Pages

Monday, December 30, 2013

Burung-Burung Putih

Burung-Burung Putih
Aku hanya seorang awan kelabu yang menggantung jikalau hujan akan turun. Aku pendiam diantara saudara-saudaraku. Aku lebih suka mendengarkan. Kadang, bulan yang cantik itu bersenandung pelan, kadang juga aku mendengar gerutu angin kencang ketika lewat, dan aku juga suka mendengarkan burung-burung yang lewat sambil mereka bercakap-cakap.
Kali ini, aku menggantung di atas sebuah gedung pencakar langit yang sangat tinggi. Bertenggerlah dua ekor burung berbulu putih di sana. Aku pun seperti biasa, mendengarkan percakapan mereka.
“Malam ini tahun baru. Ah, malas sekali!” seru burung A kepada burung B.
Burung B menoleh, “Ya, benar! Aku muak dengan kelakuan manusia jaman sekarang. Ada saja ulahnya.” Sembur burung B tak mau kalah.
“Memangnya, apa gunanya sih menyulut petasan dan kembang api yang berisik itu? Asap kembang api itu mengotori langit kita yang bersih ini.” Kata burung A.
“Ya, benar sekali. Apa mereka tidak cukup menyiksa kita, dengan polusi-polusi dari kendaraan mereka itu? Ah, kemarin saja aku sempoyongan saat terbang. Langit biru kita yang dulu, sudah kotor akibat manusia jaman sekarang.” Burung B menambahi.
Aku pun mendengarkan dengan seksama. Benar, mengapa manusia selalu membuat ulah?
“Belum lagi, suara terompet-terompet itu. Anak-anakku sampai tidak bisa tidur dibuatnya.” Burung A menggeleng-gelengkan kepalanya yang mungil.
“Tapi, kita sebagai hewan kecil seperti ini, bisa apa?” burung B meratapi nasibnya sendiri.
“Padahal, malam tahun baru itu sebaiknya mereka di rumah saja. Berdoa dengan keluarga, agar tahun ke depan menjadi tahun yang lebih baik, agar menjadi manusia yang tidak suka membuat ulah, agar selalu menjaga kenyamanan bumi kita. Bukan seharusnya memang begitu?” tanya Burung A.
Burung B manggut-manggut, “Betul sekali. Mereka seharusnya saling introspeksi diri sendiri. Bukan malah menyulut kembang api yang memekakkan telinga itu. Belum lagi terompet-terompetnya!”
“Ya benar. Kasihan sekali nasib-nasib kita ini. Kecil, tidak bisa berbuat apa-apa. Lawannya kita  saja manusia itu sendiri!” Burung A berapi-api.
“Ya, beginilah nasib kita. Berdoa saja semoga manusia-manusia itu sadar akan ulahnya.” Burung B menambahkan.
Lalu terbanglah mereka berdua entah kemana. Aku sendiri menjadi kasihan dengan nasib burung-burung kecil tersebut. Ditelantarkan, mencari nakfah dengan susah payah, langitnya pun dijajah oleh manusia.
Oh ya, tentu aku pun merasakannya akhir-akhir ini. Air hujan yang aku hasilkan pun, rasa-rasanya tidak sama seperti dulu lagi. Kini airku rasanya asam, aneh. Apa ini juga ulah manusia lagi?
Malam pun tiba. Berbagai bunyi letupan kembang api pun bergemeletukan di sekitarku. Aku mulai jengah, kesal. Lalu, sudah mulai banyak kerabatku yang muncul di sana-sini sambil menggerutu pula. Lalu, turunlah hujan dari diriku. Hujan yang sangat lebat, menghujani seluruh pelosok kota ini.
Sangat lebat.
Basah disana sini.
Aku menghujani kota ini hingga sang matahari terbit dengan malu-malu dari peraduannya. Selama hujan turun pun, kota menjadi sunyi senyap. Tidak ada kembang api, suara terompet pun nyaris tidak terdengar. Hingga manusia-manusia itu pun jatuh tertidur.
Ah, semoga manusia itu sadar.



No comments:

Post a Comment