Pages

Friday, October 26, 2018

Nothing.


“Reality will break your heart
Survival will not be the hardest part
It’s keeping all your hopes alive
All the rest of you has died
So let it break your heart.”

The lyrics really hit me when I heard it.

I know that all of the people in their life might face all of the hated and unlucky events. And what we gotta do to face it all is just let it be, let pass and let it go. But it’s not as easy as what It sounds.

I’ve been mentally and physically abused by someone. It just, very remarkable to myself of what he did. Until now that I’m still trying and learning how to open up with someone, how to be part of their life, how they’re going to fill my life, again.

It’s so hard.

I’m out of words.

But I accept all of the grief he gave me, all of the wounds he left in my heart. If I don’t accept it, it always haunted me everytime like a ghost. It’s really painful. Even after all these years, everytime I write this, I cry.

I let myself break,
By his words
By his actions
By everything he did to me. I let it break.

You know what it’s like to be a new part of me now? I feel numb.
In several part of my life, I didn’t feel happy or sad anymore If I let someone new came to mylife. I just don’t know why. I don't know how to react anymore. It just hurt so bad.

Monday, October 22, 2018

Limbah Plastik. Musuh atau Kawan?


Gemas, dan masih seperti anak tk harus bertindak apa.

Kecuali dimulai dari diri sendiri, untuk mengurangi penggunaannya.

Malam ini, melepas penat di hari senin, izinkan aku, semesta, untuk sedikit menuliskan keresahan dan kegelisahan yang ada.

Semenjak menjadi seorang mahasiswa, dahulu kala, pikiran ini terbuka karena lingkungan seolah-olah ingin menjodohkanku akan kepahitan dan realita hidup di dunia ini. Salah satu permasalan yang sangat men-trigger diri ini adalah limbah plastik.

Sejauh ini, beberapa penelitian yang coba aku garap dengan tim dan kawan-kawan memang berada di hal seputar pengolahan limbah dan energi terbarukan. Entah kenapa, aku selalu penasaran tentang teknologi pengolahan limbah, yang tak jarang secara vital memanfaatkan beberapa makhluk hidup sebagai pengurai nya (let’s say bakteri-bakteri tertentu). Aku takjub, bahwa dengan perpaduan alam dan otak manusia, permasalahan dapat diatasi. Tak hanya itu, beberapa teknologi lain tanpa melibatkan organisme kecil pun banyak sekali.

Back to topic, plastic waste. Ugh.

Banyak sekali headline, judul artikel, jurnal-jurnal yang membahas limbah plastik yang telah mengotori lautan dan samudera, mempengaruhi rantai makanan makhluk hidup, dan lain-lain. Judul-judul tersebut sangatlah ironis, tanpa diimbangi dengan judul-judul penemuan yang berkaitan dengan pengolahan limbah plastik. It’s so unfair. Seolah-olah bumi ini berada di ambang kehancuran, tanpa ada manusia-manusia yang sangat berjasa yang telah melakukan perubahan demi mengurangi limbah plastic. Internet nowadays is a huge monster for everyone.



Sumber : Website National Geographic Indonesia
Aku pernah bertanya mengenai permasalahan ini dengan salah satu kakak tingkat yang bekerja di industri petrokimia penghasil biji plastik. Aku tanya, memang industri tidak membuat plastik yang ramah lingkungan? (waktu degradasi yang relatif lebih singkat). Beliau menjawab, ‘sudah, tapi ongkos produksi memang lebih mahal, perbedaan rupiah yang sangat sedikit itu impactnya gede banget ke pasar. Pasar akan lebih milih produk yang lebih murah dengan fungsi yang sama’.

It’s so hurtful to hear that.

Membuktikan bahwa, ada manusia-manusia di dunia ini hanya benar-benar ingin menumpang hidup tanpa peduli limbah yang mereka hasilkan setiap hari. Berapa banyak sedotan plastik yang kita gunakan sekali pakai tanpa pikir panjang itu akan berakhir bermuara di lautan tempat kita memperoleh ikan untuk kita makan? Berapa banyak kantong kresek yang kita gunakan sebagai tempat penampungan sampah? Berapa banyak wadah plastik makanan yang kita gunakan sekali pakai agar urusan perut kita terpenuhi?

