesn't make the darkness go away. The bad things are still out there. The nightmares still walking. When we hold each other we feel not safe, but better. "It's all right" we whisper, "I'm here, I love you." and we lie: "I'll never leave you." For just a moment or two the darkness doesn't seem so bad.” 
― Neil Gaiman, Neil Gaiman's Midnight Days

as usual, i have sent you my favourite conversation from Laura and Max-my favourite charcter in Melbourne.
and in this letter, just imagine i said the convers in Neil Gaiman's Midnight Days.
i hope you understand this, and don't get confused.
i love you, and i hope that we wont lie as the text said before.
i love you, goodnight.

to : you-know-who, Mr.30

Tuesday, April 1, 2014

Surat Untuk Mantan

Surat ini diikutsertakan untuk lomba #SuratUntukRuth novel Bernard Batubara.


   
            Teruntuk, lelaki September.

Sebuah lagu berjudul ‘September’ tadi malam terputar di radio secara tidak sengaja. Lalu aku tiba-tiba saja tersentak, dan pikiran melayang, mencari kotak lama tentang kita. Yang sekarang label ‘kita’ sudah kadaluarsa dan tidak ada. Lalu dengan ditemani lagu ‘September’, remang jalanan malam, kegelapan di dalam mobil, juga tetes hujan yang menyumput malu dibalik lampu-lampu jalan, aku tersenyum. Entah aku pun tidak bisa mendefinisikan arti senyum itu apa dan karena apa. Semuanya begitu tiba-tiba. Lagu itu seakan badut yang mengagetkanku yang sedang melamun di tengah keramaian taman bermain.

            Ini hanya basa-basi kata berstampelkan surat.

            Terserah apa kamu sudi membacanya atau tidak.

            Kamu, laki-laki yang aku kagumi daridulu. Kita pernah punya angan-angan konyol akan tinggal dalam rumah yang sederhana. Saat semua itu tersebut pukul stengah enam sore, rebahan berdua di tanah lapang, dibawah langit yang beranjak senja. Burung-burung, bahkan layang-layang pun sedang menertawakan kita sepertinya. Betapa dua insan muda itu dimabuk roman hingga kepayang.

            Kamu, seseorang yang pernah bersamaku merasakan teori-teori dangkal di buku roman kesukaanku. Yang pernah mengisi percakapan sepertiga malam hingga ujung jendelaku pun cemburu. Yang pernah tertawa dan menari bersama, seperti penghuni rumah sakit jiwa dibawah langit yang sedang deras-derasnya menangis.

            Lagu tadi malam juga membuatku pilu seperti teriris sembilu. Mengenang kembali pijakan kita dulu. Rasanya, aku ingin berteriak saja. Hingga seluruh isi perutku memberontak keluar. Hingga kepala ini pecah. Hingga air mata ini bercampur adu dengan darah. Mengingat kandasnya kita, beralasankan Tuhan kita yang beda. Tentang berbedanya jalur, dan pertentangan keluarga. Dan bahkan, tinggal berdua dalam rumah sederhana pun kini sudah basi. Seperti sebongkah nasi dua hari di atas meja.

            Tetapi kamu, masih tetap laki-laki yang aku kagumi. Kamu mengajariku untuk tetap berada di jalur sebagaimana mestinya. Kamu yang bersikukuh untuk menuruti kemauan ibunda mu tercinta, bahwa cinta kita mutlak terlarang. Dan kamu juga mengajariku untuk tidak terlalu carut-marut menghadapinya. Bahwa kelak, kalau Tuhan mengizinkan, kita akan mengucap janji setia berdua hingga mati. Dan lagi-lagi, kamu juga mengajariku untuk ikhlas.

            Sudah dua tahun ini kata-kata ikhlas itu, aku harap senantiasa menjadi teman terdekatku. Dan hari ini, tanggal 13 September, aku menuliskan ini untukmu. Hanya Tuhan yang tahu apa kamu sempat singgah untuk membaca ini apa tidak, di hari jadi kita yang ke lima tahun-seharusnya.

Perempuan yang jatuh cinta pada lelaki September.