Pages

Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Thursday, April 10, 2014

[Sekitar Buku] Favourite part in The Graveyard Book

"Ah gila, keren banget."
"Serem abis."
"Ya ampun bagus banget."

hahaha, itulah monolog saya ketika membaca buku ini. Buku yang berjudul The Graveyard Book. Salah satu buku favorit saya, karena demi alam semesta buku ini manis sekali, dan jenius dalam satu paket. Dan, ada salah satu part favorit saya yang ditulis dengan sangat cantik dan menawan oleh si penulis.

ini dia,

"Hari itu hari musim semi yang sempurna, dan udara hidup oleh kicauan burung dan dengungan lebah. Bunga-bunga daffodil bergemerisik dalam tiupan angin sepoi dan di sana-sini, di lereng bukit, beberapa kuntum bunga tulip yang mekar lebih awal mengangguk-angguk. Bunga-bunga forget-me-not biru mungil yang tersebar dan bunga-bunga primrose kuning yang indah dan gemuk menyelingi warna hijau lereng sementara kedua anak itu mendaki bukit ke arah mausoleum kecil keluarga Frobisher. " -- hal 63, The Graveyard Book, karya Neil Gaiman. 
saya suka sekali dunia dongeng dan isi di dalamnya. Hamparan bunga di atas bukit, musim semi yang indah, peri-peri dan lain sebagainya. Dan ketika ketemu dengan penggalan novel itu, saya jatuh hati. Begitu jenius dan manis novel yang ditulis oleh Neil Gaiman ini :)

Monday, December 30, 2013

Burung-Burung Putih

Burung-Burung Putih
Aku hanya seorang awan kelabu yang menggantung jikalau hujan akan turun. Aku pendiam diantara saudara-saudaraku. Aku lebih suka mendengarkan. Kadang, bulan yang cantik itu bersenandung pelan, kadang juga aku mendengar gerutu angin kencang ketika lewat, dan aku juga suka mendengarkan burung-burung yang lewat sambil mereka bercakap-cakap.
Kali ini, aku menggantung di atas sebuah gedung pencakar langit yang sangat tinggi. Bertenggerlah dua ekor burung berbulu putih di sana. Aku pun seperti biasa, mendengarkan percakapan mereka.
“Malam ini tahun baru. Ah, malas sekali!” seru burung A kepada burung B.
Burung B menoleh, “Ya, benar! Aku muak dengan kelakuan manusia jaman sekarang. Ada saja ulahnya.” Sembur burung B tak mau kalah.
“Memangnya, apa gunanya sih menyulut petasan dan kembang api yang berisik itu? Asap kembang api itu mengotori langit kita yang bersih ini.” Kata burung A.
“Ya, benar sekali. Apa mereka tidak cukup menyiksa kita, dengan polusi-polusi dari kendaraan mereka itu? Ah, kemarin saja aku sempoyongan saat terbang. Langit biru kita yang dulu, sudah kotor akibat manusia jaman sekarang.” Burung B menambahi.
Aku pun mendengarkan dengan seksama. Benar, mengapa manusia selalu membuat ulah?
“Belum lagi, suara terompet-terompet itu. Anak-anakku sampai tidak bisa tidur dibuatnya.” Burung A menggeleng-gelengkan kepalanya yang mungil.
“Tapi, kita sebagai hewan kecil seperti ini, bisa apa?” burung B meratapi nasibnya sendiri.
“Padahal, malam tahun baru itu sebaiknya mereka di rumah saja. Berdoa dengan keluarga, agar tahun ke depan menjadi tahun yang lebih baik, agar menjadi manusia yang tidak suka membuat ulah, agar selalu menjaga kenyamanan bumi kita. Bukan seharusnya memang begitu?” tanya Burung A.
Burung B manggut-manggut, “Betul sekali. Mereka seharusnya saling introspeksi diri sendiri. Bukan malah menyulut kembang api yang memekakkan telinga itu. Belum lagi terompet-terompetnya!”
“Ya benar. Kasihan sekali nasib-nasib kita ini. Kecil, tidak bisa berbuat apa-apa. Lawannya kita  saja manusia itu sendiri!” Burung A berapi-api.
“Ya, beginilah nasib kita. Berdoa saja semoga manusia-manusia itu sadar akan ulahnya.” Burung B menambahkan.
Lalu terbanglah mereka berdua entah kemana. Aku sendiri menjadi kasihan dengan nasib burung-burung kecil tersebut. Ditelantarkan, mencari nakfah dengan susah payah, langitnya pun dijajah oleh manusia.
Oh ya, tentu aku pun merasakannya akhir-akhir ini. Air hujan yang aku hasilkan pun, rasa-rasanya tidak sama seperti dulu lagi. Kini airku rasanya asam, aneh. Apa ini juga ulah manusia lagi?
Malam pun tiba. Berbagai bunyi letupan kembang api pun bergemeletukan di sekitarku. Aku mulai jengah, kesal. Lalu, sudah mulai banyak kerabatku yang muncul di sana-sini sambil menggerutu pula. Lalu, turunlah hujan dari diriku. Hujan yang sangat lebat, menghujani seluruh pelosok kota ini.
Sangat lebat.
Basah disana sini.
Aku menghujani kota ini hingga sang matahari terbit dengan malu-malu dari peraduannya. Selama hujan turun pun, kota menjadi sunyi senyap. Tidak ada kembang api, suara terompet pun nyaris tidak terdengar. Hingga manusia-manusia itu pun jatuh tertidur.
Ah, semoga manusia itu sadar.



