Pages

Sunday, December 25, 2016

Thoughts about Book : All The Light We Cannot See - Anthony Doerr

 All the Light We Cannot See
source : goodreads.com


“But it is not bravery; I have no choice. I wake up and live my life. Don't you do the same?”-Marie-Laure 


After a week I need to finish this beautiful one, finally I can summarize that a war is not a wise way to get an authority, it just remains loss, remains hurt. 
I do love this book. I've never read any of historical romance stories as beautiful as this is. 

At first, it took me so long to finish the 500 pages of the book. GAH! PLEASE HELP ME TO FINISH THIS! Because of- first, the story-line drive me crazy it written down very slow-going until there is a time when i feel very boring about the story line, i'm so sorry. Second, my daily language is not english, so i am not really in touch with English, so when i read the whole book, it is like reading a poem. Third, i-hate-the-life-story-while-WWII, because it leaves me a dark-angst feeling within myself. 

BUT, how could i finish it? because, even if the story-line is slow-going, this book catch my attention, it was like the stories between Marie and Werner tow me to read it until finish every bits of it. Even if the dark-angst somehow tow me into a melancholic person as well, it’s beautiful. And i do agree that this book is absolutely-utterly-beautiful i cannot explain more.  


The story between Marie-Laure and her Papa is completely drive me nuts. Marie-Laure’s Papa is everything on a man i love about. Can you ever imagine that, a man raise his daughter, without his spouse, but he can raise his daughter until his daughter grows into a beautiful and smart woman both looks and heart, and in additional, his daughter is blind. How can he doesn't become stress? I adore you Papa! :) I adore your patience, your love, your everything! 

Marie-Laure is a brave girl. Even if she is blind, her spirit to learn about the world outside hers, is contagious. Her attitude to make lots of friends, i adore her. 

Werner Pfenning. Oh, how can i describe him? 
He is a main character (boy) in this book beside Marie-Laure and her Papa. