Burung-Burung Putih
Aku
hanya seorang awan kelabu yang menggantung jikalau hujan akan turun. Aku
pendiam diantara saudara-saudaraku. Aku lebih suka mendengarkan. Kadang, bulan
yang cantik itu bersenandung pelan, kadang juga aku mendengar gerutu angin
kencang ketika lewat, dan aku juga suka mendengarkan burung-burung yang lewat
sambil mereka bercakap-cakap.
Kali
ini, aku menggantung di atas sebuah gedung pencakar langit yang sangat tinggi. Bertenggerlah
dua ekor burung berbulu putih di sana. Aku pun seperti biasa, mendengarkan
percakapan mereka.
“Malam
ini tahun baru. Ah, malas sekali!” seru burung A kepada burung B.
Burung
B menoleh, “Ya, benar! Aku muak dengan kelakuan manusia jaman sekarang. Ada
saja ulahnya.” Sembur burung B tak mau kalah.
“Memangnya,
apa gunanya sih menyulut petasan dan kembang api yang berisik itu? Asap kembang
api itu mengotori langit kita yang bersih ini.” Kata burung A.
“Ya,
benar sekali. Apa mereka tidak cukup menyiksa kita, dengan polusi-polusi dari
kendaraan mereka itu? Ah, kemarin saja aku sempoyongan saat terbang. Langit
biru kita yang dulu, sudah kotor akibat manusia jaman sekarang.” Burung B
menambahi.
Aku
pun mendengarkan dengan seksama. Benar, mengapa manusia selalu membuat ulah?
“Belum
lagi, suara terompet-terompet itu. Anak-anakku sampai tidak bisa tidur
dibuatnya.” Burung A menggeleng-gelengkan kepalanya yang mungil.
“Tapi,
kita sebagai hewan kecil seperti ini, bisa apa?” burung B meratapi nasibnya
sendiri.
“Padahal,
malam tahun baru itu sebaiknya mereka di rumah saja. Berdoa dengan keluarga,
agar tahun ke depan menjadi tahun yang lebih baik, agar menjadi manusia yang
tidak suka membuat ulah, agar selalu menjaga kenyamanan bumi kita. Bukan
seharusnya memang begitu?” tanya Burung A.
Burung
B manggut-manggut, “Betul sekali. Mereka seharusnya saling introspeksi diri
sendiri. Bukan malah menyulut kembang api yang memekakkan telinga itu. Belum
lagi terompet-terompetnya!”
“Ya
benar. Kasihan sekali nasib-nasib kita ini. Kecil, tidak bisa berbuat apa-apa.
Lawannya kita saja manusia itu sendiri!”
Burung A berapi-api.
“Ya,
beginilah nasib kita. Berdoa saja semoga manusia-manusia itu sadar akan
ulahnya.” Burung B menambahkan.
Lalu
terbanglah mereka berdua entah kemana. Aku sendiri menjadi kasihan dengan nasib
burung-burung kecil tersebut. Ditelantarkan, mencari nakfah dengan susah payah,
langitnya pun dijajah oleh manusia.
Oh
ya, tentu aku pun merasakannya akhir-akhir ini. Air hujan yang aku hasilkan
pun, rasa-rasanya tidak sama seperti dulu lagi. Kini airku rasanya asam, aneh.
Apa ini juga ulah manusia lagi?
Malam
pun tiba. Berbagai bunyi letupan kembang api pun bergemeletukan di sekitarku. Aku
mulai jengah, kesal. Lalu, sudah mulai banyak kerabatku yang muncul di
sana-sini sambil menggerutu pula. Lalu, turunlah hujan dari diriku. Hujan yang
sangat lebat, menghujani seluruh pelosok kota ini.
Sangat
lebat.
Basah
disana sini.
Aku
menghujani kota ini hingga sang matahari terbit dengan malu-malu dari
peraduannya. Selama hujan turun pun, kota menjadi sunyi senyap. Tidak ada
kembang api, suara terompet pun nyaris tidak terdengar. Hingga manusia-manusia
itu pun jatuh tertidur.
Ah,
semoga manusia itu sadar.
No comments:
Post a Comment