Sebagai manusia yang menjunjung tinggi realita hidup, fenomena tersebut adalah hal yang nggak dapat dihindari oleh diriku sendiri. Dari situ aku mulai mengolah emosi, menata pikiran, bahwa kecepatan limbah plastik untuk menghancurkan bumi ini bersifat eksponensial, sementara manusia-manusia yang mengurangi penggunaan palstik, kampanye pengurangan limbah plastik, teknologi pengurai limbah plastic, semuanya memiliki kecepatan logaritmik. We have to admit it the way it is.

Kadang mikir juga, ada beberapa teknologi pengurai limbah plastik, seperti jamur dan ulat pengurai limbah plastik, atau plastik bio-degradable yang terbuat dari kulit udang, and so on. Tapi pergerakan itu ngga masif, seolah-olah pemerintah, sebagai pemegang kekuasaan dan pelaksana suatu gerakan, bungkam dan tidak peduli bahwa hal tersebut penting dilaksanakan mulai dari sekarang. Is it me who think this way? That, our government isn’t pay attention much into this case?



Kamu.


Kami sama-sama dua orang remaja menuju dewasa yang acap kali bingung.
Ada rasa yang sulit aku gambarkan, ketika aku bisa bertatap wajah dengan kamu.
Kenapa?
Karena jarak.
Ketika aku diberi Tuhan kesempatan untuk bertemu denganmu, jujur aku bingung harus berkata apa.
Tapi aku pun bersyukur, karena jarak ada, jadi ketika kita bertemu,
pertemuan kita lebih bermakna.
Entah di warung makan pinggir jalan tempat kita makan nasi goreng, pecel ayam,
atau hanya pertemuan singkat di kotamu,
atau di kota ku.

Terima kasih sudah mau pergi bersama, sore itu ke tempat yang sangat ingin aku kunjungi.
Walaupun hujan dan kita berdua hanya pakai jaket jeans kita. Nekat!
Kadang ada beberapa hal di hidup ini untuk dilalui dengan modal nekat,
tapi tetap dengan pikiran yang waras. 

Mungkin kamu bosan, terus mendengar ocehanku untuk keseharianmu di Ibu Kota sana.
Jangan lupa minum air putih, kurangi makan gorengan, dan sebagainya.
Ketahuilah, aku hanya mencoba menaruh rasa sayang yang terpaut jarak...



Kamu ingat malam-malam kita di Bandung, berkeliling menggunakan motorku waktu itu?
Aku ingat kala kita berteduh di warung tempat kamu membeli segelas kopi hangat.
Aku ingat perjalanan yang terasa panjang di dalam kereta menuju kotamu,
pun aku ingat rasa ketika aku harus kembali ke Bandung,
dan pamit darimu di stasiun itu.
Kamu ingat kamu belanja apa saja di supermarket menggunakan voucher sakti-mu itu?
Kamu ingat aku yang rewel ingin makan seafood ketika sesampainya aku di Jakarta?
Kamu ingat betapa aku luar biasa panik ketika pertama kali bertemu keluargamu?


Cepat pulang... 
aku tunggu di Bandung.
Aku ingin terus selalu beriringan denganmu, 
saling mengingatkan
saling membahagiakan
saling menguatkan
saling menertawakan lucunya hidup ini.
Cepat pulang sayang.

Sunday, September 2, 2018

Love, Eveline.


Hello universe!

Been so long I don’t write. Basically, I went to my real-life and spend my time mostly there. You know what? I miss spending all day and night being home. Being dad and mom’s girl. But I’m 21 now, I have to face the world.

I love being outside. Hanging out with friends, doing amazing things and stuffs…. But I love being at home most. Watching Netflix, tv series that I fan girl like crazy. I hate how the government blocked Tumblr. My youth is wasted on Tumblr and I’m so happy about it. Now that I’m unable to escape from my reality. I love seeing the side of the other world via Tumblr. I love being there. If I could possibly turn into a person that live in social media, I would pick tumblr in the first place. I love it most it made me mad.

I’m a graduated college student now. Officially I could call myself as an early engineer. Back to when I was in junior high school, never imagined I will be what I am now. Back when I was truly happy. Universe, I miss my teenagehood. I miss my best friends. I miss that I don’t have to do all these creepy tasks. I miss that all I can worry about is I need another novel to read next.

Taylor Swift’s songs and facebook photos could warm my mind that I have good old days, and this time will pass, this will be alright.

Universe, being an adult is sucks.

I miss when I was 13 years old. But how can I turned back into that time anymore.

