Gemas, dan masih seperti anak tk harus bertindak apa.
Kecuali dimulai dari diri sendiri, untuk mengurangi penggunaannya.
Malam ini, melepas penat di hari senin, izinkan aku, semesta, untuk sedikit menuliskan keresahan dan kegelisahan yang ada.
Semenjak menjadi seorang mahasiswa, dahulu kala, pikiran ini terbuka karena lingkungan seolah-olah ingin menjodohkanku akan kepahitan dan realita hidup di dunia ini. Salah satu permasalan yang sangat men-trigger diri ini adalah limbah plastik.
Sejauh ini, beberapa penelitian yang coba aku garap dengan tim dan kawan-kawan memang berada di hal seputar pengolahan limbah dan energi terbarukan. Entah kenapa, aku selalu penasaran tentang teknologi pengolahan limbah, yang tak jarang secara vital memanfaatkan beberapa makhluk hidup sebagai pengurai nya (let’s say bakteri-bakteri tertentu). Aku takjub, bahwa dengan perpaduan alam dan otak manusia, permasalahan dapat diatasi. Tak hanya itu, beberapa teknologi lain tanpa melibatkan organisme kecil pun banyak sekali.
Back to topic, plastic waste. Ugh.
Banyak sekali headline, judul artikel, jurnal-jurnal yang membahas limbah plastik yang telah mengotori lautan dan samudera, mempengaruhi rantai makanan makhluk hidup, dan lain-lain. Judul-judul tersebut sangatlah ironis, tanpa diimbangi dengan judul-judul penemuan yang berkaitan dengan pengolahan limbah plastik. It’s so unfair. Seolah-olah bumi ini berada di ambang kehancuran, tanpa ada manusia-manusia yang sangat berjasa yang telah melakukan perubahan demi mengurangi limbah plastic. Internet nowadays is a huge monster for everyone.
Sumber : Website National
Geographic Indonesia
Aku pernah bertanya mengenai permasalahan
ini dengan salah satu kakak tingkat yang bekerja di industri petrokimia
penghasil biji plastik. Aku tanya, memang industri tidak membuat plastik yang
ramah lingkungan? (waktu degradasi yang relatif lebih singkat). Beliau
menjawab, ‘sudah, tapi ongkos produksi memang lebih mahal, perbedaan rupiah
yang sangat sedikit itu impactnya gede banget ke pasar. Pasar akan lebih milih
produk yang lebih murah dengan fungsi yang sama’.
It’s so hurtful to hear that.
Membuktikan bahwa, ada manusia-manusia
di dunia ini hanya benar-benar ingin menumpang hidup tanpa peduli limbah yang
mereka hasilkan setiap hari. Berapa banyak sedotan plastik yang kita gunakan
sekali pakai tanpa pikir panjang itu akan berakhir bermuara di lautan tempat
kita memperoleh ikan untuk kita makan? Berapa banyak kantong kresek yang kita
gunakan sebagai tempat penampungan sampah? Berapa banyak wadah plastik makanan
yang kita gunakan sekali pakai agar urusan perut kita terpenuhi?
Sebagai manusia yang menjunjung
tinggi realita hidup, fenomena tersebut adalah hal yang nggak dapat dihindari
oleh diriku sendiri. Dari situ aku mulai mengolah emosi, menata pikiran, bahwa
kecepatan limbah plastik untuk menghancurkan bumi ini bersifat eksponensial,
sementara manusia-manusia yang mengurangi penggunaan palstik, kampanye
pengurangan limbah plastik, teknologi pengurai limbah plastic, semuanya
memiliki kecepatan logaritmik. We have to admit it the way it is.
Kadang mikir juga, ada beberapa
teknologi pengurai limbah plastik, seperti jamur dan ulat pengurai limbah plastik,
atau plastik bio-degradable yang terbuat dari kulit udang, and so on. Tapi
pergerakan itu ngga masif, seolah-olah pemerintah, sebagai pemegang kekuasaan
dan pelaksana suatu gerakan, bungkam dan tidak peduli bahwa hal tersebut
penting dilaksanakan mulai dari sekarang. Is it me who think this way? That,
our government isn’t pay attention much into this case?