Pages

Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Monday, March 5, 2018

Pengemis dan Berlaku Benar

(pic source : Tumblr)

Jalanan selalu penuh dengan orang-orang dan cerita-ceritanya.
Jadi pada suatu siang yang panas terik (ceilah!), aku sama kawan dari bandung lagi ada di luar kota. Kebetulan kami lagi magang, dan ya jalan-jalan sedikit di kota tersebut untuk sekedar tahu seperti apa kotanya. Kebetulan, temenku ini lagi ingin beli oleh-oleh buat keponakannya. 

Trus nih, ketika kami lagi di suatu toko untuk keperluan magang kami, tiba-tiba ada dua orang anak sekolahan (I guessed this because they were wearing uniform) mendatangi kami, dan menadahkan tangannya untuk meminta uang kepada kami.

Entah kenapa anak tersebut mendatangi aku sama temennku ini, mungkin mereka berpikir orang dewasa lebih bisa ‘memberi’atau entah penampilanku sama temen ini dari orang pendatang banget apa gimana. Never get the answer. Salah satu anak dari keduanya itu lagi memegang minuman di plastik gitu, semacam teh manis dingin. Kind of. Lalu aku mikirlah disitu, “ini anak pakai seragam lengkap, sandal juga pakai, bisa beli jajan, tapi kenapa minta-minta ya?” sekelebat pikiran yang mengkotak-kotakkan tindakan manusia untuk memberi.

Temanku kasih uang recehnya ke mereka. Sembari temenku mencari uang recehnya ini, aku tanya ke anak yang bawa minuman tadi,
Aku     : “Dek, kelas berapa?”
Adik    : “Kelas 6 kak.”
*amazed*
Aku     : “Ooh kelas 6, sebentar lagi ujian dong ya?”
*si doi ngangguk*
Gatel banget ingin nanya, orang tuanya kemana, atau walinya kemana. Atau untuk menasihati bahwa meminta yang kesannya seperti pengemis itu sebenarnya tidak baik. Tapi semua itu aku tahan. Rasa-rasanya juga nggak etis ngomong gitu di depan orang banyak.
Aku     : “Okey dek belajar yang bener ya, biar jadi orang sukses.”
Kemudian si doi dahinya mengkerut, mencoba menafsir kali ya apa yang aku katakana barusan. Kemudian ngangguk dan pergi sama temennya setelah dikasih duit receh sambal ketawa riang (halah dek-dek jadi kangen bahwa bahagia se-sederhana itu.)

Somehow masih bingung juga apakah tindakanku untuk nggak memberinya uang receh adalah benar. Kalau aku boleh milih antara yang baik dan yang benar, aku pilih benar. Karena yang baik belum tentu benar, tapi kalau benar insya Allah itu baik. Aku nggak ingin aja, adik-adik seperti tadi yang bersekolah dan bertubuh lengkap (I mean, nggak disfungsional) meminta-minta. Mungkin orang tuanya nggak memberinya uang lebih untuk sekedar jajan atau bagaimana, aku nggak tau. Tapi alangkah baiknya tindakan memberi kepada mereka-mereka yang masih mampu untuk bekerja itu dikurangi.

Pernah juga nih baca thread di sosial media yang membahas tentang ini. Sebenernya bahasan ini sangat pro-kontra. Ada yang berpendapat mungkin nggak semua orang yang mampu itu dapat kesempatan bekerja walaupun dia sudah berusaha, jadi masalah kita memberi itu dijadikan sedekah, yang penting kita ikhlas bahwa itu pure sedekah. Dan banyak yang berpendapat bahwa “Mereka dapat dunia dan kamu dapat akhirat.”

I still don’t get the point and I do not agree of that.

Maksudku, entah mungkin karena di Bandung juga banyak pengemis dan mereka sehat walafiat, bahkan katanya sehari bisa dapat ratusan ribu, dan realita itu membuat aku berpendapat bahwa ‘memberi’ kepada pengemis bukanlah jalan keluar yang benar. Malah aku kagum sama kawanku yang setiap ada kucing liar, yang minta-minta pas dia makan (biasa lah, kantin di kampus) dia selalu kasih, padahal kadang itu kucing diusir-usir sama aku dan orang-orang lainnya. Trus aku nanya ke temanku itu
‘bang, kenapa kucing liar itu selalu dikasih makan disini? Kan ntar balik-balik lagi’ trus kawanku itu jawab
‘vel, kalau kita ngasih, pahalanya gede banget. Kucing kan salah satu binatang kesayangan Rasul. Aku gemes juga sih sama kucing hehe’ (okay).
Dan jawabannya itu menohok banget ke aku. Yang selama ini menganggap kucing yang datang ketika makan itu mengganggu banget. Nggak kepikiran, mungkin kucing itu media Allah bagi aku untuk ‘bersedekah’ dengan benar.

Jadi, ketika statement “mereka dapat dunia dan kamu dapat akhirat” dapat diubah, ketika kita mau mengedukasi mereka, setidaknya memberi pengertian dan tidak menggurui bahwa mengemis itu salah, mereka mungkin akan merubah dirinya. Mungkin mereka lama-lama akan tertohok dan merasa malu mengemis, dan mau untuk bekerja, even pekerjaan sederhana. Mungkin mereka akan paham apa esensi bekerja yang sesungguhnya dan berhenti untuk mengemis. Mungkin banyak orang mengemis saat ini karena semakin banyak juga yang memberi dengan anggapan sedekah. Sedekah yang benar itu banyak medianya, anak-anak yatim piatu, korban-korban perang di suriah bisa ditolong lewat ACT, korban bencana alam, dan lain-lain. Dan ketika hal-hal tersebut dilakukan statementnya berubah menjadi “mereka dapat akirat, kamu dapat akhirat dua kali lipatnya.”

Lebih enak kan?

Aku masih belum tahu gimana caranya mengedukasi mereka dengan benar, kecuali dengan cara having chit-chat dengan pengemis dan membuat percakapan tersirat bahwa mengemis bukanlah jalan keluar untuk dapat uang dan tidak memberi mereka uang, walaupun seringnya dijutekkin sama mereka.

I write this as a reminder to myself, and I hope that somehow the rate of beggar in this country will decrease.