Kopi
yang Laura pesan rasa-rasanya begitu bosan ingin segera dilahap oleh empunya.
Alih-alih meminum kopi, Laura begitu serius mengenai project kerjanya yang akan
jatuh tempo bulan depan. Carut-marut mukanya dan matanya menatap layar
laptopnya begitu serius. Sudah hampir tiga jam Laura berkutat dengan pekerjaannya,
dan tiba-tiba saja, saat ia mendongak, ia melihat sosok itu disana.
Iya,
dia. Di pojok kedai kopi ini, sama carut-marutnya dengan Laura.
Lantas,
hati Laura berdegup kencang. Benarkah itu
dia? Laura bergumam. Sosok itu begitu resah diatas sofa yang ia duduki.
Rambutnya kesana-kemari seakan tidak kerasan diatas sana. Lelaki itu serius
menatap layar laptopnya dengan berbagai macam buku di atas meja. Sekali ketika,
ponselnya berdering dan ia terlihat begitu frustasi menjawab penelponnya.
Laura
semakin tertegun. Semakin Laura menatapnya, rasa-rasa itu menyeruak kembali,
remah-remah kenangan yang telah lama hilang tiba-tiba saja datang tanpa
permisi. Laura terus mengamatinya. Lima tahun tidak bersua sejak lulus SMA,
disinikah mereka harus bertemu kembali? Sebagai orang yang sama-sama asing?
Entahlah, Laura sendiri menjadi resah saat ia harus melihat sosok tersebut.
Lantas, karena merasa diperhatikan, sosok itu mendongak. Tatapan mereka bertemu
dan ada jeda hening sesaat mengambang di tengah-tengah fatamorgana itu.
Beginilah rasanya, saat kau bertemu kembali dengan seseorang yang dulu pernah
berarti, ada rasa yang membuatmu seakan-akan jatuh begitu saja.
Laura
tersenyum, laki-laki itu balas tersenyum dan menghampiri meja Laura.
“Nathan.”
Bisik Laura
“Hai,
daritadi disini aja? Kok nggak sadar ya aku?” Nathan berucap.
Laura
tersenyum getir. “Iya, aku juga nggak sadar. Terus, kayaknya kenal sama yang
duduk di pojokan, eh taunya,”
Nathan
tersenyum, “Boleh duduk disini? Kosong, kan? Atau... ada janji sama orang lain?”
“Penyakitnya
nggak hilang deh, pasti curigaan melulu. Nggak kok, please have a sit.” Laura
mencoba mencairkan suasana.
Nathan
terkekeh, lalu mereka sama-sama diam, bergeming. Pura-pura sibuk menatap
sekitar mereka. Ada apa perihal semua ini, di sekian banyaknya kedai kopi di
Bandung, mengapa harus di kedai ini mereka bertemu? Terlebih sebagai orang
asing.
“Jadi...
apa kabar?” Nathan akhirnya memulai percakapan, mengakhiri kecanggungan.
“Great.
Kebanyakan jalan hidup aku sesuai yang aku inginkan.” Jawab Laura.
“Maaf
ya, aku belum baca novel ke-empat mu. Maklum, deadline kerjaan numpuk. Udah
jadi teknisi mesin sekarang?” Nathan bertanya lagi.
Laura
terdiam. Jadi selama ini Nathan membaca
novel-novelku?
“Jadi
kamu baca semuanya? Ya ampun, makasih ya, terharu deh. Iya nih, teknisi mesin
tapi kerjanya di media jurnalis, nggak nyambung banget, ya?”
Nathan
membelalakkan matanya, “Serius? Jadi kerja di media jurnalis sekarang? Wah,
kayaknya hidup kamu sesuai sama yang dulu dicita-citakan.”
“Ya
begitulah, perjuangannya nggak semudah yang dibayangkan. Hahaha, iya, cita-cita
yang sering kita omongin zaman SMA dulu ya di koridor sekolah? Ya ampun, udah
lama banget! Time flies so fast banget. Kamu gimana? Apa kabar sekarang?” Laura
bertutur seakan mereka teman lama. Seakan tidak ada jurang pemisah di antara
mereka. Seakan mereka tidak pernah menjalin komitmen dan hal-hal lainnya. Padahal
ia hanya menutupi kecanggungannya saja.
Nathan
tersenyum melihat tingkah Laura. “Jadi cita-citanya terwujud ya? Jadi penulis,
sarjana teknik mesin, kerja di perusahaan jurnalis. Cita-cita yang sering
banget diucapin pas pulang sekolah bareng. Hebat. Aku? Aku baik, kadang nggak
baik juga.”
“Kebiasaan,
suka over-thinking.”
Nathan
tertawa, “Jadi nostalgia, kan.”
Mereka
sama-sama tertawa, lantas terdiam, kecanggungan merebak kembali. Nathan permisi
untuk memindahkan laptop berserta tetek bengeknya ke meja Laura, Laura
menyeruput kopi untuk sekedar menutupi kecanggungan.
“Kerjaan
numpuk banget ya, Than? Kerja dimana sekarang?”
Nathan masih sama, harumnya, matanya,
ekspresinya saat ia merasa kewalahan...
“Aku
kerja di perusahaan IT sekarang.” Jawabnya ringkas.
“Wah,
keren. Jadi, cita-citanya udah terwujud ya? Sarjana teknik industri, kerja di
perusahaan IT.” Tambah Laura.
Nathan
menggeleng.
“Apa
lagi?” Laura mengernyitkan dahi. “Oh astaga! Belum ke old trafford ya?”
Nathan
tertawa lalu mengangguk. “Masih inget aja. Bener banget, belum kesana, belum
puas rasanya. Jadi setelah tumbuh jadi wanita sukses, kapan nih nikahnya?”
Tiba-tiba
saja pertanyaan itu melayang begitu saja dari mulut Nathan. Sedikit membuat
Laura tersentak.
“Hahaha
apaan sih, calon aja nggak punya. Kamu kali, kapan nyebar undangan?” dengan
menutupi kegetirannya Laura berkata demikian.
Andai aku bisa sebar undangan pernikahan
kita dengan nama kita tertera di dalamnya, Laura. Andai semua angan-angan kita
saat SMA dulu terwujud. Menikah, bekerja keras, mewujudkan cita-cita, membina
rumah tangga, menerima baik dan burukku, menemani suka dan dukaku. Andai aku yang
menjadi penampingmu, Laura. Batin Nathan berkata.
“Nyebar
undangan apa, Ra?”
“Nikah.”
“Bukan
undangan ulang tahun?”
“Dasar
bocah!” ucap Laura, lantas Nathan tertawa.
“Pacar
aja nggak punya, Ra. Apalagi nyebar undangan. Nihil, kan. Kamu calon nggak ada,
tapi pacar ada kan ya.” tukas Nathan.
“Pacar
apa sih, ngarang deh.” Laura berkata sinis.
Namun
tiba-tiba, Riani—sahabat Laura dan seorang anak kecil perempuan, datang
tergopoh-gopoh memasuki kedai kopi tersebut.
“Ra!”
teriak Riani.
Laura
bangkit dari duduknya. “Riani, ada apa disini? Kenapa?”
“Kamu
kemana aja sih, Ra. Ditelfon sibuk, untung satpam kantor tau kamu mau kesini.
Penting, Ra. Kamu harus pulang, sekarang!” ucapnya berapi-api.
Nathan
kebingungan.
“Mama
Laura, ayo pulang, mama...” ucap anak kecil di samping Riani.
Apa?! Mama? Batin Nathan.
*