Sekitar Buku : Review - Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Tenggelamnja Kapal Van der Wijck adalah sebuah novel yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka. Saya sendiri masih ragu, ini termasuk novel atau roman, karena terbit sekitar tahun 1930-an. 


Saya ingin me-review novel ini (sebut saja novel) karena, ini novel yang nggak biasa, menurut saya, sih. Soalnya, dari sekian buku yang saya baca, ini yang paling menarik. Kenapa menarik? Karena di dalamnya mengusung unsur budaya orang-orang Minangkabau, betapa sulit nya jika seseorang ingin melakukan sebuah pernikahan. Apabila nggak ada keturunan darah Minang.

Penulisnya sendiri, Hamka, mendapat berbagai kecaman dari berbagai pihak. Ada yang bilang, beliau nggak sepantasnya menulis kisah roman, karena beliau seorang ulama. Ada juga pihak yang memfitnah bahwa karya beliau ada plagiat dari novel Majdulin karya Mustofa Lutfi al Manfaluti (sastrawan Mesir), yang merupakan saduran dari novel Sous les Tilleuls (‘Di Bawah Pohon Tilia’) karya Alphonse Karr (sastrawan Prancis). 


Tapi sebetulnya saya nggak peduli apa yang pihak-pihak tersebut katakan, sebagai penikmat buku apapun, saya enjoy saja melahap buku-buku tersebut, karena isinya menarik. Cerita ini juga sebelumnya dimuat di dalam suatu majalah dalam bentuk cerita bersambung. 


Kisah ini menceritakan seorang laki-laki bernama Zainuddin. Orang tuanya telah lama tiada, ayahnya merupakan seorang keturunan Minang yang terbuang akibat masalah warisan. Akhirnya ia dibesarkan oleh Mak Base. Merantaulah ia ke Batipuh. Namun disana, banyak perlakuan buruk yang menimpa dirinya, karena ia merupakan keturunan darah Minang dan Bugis.


Di Tanah Batipuh itu, bertemulah ia dengan seorang perempuan bangsawan keturunan Minagkabau bernama Hayati. Mereka saling mencintai, cinta yang suci. Karena perlakuan orang-orang di Batipuh yang kurang baik, merantaulah Zainuddin ke Padang Panjang. Hendak mencari ilmu, hendak menjadi orang. Di tanah Padang Panjang itulah, Khadijah, sahabat Hayati tinggal. Khadijah memiliki seorang kakak bernama Aziz. Namun kurang baik perilaku Aziz. Mabuk-mabukkan, bermain perempuan, berjudi. Pada suatu hari pun, Hayati berkunjung ke Padang Panjang, berharap dapat bertemu Zainuddin, ternyata malah Aziz terpikat oleh kecantikan Hayati. 


