Pages

Monday, December 30, 2013

Cerpen : Stasiun

Stasiun
                Aku selalu suka duduk-duduk di sini. Seraya melihat orang-orang berlalu-lalang dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang terburu-buru pulang ke rumahnya-mungkin istrinya menunggunya dengan cemas dirumah, ada dua pasang anak SMA dengan senyum malu-malu berjalan keluar dari kereta, ada ibu tua yang dengan susah payah menenteng bawaannya, ada para pedagang yang berjalan sana-sini mencari nafkah.
            Ya, disini, di stasiun kota ini.
            Sebelum pulang ke rumah, seraya menunggu kereta tujuanku, aku duduk di tempat duduk yang disediakan. Sudah sejak kelas empat sd, aku diperbolehkan pulang ke rumah menggunakan kereta. Rasanya aku senang. Diam dalam keramaian yang entah kenapa membuat hatiku tentram.
            Tapi kali ini berbeda.
            Namun, aku masih bisa duduk-duduk di stasiun ini, menonton hiruk-pikuk disini, walaupun waktuku sebentar. Ah, contohnya pasangan anak muda disebelahku ini. Sang laki-laki hendak pergi sepertinya, sang perempuan menangis tersedu-sedu.
            “Aku nggak tahu kan, kamu nanti kayak gimana di sana, kamu nanti sama siapa, aku nggak tahu. Aku takut, Rio. Aku takut...” perempuan itu menangis, lalu membenamkan wajahnya di dada laki-laki bernama Rio tadi.
            “Sssh, kamu nggak perlu takut, sejak kita bersama-sama, aku nggak pernah ada niat untuk bersama wanita lain selain kamu. Kamu percaya kan sama aku? Doakan saja, aku dapat pekerjaan di sana, Rianti.” Ucap Rio menenangkan.
            Tangis perempuan itu sedikit mereda. “Aku percaya sama kamu. Aku selalu doakan yang terbaik buat kamu, buat kita. Aku nggak ingin janji kamu untuk hidup bersama nanti pupus, Rio.”
            Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, lalu mengelus lembut rambut wanita itu. “Nggak akan, aku bukan laki-laki seperti itu. Nggak akan, Rianti. Aku sudah titipkan kamu ke ibu dan adikku di rumah, bukan begitu?”
            Perempuan itu mengangguk mantap, “Iya. Aku percaya sama kamu.” Kata perempuan itu, lalu tersenyum.
            Lalu tangan mereka berdua bertautan-seperti tidak ingin terlepas, seraya menunggu kereta tujuan sang laki-laki datang. Yah, begitulah cinta. Aku belum pernah merasakan benar-benar cinta dengan orang yang aku sukai. Belum pernah merasakan rasanya ingin memiliki seseorang. Ah, paling hanya Bunga, perempuan paling manis di kelasku, yang selalu dikepang menjadi dua. Manis sekali.
            Tidak hanya pasangan muda itu. Ada juga ibu-ibu tua yang berjualan nasi pecel dan anaknya di dekat pojokan toilet sana, dekat tempatku duduk.
            “Nduk... walaupun hanya dua puluh ribu rupiah pendapatan kita hari ini, tetapi alhamdulillah, alhamdulillah...” ucap si ibu dengan penuh rasa syukur.
            Si anak yang masih kecil terbengong-bengong. “Laili janji kok bu nggak minta boneka barbie lagi, Laili mau makan nasi pecel ibu saja yang enak.”
            Si ibu tersenyum senang, “Nanti, kalo ibu sudah punya uang banyak, kita beli boneka cantik itu yang seperti Laili, ya.” kata si ibu.
            Aku terharu sekali. Begitu besar pengorbanan si ibu ini. Banyak peluh menetes dari rambut si ibu yang sudah mulai beruban. Kulitnya kusam, pinggir-pinggir matanya pun penuh kerutan.
            “Asiiik! Nanti bonekanya tidur di kamar bareng kita ya, bu.” Ucap si anak dengan sumringah. Matanya berbinar-binar, cantik sekali.
            Si ibu mengangguk. Lalu keluarlah setetes air mata dari matanya, ia mengelapnya dengan cepat, “Tentu, nak. Kita harus tetap bersyukur, karena masih diberi rezeki yang cukup oleh Tuhan. Kita harus bersyukur, kita masih bisa berjualan, nggak mengemis kepada orang-orang.”
