Pages

Monday, October 22, 2018

Kamu.


Kami sama-sama dua orang remaja menuju dewasa yang acap kali bingung.
Ada rasa yang sulit aku gambarkan, ketika aku bisa bertatap wajah dengan kamu.
Kenapa?
Karena jarak.
Ketika aku diberi Tuhan kesempatan untuk bertemu denganmu, jujur aku bingung harus berkata apa.
Tapi aku pun bersyukur, karena jarak ada, jadi ketika kita bertemu,
pertemuan kita lebih bermakna.
Entah di warung makan pinggir jalan tempat kita makan nasi goreng, pecel ayam,
atau hanya pertemuan singkat di kotamu,
atau di kota ku.

Terima kasih sudah mau pergi bersama, sore itu ke tempat yang sangat ingin aku kunjungi.
Walaupun hujan dan kita berdua hanya pakai jaket jeans kita. Nekat!
Kadang ada beberapa hal di hidup ini untuk dilalui dengan modal nekat,
tapi tetap dengan pikiran yang waras. 

Mungkin kamu bosan, terus mendengar ocehanku untuk keseharianmu di Ibu Kota sana.
Jangan lupa minum air putih, kurangi makan gorengan, dan sebagainya.
Ketahuilah, aku hanya mencoba menaruh rasa sayang yang terpaut jarak...



Kamu ingat malam-malam kita di Bandung, berkeliling menggunakan motorku waktu itu?
Aku ingat kala kita berteduh di warung tempat kamu membeli segelas kopi hangat.
Aku ingat perjalanan yang terasa panjang di dalam kereta menuju kotamu,
pun aku ingat rasa ketika aku harus kembali ke Bandung,
dan pamit darimu di stasiun itu.
Kamu ingat kamu belanja apa saja di supermarket menggunakan voucher sakti-mu itu?
Kamu ingat aku yang rewel ingin makan seafood ketika sesampainya aku di Jakarta?
Kamu ingat betapa aku luar biasa panik ketika pertama kali bertemu keluargamu?


Cepat pulang... 
aku tunggu di Bandung.
Aku ingin terus selalu beriringan denganmu, 
saling mengingatkan
saling membahagiakan
saling menguatkan
saling menertawakan lucunya hidup ini.
Cepat pulang sayang.

No comments:

Post a Comment