Karena tipu daya dan kata-kata manis Aziz pun, Hayati menikahinya. Walaupun hatinya masih condong kepada Zainuddin. Mamak-mamak dan sanak saudara Hayati pun lebih memilih Aziz. Karena jelas latar belakangnya, jelas darah keturununannya dari mana, dan merupakan seorang bangsawan yang kaya raya pula. Sedangkan Zainuddin? Tidak jelas latar belakangnya, ayahnya pun seorang Minang yang terbuang. 


Hancurlah hati Zainuddin. Ia merantau ke Jakarta lalu ke Surabaya. Ia menulis kisahnya menjadi sebuah buku. Kemudian terkenal ia, menjadi seorang pengarang cerita, kaya raya pula ia sekarang. Mental dan budi nya pun sudah terbentuk, akibat perjuangan hidup yang seorang diri yang ia jalani selama ini. Karena suatu pertemuan, Aziz dan Hayati bertemu Zainuddin. 


Di Surabaya, Aziz malah semakin buruk budinya. Berjudi sana sini, hingga akhirnya jatuh miskinlah Hayati dan Aziz. Sampai dimana akhirnya mereka menumpang tinggal di rumah Zainuddin. Disana Aziz sadar, bahwa begitu hina dirinya. Akhirnya ia merantau, menitipkan Hayati kepada Zainuddin, dan bunuh diri. Di dalam rumah itu pun, perasaan Hayati yang dulu masih tetap sama, semakin tumbuh. Namun Zainuddin terlampau sakit hati, karena Hayati mengingkari janjinya dulu. Disuruhlah Hayati berpulang ke tanah asalnya dulu.


Itu sedikit review saya. Mengenai buku ini, awalnya saya terpikat dengan budaya di Minangkabau sana, ingin mempelajarnya lebih. Disana juga adat dan budayanya mengungkung pasangan yang saling jatuh cinta namun memiliki keturunan darah yang berbeda. Dan saya tertarik dengan bahasanya yang condong ke Sumatra, menarik sekali. Hamka sangat berani menulis cerita ini, karena beliau nggak setuju dengan adat dan budaya di minang sana. 


Ini juga merupakan cerita yang nggak biasa, saya nangis ketika membaca akhir-akhir buku ini. Ingin sekali ada pengarang yang menulis cerita seindah ini lagi, semanis cerita ini lagi. Kalau menurut saya sih, saya sendiri awalnya membaca buku ini nggak kuat, karena bahasanya sangat Sumatra sekali. Saya sendiri masih harus sampai dua kali kalau ingin membaca sebuah kalimat. Tapi jujur, ini cerita yang sangat bagus. Hamka pandai menggambarkan situasi tempatnya, karena saya sebelumnya belum pernah ke tanah Sumatra. Beliau juga pandai menggambarkan watak-watak tokoh remaja pada era tersebut. 


Kalau boleh saya rating, 4 of 5 stars untuk buku ini.

Hamka is really impressed me by this whole story.










