Pages

Monday, December 30, 2013

Sekitar Buku : Review - Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Tenggelamnja Kapal Van der Wijck adalah sebuah novel yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka. Saya sendiri masih ragu, ini termasuk novel atau roman, karena terbit sekitar tahun 1930-an. 


Saya ingin me-review novel ini (sebut saja novel) karena, ini novel yang nggak biasa, menurut saya, sih. Soalnya, dari sekian buku yang saya baca, ini yang paling menarik. Kenapa menarik? Karena di dalamnya mengusung unsur budaya orang-orang Minangkabau, betapa sulit nya jika seseorang ingin melakukan sebuah pernikahan. Apabila nggak ada keturunan darah Minang.

Penulisnya sendiri, Hamka, mendapat berbagai kecaman dari berbagai pihak. Ada yang bilang, beliau nggak sepantasnya menulis kisah roman, karena beliau seorang ulama. Ada juga pihak yang memfitnah bahwa karya beliau ada plagiat dari novel Majdulin karya Mustofa Lutfi al Manfaluti (sastrawan Mesir), yang merupakan saduran dari novel Sous les Tilleuls (‘Di Bawah Pohon Tilia’) karya Alphonse Karr (sastrawan Prancis). 


Tapi sebetulnya saya nggak peduli apa yang pihak-pihak tersebut katakan, sebagai penikmat buku apapun, saya enjoy saja melahap buku-buku tersebut, karena isinya menarik. Cerita ini juga sebelumnya dimuat di dalam suatu majalah dalam bentuk cerita bersambung. 


Kisah ini menceritakan seorang laki-laki bernama Zainuddin. Orang tuanya telah lama tiada, ayahnya merupakan seorang keturunan Minang yang terbuang akibat masalah warisan. Akhirnya ia dibesarkan oleh Mak Base. Merantaulah ia ke Batipuh. Namun disana, banyak perlakuan buruk yang menimpa dirinya, karena ia merupakan keturunan darah Minang dan Bugis.


Di Tanah Batipuh itu, bertemulah ia dengan seorang perempuan bangsawan keturunan Minagkabau bernama Hayati. Mereka saling mencintai, cinta yang suci. Karena perlakuan orang-orang di Batipuh yang kurang baik, merantaulah Zainuddin ke Padang Panjang. Hendak mencari ilmu, hendak menjadi orang. Di tanah Padang Panjang itulah, Khadijah, sahabat Hayati tinggal. Khadijah memiliki seorang kakak bernama Aziz. Namun kurang baik perilaku Aziz. Mabuk-mabukkan, bermain perempuan, berjudi. Pada suatu hari pun, Hayati berkunjung ke Padang Panjang, berharap dapat bertemu Zainuddin, ternyata malah Aziz terpikat oleh kecantikan Hayati. 


Karena tipu daya dan kata-kata manis Aziz pun, Hayati menikahinya. Walaupun hatinya masih condong kepada Zainuddin. Mamak-mamak dan sanak saudara Hayati pun lebih memilih Aziz. Karena jelas latar belakangnya, jelas darah keturununannya dari mana, dan merupakan seorang bangsawan yang kaya raya pula. Sedangkan Zainuddin? Tidak jelas latar belakangnya, ayahnya pun seorang Minang yang terbuang. 


Hancurlah hati Zainuddin. Ia merantau ke Jakarta lalu ke Surabaya. Ia menulis kisahnya menjadi sebuah buku. Kemudian terkenal ia, menjadi seorang pengarang cerita, kaya raya pula ia sekarang. Mental dan budi nya pun sudah terbentuk, akibat perjuangan hidup yang seorang diri yang ia jalani selama ini. Karena suatu pertemuan, Aziz dan Hayati bertemu Zainuddin. 


Di Surabaya, Aziz malah semakin buruk budinya. Berjudi sana sini, hingga akhirnya jatuh miskinlah Hayati dan Aziz. Sampai dimana akhirnya mereka menumpang tinggal di rumah Zainuddin. Disana Aziz sadar, bahwa begitu hina dirinya. Akhirnya ia merantau, menitipkan Hayati kepada Zainuddin, dan bunuh diri. Di dalam rumah itu pun, perasaan Hayati yang dulu masih tetap sama, semakin tumbuh. Namun Zainuddin terlampau sakit hati, karena Hayati mengingkari janjinya dulu. Disuruhlah Hayati berpulang ke tanah asalnya dulu.


Itu sedikit review saya. Mengenai buku ini, awalnya saya terpikat dengan budaya di Minangkabau sana, ingin mempelajarnya lebih. Disana juga adat dan budayanya mengungkung pasangan yang saling jatuh cinta namun memiliki keturunan darah yang berbeda. Dan saya tertarik dengan bahasanya yang condong ke Sumatra, menarik sekali. Hamka sangat berani menulis cerita ini, karena beliau nggak setuju dengan adat dan budaya di minang sana. 


Ini juga merupakan cerita yang nggak biasa, saya nangis ketika membaca akhir-akhir buku ini. Ingin sekali ada pengarang yang menulis cerita seindah ini lagi, semanis cerita ini lagi. Kalau menurut saya sih, saya sendiri awalnya membaca buku ini nggak kuat, karena bahasanya sangat Sumatra sekali. Saya sendiri masih harus sampai dua kali kalau ingin membaca sebuah kalimat. Tapi jujur, ini cerita yang sangat bagus. Hamka pandai menggambarkan situasi tempatnya, karena saya sebelumnya belum pernah ke tanah Sumatra. Beliau juga pandai menggambarkan watak-watak tokoh remaja pada era tersebut. 


Kalau boleh saya rating, 4 of 5 stars untuk buku ini.

Hamka is really impressed me by this whole story.










No comments:

Post a Comment