Pages

Thursday, October 2, 2014

Nathan dan Laura #1


            Kopi yang Laura pesan rasa-rasanya begitu bosan ingin segera dilahap oleh empunya. Alih-alih meminum kopi, Laura begitu serius mengenai project kerjanya yang akan jatuh tempo bulan depan. Carut-marut mukanya dan matanya menatap layar laptopnya begitu serius. Sudah hampir tiga jam Laura berkutat dengan pekerjaannya, dan tiba-tiba saja, saat ia mendongak, ia melihat sosok itu disana.

            Iya, dia. Di pojok kedai kopi ini, sama carut-marutnya dengan Laura.

            Lantas, hati Laura berdegup kencang. Benarkah itu dia? Laura bergumam. Sosok itu begitu resah diatas sofa yang ia duduki. Rambutnya kesana-kemari seakan tidak kerasan diatas sana. Lelaki itu serius menatap layar laptopnya dengan berbagai macam buku di atas meja. Sekali ketika, ponselnya berdering dan ia terlihat begitu frustasi menjawab penelponnya.

            Laura semakin tertegun. Semakin Laura menatapnya, rasa-rasa itu menyeruak kembali, remah-remah kenangan yang telah lama hilang tiba-tiba saja datang tanpa permisi. Laura terus mengamatinya. Lima tahun tidak bersua sejak lulus SMA, disinikah mereka harus bertemu kembali? Sebagai orang yang sama-sama asing? Entahlah, Laura sendiri menjadi resah saat ia harus melihat sosok tersebut. Lantas, karena merasa diperhatikan, sosok itu mendongak. Tatapan mereka bertemu dan ada jeda hening sesaat mengambang di tengah-tengah fatamorgana itu. Beginilah rasanya, saat kau bertemu kembali dengan seseorang yang dulu pernah berarti, ada rasa yang membuatmu seakan-akan jatuh begitu saja.

            Laura tersenyum, laki-laki itu balas tersenyum dan menghampiri meja Laura.

            “Nathan.” Bisik Laura
            “Hai, daritadi disini aja? Kok nggak sadar ya aku?” Nathan berucap.
            Laura tersenyum getir. “Iya, aku juga nggak sadar. Terus, kayaknya kenal sama yang duduk di pojokan, eh taunya,”
            Nathan tersenyum, “Boleh duduk disini? Kosong, kan? Atau... ada janji sama orang lain?”
            “Penyakitnya nggak hilang deh, pasti curigaan melulu. Nggak kok, please have a sit.” Laura mencoba mencairkan suasana.
            Nathan terkekeh, lalu mereka sama-sama diam, bergeming. Pura-pura sibuk menatap sekitar mereka. Ada apa perihal semua ini, di sekian banyaknya kedai kopi di Bandung, mengapa harus di kedai ini mereka bertemu? Terlebih sebagai orang asing.
            “Jadi... apa kabar?” Nathan akhirnya memulai percakapan, mengakhiri kecanggungan.
            “Great. Kebanyakan jalan hidup aku sesuai yang aku inginkan.” Jawab Laura.
            “Maaf ya, aku belum baca novel ke-empat mu. Maklum, deadline kerjaan numpuk. Udah jadi teknisi mesin sekarang?” Nathan bertanya lagi.
            Laura terdiam. Jadi selama ini Nathan membaca novel-novelku?
            “Jadi kamu baca semuanya? Ya ampun, makasih ya, terharu deh. Iya nih, teknisi mesin tapi kerjanya di media jurnalis, nggak nyambung banget, ya?”
            Nathan membelalakkan matanya, “Serius? Jadi kerja di media jurnalis sekarang? Wah, kayaknya hidup kamu sesuai sama yang dulu dicita-citakan.”
            “Ya begitulah, perjuangannya nggak semudah yang dibayangkan. Hahaha, iya, cita-cita yang sering kita omongin zaman SMA dulu ya di koridor sekolah? Ya ampun, udah lama banget! Time flies so fast banget. Kamu gimana? Apa kabar sekarang?” Laura bertutur seakan mereka teman lama. Seakan tidak ada jurang pemisah di antara mereka. Seakan mereka tidak pernah menjalin komitmen dan hal-hal lainnya. Padahal ia hanya menutupi kecanggungannya saja.
            Nathan tersenyum melihat tingkah Laura. “Jadi cita-citanya terwujud ya? Jadi penulis, sarjana teknik mesin, kerja di perusahaan jurnalis. Cita-cita yang sering banget diucapin pas pulang sekolah bareng. Hebat. Aku? Aku baik, kadang nggak baik juga.”
            “Kebiasaan, suka over-thinking.”
            Nathan tertawa, “Jadi nostalgia, kan.”
            Mereka sama-sama tertawa, lantas terdiam, kecanggungan merebak kembali. Nathan permisi untuk memindahkan laptop berserta tetek bengeknya ke meja Laura, Laura menyeruput kopi untuk sekedar menutupi kecanggungan.
            “Kerjaan numpuk banget ya, Than? Kerja dimana sekarang?”
            Nathan masih sama, harumnya, matanya, ekspresinya saat ia merasa kewalahan...
            “Aku kerja di perusahaan IT sekarang.” Jawabnya ringkas.
            “Wah, keren. Jadi, cita-citanya udah terwujud ya? Sarjana teknik industri, kerja di perusahaan IT.” Tambah Laura.
            Nathan menggeleng.
            “Apa lagi?” Laura mengernyitkan dahi. “Oh astaga! Belum ke old trafford ya?”
            Nathan tertawa lalu mengangguk. “Masih inget aja. Bener banget, belum kesana, belum puas rasanya. Jadi setelah tumbuh jadi wanita sukses, kapan nih nikahnya?”
            Tiba-tiba saja pertanyaan itu melayang begitu saja dari mulut Nathan. Sedikit membuat Laura tersentak.
            “Hahaha apaan sih, calon aja nggak punya. Kamu kali, kapan nyebar undangan?” dengan menutupi kegetirannya Laura berkata demikian.

            Andai aku bisa sebar undangan pernikahan kita dengan nama kita tertera di dalamnya, Laura. Andai semua angan-angan kita saat SMA dulu terwujud. Menikah, bekerja keras, mewujudkan cita-cita, membina rumah tangga, menerima baik dan burukku, menemani suka dan dukaku. Andai aku yang menjadi penampingmu, Laura. Batin Nathan berkata.

            “Nyebar undangan apa, Ra?”
            “Nikah.”
            “Bukan undangan ulang tahun?”
            “Dasar bocah!” ucap Laura, lantas Nathan tertawa.
            “Pacar aja nggak punya, Ra. Apalagi nyebar undangan. Nihil, kan. Kamu calon nggak ada, tapi pacar ada kan ya.” tukas Nathan.
            “Pacar apa sih, ngarang deh.” Laura berkata sinis.
            Namun tiba-tiba, Riani—sahabat Laura dan seorang anak kecil perempuan, datang tergopoh-gopoh memasuki kedai kopi tersebut.
            “Ra!” teriak Riani.
            Laura bangkit dari duduknya. “Riani, ada apa disini? Kenapa?”
            “Kamu kemana aja sih, Ra. Ditelfon sibuk, untung satpam kantor tau kamu mau kesini. Penting, Ra. Kamu harus pulang, sekarang!” ucapnya berapi-api.
            Nathan kebingungan.
            “Mama Laura, ayo pulang, mama...” ucap anak kecil di samping Riani.
            Apa?! Mama? Batin Nathan.
            *
           
           

            

No comments:

Post a Comment