Universe, please hold me thight to face the world. Please keep sending me good friends to keep me alive.

Universe, I have to go back to work. Goodbye, see you later.



Love,
Eveline.

Sunday, June 24, 2018

The Girl.


She’s waiting patiently inside that coffee shop where they’ll align to meet. Somehow the girl do the things she almost didn’t do. And she did that for almost hundreads times. How it aches her so bad, she’s completely tolerate that. But she can’t do that and hand him over all her life. It’s way too much risks she couldn’t bare perhaps.

She’s waiting patiently inside that coffee shop where they’ll align to meet. She ordered a rose tea. She like it because it feels relaxing, and sweet-smelling. And finally he came to her. With a dust surround him by 4-pm gold sun-lighting behind his messy hair.

She smiles.

He urge the chair in front of her to sit.

“Hey” he said then smile. That smile, that laugh she miss.

It feels, he mesmerizes her just by the way he is just he is, “Hello!” She smiled back.

It reminds her how time flies, the first time they met without a purpose, just a stranger each other, the way he gently came over her and soon talked about everything. She thought that, this wasn’t right, she knew. But it’s not easy not to fall for him. He’s everything she’s been waiting all this long. A lover and a best friend she knew she needed. But deep inside she knew this isn’t right.

But how she could bare her own feelings for him?

“You still remember my favourite coffee shop in town, how can!” She said.

He laughs, “Of course I do. This coffee shop, and you in it ordered not a coffee but a tea instead. Weirdo.”

She laughs, “You know I love to break a trend.”

Universe know she loves him badly.

Saturday, June 2, 2018

You


You came to me afterall

With your intention of who you talking to

And I’m falling to you

You came all of sudden and still I’m not impressed by how you smile at me

Or doing such a kind things, I’m not still

But the way we had our convo, those early mornings or late midnights, I felt tenderness in ourselves

I felt we’re barely strong and we need someone to rely on

To share stories through our days in different city

And I’m falling…

Deep

Deep

By our days together in such different background

I am me, you are you

The way I fell, it aches me

And you made me feel those emotions I’ve never been again

So it was like I opened up my box present that I kept under my bed years ago

After all those painfull years, you came

But I don’t know what it might be… in next next years

I just hope I’m not gonna fall hard

I hope you’ll understand why I’m not so open up person

I hope you’ll change

Because when you pay yourself to others, honestly I feel pain inside my chest

I’m so childish I know

But you came to me afterall, and brings those emotions again

Say to me I’m not wise at the moment, but

Should I say thanks and stay or go away?

Monday, March 5, 2018

Pengemis dan Berlaku Benar

(pic source : Tumblr)

Jalanan selalu penuh dengan orang-orang dan cerita-ceritanya.
Jadi pada suatu siang yang panas terik (ceilah!), aku sama kawan dari bandung lagi ada di luar kota. Kebetulan kami lagi magang, dan ya jalan-jalan sedikit di kota tersebut untuk sekedar tahu seperti apa kotanya. Kebetulan, temenku ini lagi ingin beli oleh-oleh buat keponakannya. 

Trus nih, ketika kami lagi di suatu toko untuk keperluan magang kami, tiba-tiba ada dua orang anak sekolahan (I guessed this because they were wearing uniform) mendatangi kami, dan menadahkan tangannya untuk meminta uang kepada kami.

Entah kenapa anak tersebut mendatangi aku sama temennku ini, mungkin mereka berpikir orang dewasa lebih bisa ‘memberi’atau entah penampilanku sama temen ini dari orang pendatang banget apa gimana. Never get the answer. Salah satu anak dari keduanya itu lagi memegang minuman di plastik gitu, semacam teh manis dingin. Kind of. Lalu aku mikirlah disitu, “ini anak pakai seragam lengkap, sandal juga pakai, bisa beli jajan, tapi kenapa minta-minta ya?” sekelebat pikiran yang mengkotak-kotakkan tindakan manusia untuk memberi.

