Pages

Friday, July 29, 2016

Perang dunia ke-2, bom atom, hingga remahan biskuit di otak saya.

sumber : tumblr[dot]com


Akhir-akhir ini saya sering bertanya lebih kepada diri sendiri, sebenarnya hidup itu apa? Mengapa kita hidup? Mengapa Tuhan ingin kita merasakan sedih dan bahagia? Menolong satu sama lain? Bahu-membahu kala dibawah dan di atas? Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan sok filsuf itu bertebaran di otak saya layaknya sedang terjadi perang dunia ke-2, bom atom, petir menggelegar, hingga remahan biskuit tercecer kesana kemari lalu membumbung kemudian membuncah.


Buncahannya itu merupakan hari-hari yang meresahkan, mungkin di otak saya layaknya sedang terjadi hari-hari Holocaust setelah terjadinya perang dunia ke-2 nan fiktif bin konyol tersebut. Sebenarnya otak saya ini otak, atau apa? Ah saya pun bingung.


Kemudian setelah pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul, kerap kali saya mengamati tingkah laku orang-orang dewasa di sekitar saya.
Mereka berangkat pagi. Mereka bekerja untuk bertahan hidup. Kemudian ketika masalah datang mereka menangis tersedu-sedu, lanjut bekerja lagi seperti biasa. Saya bingung, lantas saya terpojok di ruangan kelabu di otak saya, sendiri (bukannya otak itu ruang kelabu?). Satu-satunya spesies di otak saya yang merasa kebingungan mengenai orang dewasa itu. Lalu berbagai macam informasi masuk melalui mata saya, merangsek masuk melalui jembatan syaraf dan sampai di otak, menghampiri saya, begitu sumringahnya ia menghampiri dengan terseok-seok. Aduh! Kasihan sekali! Seperti mengejar kuliah pukul 6 pagi di senin pagi saja!


Ya, jawaban-jawaban tersebut muncul seketika. Orang dewasa begitu karena memang mereka ‘harus’ seperti itu. Memang sudah fase mereka ‘harus’ menghadapi segala apa yang datang. Itulah hidup. Saya analis lagi mereka, ternyata menjadi dewasa begitu menyeramkan! Bayangkan saja, mereka berangkat subuh buta; bahkan semut pun masih terhenyak disudut tumpukan gula, sementara orang dewasa sudah berangkat bekerja, mencari uang, untuk makan, untuk bertahan hidup, dan segala cucu-cicit alas an lainnya, kemudian ketika mereka sedih, mereka menjerit lantas kembali seperti sedia kala. Bah! Seperti robot saja lama-lama mereka ini, tak paham lagi aku.


Kemudian saya takut. Ternyata menjadi dewasa sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi kala kau sendiri dan kekasih hati belum datang. Haduh, memang kadang dunia ini kejam. Bayangkan dengan usia lima tahun kita, apa-apa yang dikhawatirkan adalah kebingungan mengenai permainan apa yang akan dimainkan esok sore.


Kemudian saya tersadar.

Ternyata saya sedang mengalami datang bulan ketika semua pikiran sok filsuf bin absurd itu menjelma.

Menjelma menjadi hantu di dalam otak yang acapkali menjadi teman bincang pukul 12 malam.

Memang luar biasa segala apa yang wanita rasakan ketika datang bulan, banyak sekali hal-hal yang sepatutnya tidak usah dipikir dalam-dalam. Sial, hormone ini ternyata yang mengatur saya, harusnya saya yang mengatur mereka.

Lalu ketenangan tersebut datang ketika saya membaca Qur’an. Entah kenapa semua perang, bom atom, petir menggelegar, remahan biscuit sirna perlahan-lahan. Kekuatan spiritual itulah yang saya yakin adanya tujuan Tuhan menciptakan apa itu hidup, apa itu orang dewasa, dan apa itu otak saya yang absurd.

Sampai detik saya menulis ini, saya masih merasakan sensasi luar biasa tenang ketika membaca Qur’an, sungguh pemadam ampuh bagi emosi yang eksplosif di diri saya ini.

Sekian.

Bandung coret, 29 Juli 2016.

(pikiran absurd kala emang mie tek-tek lewat di depan rumah)

No comments:

Post a Comment