Pages

Friday, April 10, 2020

Kekasih

Hari demi hari aku lewati.
Kadang sendiri, terasa sepi hingga kesepian itu rasa-rasanya hendak menyergapku dari arah mana saja.
Kemudian aku menangis, entah karena apa. Atau mungkin karena lelah dengan aktivitas Ibu Kota.

Seringkali aku berkeluh kesah kepadamu, Kekasih.
Tentang pekerjaanku, tentang orang-orang di Ibu Kota ini, tentang rasa masakan yang kurang tepat bagi lidahku, hampir tentang segalanya.
Lalu suatu hari kau berkata...
Kalau dirimu tidak akan pernah mengandalkan penghasilanku untuk hidup kita bersama.
Seluruh penghasilanku adalah seluruhnya hak milikku, dan untuk jalan hidup kita berdua adalah sepenuhnya tanggung jawabmu.
Karena sejatinya, sebagai perempuan aku bisa memilih hendak bekerja kantoran / tidak.
Dengan syarat, aku mampu mencari rezeki untuk diriku sendiri, jikalau kekasih kau pergi duluan dipanggil Tuhan.

Tentulah aku menangis terharu, begitu tulus kau berkata demikian.
Kekasihku, pelipur laraku.
Aku harap kamu selalu dalam lindungan Tuhan, aku harap hal-hal baik selalu datang bertubi-tubi kepadamu.

No comments:

Post a Comment