Temanku kasih uang recehnya ke mereka. Sembari temenku mencari uang recehnya ini, aku tanya ke anak yang bawa minuman tadi,
Aku     : “Dek, kelas berapa?”
Adik    : “Kelas 6 kak.”
*amazed*
Aku     : “Ooh kelas 6, sebentar lagi ujian dong ya?”
*si doi ngangguk*
Gatel banget ingin nanya, orang tuanya kemana, atau walinya kemana. Atau untuk menasihati bahwa meminta yang kesannya seperti pengemis itu sebenarnya tidak baik. Tapi semua itu aku tahan. Rasa-rasanya juga nggak etis ngomong gitu di depan orang banyak.
Aku     : “Okey dek belajar yang bener ya, biar jadi orang sukses.”
Kemudian si doi dahinya mengkerut, mencoba menafsir kali ya apa yang aku katakana barusan. Kemudian ngangguk dan pergi sama temennya setelah dikasih duit receh sambal ketawa riang (halah dek-dek jadi kangen bahwa bahagia se-sederhana itu.)

Somehow masih bingung juga apakah tindakanku untuk nggak memberinya uang receh adalah benar. Kalau aku boleh milih antara yang baik dan yang benar, aku pilih benar. Karena yang baik belum tentu benar, tapi kalau benar insya Allah itu baik. Aku nggak ingin aja, adik-adik seperti tadi yang bersekolah dan bertubuh lengkap (I mean, nggak disfungsional) meminta-minta. Mungkin orang tuanya nggak memberinya uang lebih untuk sekedar jajan atau bagaimana, aku nggak tau. Tapi alangkah baiknya tindakan memberi kepada mereka-mereka yang masih mampu untuk bekerja itu dikurangi.

Pernah juga nih baca thread di sosial media yang membahas tentang ini. Sebenernya bahasan ini sangat pro-kontra. Ada yang berpendapat mungkin nggak semua orang yang mampu itu dapat kesempatan bekerja walaupun dia sudah berusaha, jadi masalah kita memberi itu dijadikan sedekah, yang penting kita ikhlas bahwa itu pure sedekah. Dan banyak yang berpendapat bahwa “Mereka dapat dunia dan kamu dapat akhirat.”

I still don’t get the point and I do not agree of that.

Maksudku, entah mungkin karena di Bandung juga banyak pengemis dan mereka sehat walafiat, bahkan katanya sehari bisa dapat ratusan ribu, dan realita itu membuat aku berpendapat bahwa ‘memberi’ kepada pengemis bukanlah jalan keluar yang benar. Malah aku kagum sama kawanku yang setiap ada kucing liar, yang minta-minta pas dia makan (biasa lah, kantin di kampus) dia selalu kasih, padahal kadang itu kucing diusir-usir sama aku dan orang-orang lainnya. Trus aku nanya ke temanku itu
‘bang, kenapa kucing liar itu selalu dikasih makan disini? Kan ntar balik-balik lagi’ trus kawanku itu jawab
‘vel, kalau kita ngasih, pahalanya gede banget. Kucing kan salah satu binatang kesayangan Rasul. Aku gemes juga sih sama kucing hehe’ (okay).
Dan jawabannya itu menohok banget ke aku. Yang selama ini menganggap kucing yang datang ketika makan itu mengganggu banget. Nggak kepikiran, mungkin kucing itu media Allah bagi aku untuk ‘bersedekah’ dengan benar.

Jadi, ketika statement “mereka dapat dunia dan kamu dapat akhirat” dapat diubah, ketika kita mau mengedukasi mereka, setidaknya memberi pengertian dan tidak menggurui bahwa mengemis itu salah, mereka mungkin akan merubah dirinya. Mungkin mereka lama-lama akan tertohok dan merasa malu mengemis, dan mau untuk bekerja, even pekerjaan sederhana. Mungkin mereka akan paham apa esensi bekerja yang sesungguhnya dan berhenti untuk mengemis. Mungkin banyak orang mengemis saat ini karena semakin banyak juga yang memberi dengan anggapan sedekah. Sedekah yang benar itu banyak medianya, anak-anak yatim piatu, korban-korban perang di suriah bisa ditolong lewat ACT, korban bencana alam, dan lain-lain. Dan ketika hal-hal tersebut dilakukan statementnya berubah menjadi “mereka dapat akirat, kamu dapat akhirat dua kali lipatnya.”

Lebih enak kan?

Aku masih belum tahu gimana caranya mengedukasi mereka dengan benar, kecuali dengan cara having chit-chat dengan pengemis dan membuat percakapan tersirat bahwa mengemis bukanlah jalan keluar untuk dapat uang dan tidak memberi mereka uang, walaupun seringnya dijutekkin sama mereka.

I write this as a reminder to myself, and I hope that somehow the rate of beggar in this country will decrease.