Cerpen : Stasiun

Stasiun
                Aku selalu suka duduk-duduk di sini. Seraya melihat orang-orang berlalu-lalang dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang terburu-buru pulang ke rumahnya-mungkin istrinya menunggunya dengan cemas dirumah, ada dua pasang anak SMA dengan senyum malu-malu berjalan keluar dari kereta, ada ibu tua yang dengan susah payah menenteng bawaannya, ada para pedagang yang berjalan sana-sini mencari nafkah.
            Ya, disini, di stasiun kota ini.
            Sebelum pulang ke rumah, seraya menunggu kereta tujuanku, aku duduk di tempat duduk yang disediakan. Sudah sejak kelas empat sd, aku diperbolehkan pulang ke rumah menggunakan kereta. Rasanya aku senang. Diam dalam keramaian yang entah kenapa membuat hatiku tentram.
            Tapi kali ini berbeda.
            Namun, aku masih bisa duduk-duduk di stasiun ini, menonton hiruk-pikuk disini, walaupun waktuku sebentar. Ah, contohnya pasangan anak muda disebelahku ini. Sang laki-laki hendak pergi sepertinya, sang perempuan menangis tersedu-sedu.
            “Aku nggak tahu kan, kamu nanti kayak gimana di sana, kamu nanti sama siapa, aku nggak tahu. Aku takut, Rio. Aku takut...” perempuan itu menangis, lalu membenamkan wajahnya di dada laki-laki bernama Rio tadi.
            “Sssh, kamu nggak perlu takut, sejak kita bersama-sama, aku nggak pernah ada niat untuk bersama wanita lain selain kamu. Kamu percaya kan sama aku? Doakan saja, aku dapat pekerjaan di sana, Rianti.” Ucap Rio menenangkan.
            Tangis perempuan itu sedikit mereda. “Aku percaya sama kamu. Aku selalu doakan yang terbaik buat kamu, buat kita. Aku nggak ingin janji kamu untuk hidup bersama nanti pupus, Rio.”
            Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, lalu mengelus lembut rambut wanita itu. “Nggak akan, aku bukan laki-laki seperti itu. Nggak akan, Rianti. Aku sudah titipkan kamu ke ibu dan adikku di rumah, bukan begitu?”
            Perempuan itu mengangguk mantap, “Iya. Aku percaya sama kamu.” Kata perempuan itu, lalu tersenyum.
            Lalu tangan mereka berdua bertautan-seperti tidak ingin terlepas, seraya menunggu kereta tujuan sang laki-laki datang. Yah, begitulah cinta. Aku belum pernah merasakan benar-benar cinta dengan orang yang aku sukai. Belum pernah merasakan rasanya ingin memiliki seseorang. Ah, paling hanya Bunga, perempuan paling manis di kelasku, yang selalu dikepang menjadi dua. Manis sekali.
            Tidak hanya pasangan muda itu. Ada juga ibu-ibu tua yang berjualan nasi pecel dan anaknya di dekat pojokan toilet sana, dekat tempatku duduk.
            “Nduk... walaupun hanya dua puluh ribu rupiah pendapatan kita hari ini, tetapi alhamdulillah, alhamdulillah...” ucap si ibu dengan penuh rasa syukur.
            Si anak yang masih kecil terbengong-bengong. “Laili janji kok bu nggak minta boneka barbie lagi, Laili mau makan nasi pecel ibu saja yang enak.”
            Si ibu tersenyum senang, “Nanti, kalo ibu sudah punya uang banyak, kita beli boneka cantik itu yang seperti Laili, ya.” kata si ibu.
            Aku terharu sekali. Begitu besar pengorbanan si ibu ini. Banyak peluh menetes dari rambut si ibu yang sudah mulai beruban. Kulitnya kusam, pinggir-pinggir matanya pun penuh kerutan.
            “Asiiik! Nanti bonekanya tidur di kamar bareng kita ya, bu.” Ucap si anak dengan sumringah. Matanya berbinar-binar, cantik sekali.
            Si ibu mengangguk. Lalu keluarlah setetes air mata dari matanya, ia mengelapnya dengan cepat, “Tentu, nak. Kita harus tetap bersyukur, karena masih diberi rezeki yang cukup oleh Tuhan. Kita harus bersyukur, kita masih bisa berjualan, nggak mengemis kepada orang-orang.”