            Si anak terbengong-bengong kembali. Lalu si ibu mengangkat bakul pecelnya ke punggungnya yang bungkuk.
“Ayo nak, kita jualan lagi, supaya dapat uang dan bisa beli boneka. Ayo!” ajak si ibu, diikuti anaknya yang dikucir ekor kuda.
Ah, sungguh perempuan yang hebat. Aku selalu kagum kepada setiap ibu di dunia ini. Aku jadi rindu ibuku. Aku rindu masakan ibu. Aku rindu omelan ibu yang memarahiku setiap aku bermain bola di saat hujan. Aku rindu kecupan manis ibu di dahi. Apa kabar ibu? Ibu tidak sedih lagi, kan?
Sedangkan di sebelahku, duduklah sepasang suami-istri yang sudah tua. Mereka saling berpegangan tangan, entah sedang menunggu apa.
“Tita hebat ya, pak, sudah lulus smp. Kemarin Tita menelfon, dia dapat peringkat ke satu, pak,  Ndak nyangka cucuku sudah tumbuh besar.” Kata si nenek seraya menatap lurus ke depan.
Si kakek tertawa renyah, “Itu berarti umur kita sudah semakin tua, bu. Ingat ndak, dulu saya masih menyematkan cincin pernikahan kita saat matahari cerah sekali bersinar? Masih pergi menonton wayang di rumah pak paijo?”
Si nenek tersenyum, “Siapa yang pernah lupa dengan kenangan manis itu, pak? Tentu ibu ndak pernah lupa. Ah, ibu masih ingat waktu Tita bisa berjalan untuk pertama kali. Rasanya, ibu senang sekali mempunyai cucu pertama. Rambut ikalnya itu, persis seperti ibunya.” Ujar si nenek.
“Betul-betul... memiliki seorang cucu, rasa senangnya melebihi dapat hadiah seratus juta ya, bu. Ya, rambutnya pesis seperti kamu.” Jawab si kakek, lalu mencium punggung tangan istrinya.
Si nenek tertawa. Lalu kereta dari Bandung pun datang, keluarlah sorang perempuan manis bersama kedua orang tuanya. Perempuan itu dengan segera memeluk nenek dan kakek yang duduk di sebelahku tadi. Lalu mereka sekeluarga keluar dari stasiun ini. Perempuan tadi itu, pasti cucu mereka.
Aku jadi rindu nenek dan kakekku. Nenek selalu memasakkan bolu coklat yang enak sekali. Dan kakek yang selalu bersorak saat aku bermain bola di lapangan. Aku rindu mereka.
Di dalam kerumunan orang di sebelah kananku, ada seorang laki-laki yang hendak mencopet dompet seorang perempuan di depannya. Namun tiba-tiba, ada seorang petugas keamanan kereta api, menangkapnya basah. Laki-laki itu pun hampir terkena amukan massa, seraya berteriak.
“Ampuuun! Ampuuun!” teriaknya sambil melindungi kepalanya.
Lalu laki-laki itu pun diseret dengan kasar oleh para petugas, ke kantor keamanan.
Ada-ada saja kelakuan orang jaman sekarang ini. Segala hal di halal-kan.
Aku terbangun dari waktuku ini, sampai ada seorang berjubah putih memanggilku, menepuk pundakku. Dia sudah mengawalku seminggu terakhir ini, wajahnya bersinar, tidak kelihatan, jubah putihnya pun sama bersinarnya. Semuanya bersinar, menyilaukan mata.
Seminggu yang lalu, tepat di rel kereta sana, saat palang kereta api sudah tertutup, aku nekat menyusup palang tersebut. Hari sudah terlalu sore, aku main bola terus di sekolah hingga lupa waktu, aku takut ibu atau ayah marah. Tubuhku pun tertabrak kereta yang sedang melaju kencang. Rasanya sakit sekali, kebas, lalu seketika mati rasa. Sosok berjubah putih itulah yang selama ini mengawalku, menemaniku berkeliling dunia ini sebelum roh ku kembali kepada Yang Maha Kuasa.
“Sudah waktunya kembali ke tempat mu. Sudah habis waktu mu.” Ucap sosok putih bersinar tersebut.
Aku mengangguk, lalu mengikutinya ke sebuah lorong hitam.
Selamat tinggal dunia, waktuku telah habis.
Aku tidak akan pernah melupakan waktuku semasa hidup, duduk di stasiun ini.
Selamat tinggal ibu, ayah, nenek dan kakek. Waktuku telah habis. Aku harap kalian tidak bersedih lagi.
Aku mencintai kalian.
Selamat tinggal dunia.
*

            

No comments:

Post a Comment