sumber : tumblr[dot]com
Akhir-akhir ini saya sering
bertanya lebih kepada diri sendiri, sebenarnya hidup itu apa? Mengapa kita
hidup? Mengapa Tuhan ingin kita merasakan sedih dan bahagia? Menolong satu sama
lain? Bahu-membahu kala dibawah dan di atas? Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan
sok filsuf itu bertebaran di otak saya layaknya sedang terjadi perang dunia
ke-2, bom atom, petir menggelegar, hingga remahan biskuit tercecer kesana
kemari lalu membumbung kemudian membuncah.
Buncahannya itu merupakan
hari-hari yang meresahkan, mungkin di otak saya layaknya sedang terjadi hari-hari
Holocaust setelah terjadinya perang dunia ke-2 nan fiktif bin konyol tersebut. Sebenarnya
otak saya ini otak, atau apa? Ah saya pun bingung.
Kemudian setelah
pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul, kerap kali saya mengamati tingkah laku
orang-orang dewasa di sekitar saya.
Mereka berangkat pagi. Mereka
bekerja untuk bertahan hidup. Kemudian ketika masalah datang mereka menangis
tersedu-sedu, lanjut bekerja lagi seperti biasa. Saya bingung, lantas saya
terpojok di ruangan kelabu di otak saya, sendiri (bukannya otak itu ruang
kelabu?). Satu-satunya spesies di otak saya yang merasa kebingungan mengenai
orang dewasa itu. Lalu berbagai macam informasi masuk melalui mata saya, merangsek masuk melalui jembatan syaraf dan sampai di otak, menghampiri
saya, begitu sumringahnya ia menghampiri dengan terseok-seok. Aduh! Kasihan
sekali! Seperti mengejar kuliah pukul 6 pagi di senin pagi saja!
Ya, jawaban-jawaban tersebut
muncul seketika. Orang dewasa begitu karena memang mereka ‘harus’ seperti itu. Memang
sudah fase mereka ‘harus’ menghadapi segala apa yang datang. Itulah hidup. Saya
analis lagi mereka, ternyata menjadi dewasa begitu menyeramkan! Bayangkan saja,
mereka berangkat subuh buta; bahkan semut pun masih terhenyak disudut tumpukan
gula, sementara orang dewasa sudah berangkat bekerja, mencari uang, untuk
makan, untuk bertahan hidup, dan segala cucu-cicit alas an lainnya, kemudian
ketika mereka sedih, mereka menjerit lantas kembali seperti sedia kala. Bah!
Seperti robot saja lama-lama mereka ini, tak paham lagi aku.
Kemudian saya takut. Ternyata
menjadi dewasa sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi kala kau sendiri dan
kekasih hati belum datang. Haduh, memang kadang dunia ini kejam. Bayangkan
dengan usia lima tahun kita, apa-apa yang dikhawatirkan adalah kebingungan
mengenai permainan apa yang akan dimainkan esok sore.
Kemudian saya tersadar.
Ternyata saya sedang mengalami
datang bulan ketika semua pikiran sok filsuf bin absurd itu menjelma.
Menjelma menjadi hantu di dalam
otak yang acapkali menjadi teman bincang pukul 12 malam.
Memang luar biasa segala apa
yang wanita rasakan ketika datang bulan, banyak sekali hal-hal yang sepatutnya
tidak usah dipikir dalam-dalam. Sial, hormone ini ternyata yang mengatur saya,
harusnya saya yang mengatur mereka.
Lalu ketenangan tersebut datang
ketika saya membaca Qur’an. Entah kenapa semua perang, bom atom, petir
menggelegar, remahan biscuit sirna perlahan-lahan. Kekuatan spiritual itulah
yang saya yakin adanya tujuan Tuhan menciptakan apa itu hidup, apa itu orang
dewasa, dan apa itu otak saya yang absurd.
Sampai detik saya menulis ini,
saya masih merasakan sensasi luar biasa tenang ketika membaca Qur’an, sungguh
pemadam ampuh bagi emosi yang eksplosif di diri saya ini.
Sekian.
Bandung coret, 29 Juli 2016.
(pikiran absurd kala emang mie
tek-tek lewat di depan rumah)