            Si anak terbengong-bengong kembali. Lalu si ibu mengangkat bakul pecelnya ke punggungnya yang bungkuk.
“Ayo nak, kita jualan lagi, supaya dapat uang dan bisa beli boneka. Ayo!” ajak si ibu, diikuti anaknya yang dikucir ekor kuda.
Ah, sungguh perempuan yang hebat. Aku selalu kagum kepada setiap ibu di dunia ini. Aku jadi rindu ibuku. Aku rindu masakan ibu. Aku rindu omelan ibu yang memarahiku setiap aku bermain bola di saat hujan. Aku rindu kecupan manis ibu di dahi. Apa kabar ibu? Ibu tidak sedih lagi, kan?
Sedangkan di sebelahku, duduklah sepasang suami-istri yang sudah tua. Mereka saling berpegangan tangan, entah sedang menunggu apa.
“Tita hebat ya, pak, sudah lulus smp. Kemarin Tita menelfon, dia dapat peringkat ke satu, pak,  Ndak nyangka cucuku sudah tumbuh besar.” Kata si nenek seraya menatap lurus ke depan.
Si kakek tertawa renyah, “Itu berarti umur kita sudah semakin tua, bu. Ingat ndak, dulu saya masih menyematkan cincin pernikahan kita saat matahari cerah sekali bersinar? Masih pergi menonton wayang di rumah pak paijo?”
Si nenek tersenyum, “Siapa yang pernah lupa dengan kenangan manis itu, pak? Tentu ibu ndak pernah lupa. Ah, ibu masih ingat waktu Tita bisa berjalan untuk pertama kali. Rasanya, ibu senang sekali mempunyai cucu pertama. Rambut ikalnya itu, persis seperti ibunya.” Ujar si nenek.
“Betul-betul... memiliki seorang cucu, rasa senangnya melebihi dapat hadiah seratus juta ya, bu. Ya, rambutnya pesis seperti kamu.” Jawab si kakek, lalu mencium punggung tangan istrinya.
Si nenek tertawa. Lalu kereta dari Bandung pun datang, keluarlah sorang perempuan manis bersama kedua orang tuanya. Perempuan itu dengan segera memeluk nenek dan kakek yang duduk di sebelahku tadi. Lalu mereka sekeluarga keluar dari stasiun ini. Perempuan tadi itu, pasti cucu mereka.
Aku jadi rindu nenek dan kakekku. Nenek selalu memasakkan bolu coklat yang enak sekali. Dan kakek yang selalu bersorak saat aku bermain bola di lapangan. Aku rindu mereka.
Di dalam kerumunan orang di sebelah kananku, ada seorang laki-laki yang hendak mencopet dompet seorang perempuan di depannya. Namun tiba-tiba, ada seorang petugas keamanan kereta api, menangkapnya basah. Laki-laki itu pun hampir terkena amukan massa, seraya berteriak.
“Ampuuun! Ampuuun!” teriaknya sambil melindungi kepalanya.
Lalu laki-laki itu pun diseret dengan kasar oleh para petugas, ke kantor keamanan.
Ada-ada saja kelakuan orang jaman sekarang ini. Segala hal di halal-kan.
Aku terbangun dari waktuku ini, sampai ada seorang berjubah putih memanggilku, menepuk pundakku. Dia sudah mengawalku seminggu terakhir ini, wajahnya bersinar, tidak kelihatan, jubah putihnya pun sama bersinarnya. Semuanya bersinar, menyilaukan mata.
Seminggu yang lalu, tepat di rel kereta sana, saat palang kereta api sudah tertutup, aku nekat menyusup palang tersebut. Hari sudah terlalu sore, aku main bola terus di sekolah hingga lupa waktu, aku takut ibu atau ayah marah. Tubuhku pun tertabrak kereta yang sedang melaju kencang. Rasanya sakit sekali, kebas, lalu seketika mati rasa. Sosok berjubah putih itulah yang selama ini mengawalku, menemaniku berkeliling dunia ini sebelum roh ku kembali kepada Yang Maha Kuasa.
“Sudah waktunya kembali ke tempat mu. Sudah habis waktu mu.” Ucap sosok putih bersinar tersebut.
Aku mengangguk, lalu mengikutinya ke sebuah lorong hitam.
Selamat tinggal dunia, waktuku telah habis.
Aku tidak akan pernah melupakan waktuku semasa hidup, duduk di stasiun ini.
Selamat tinggal ibu, ayah, nenek dan kakek. Waktuku telah habis. Aku harap kalian tidak bersedih lagi.
Aku mencintai kalian.
Selamat tinggal dunia.
*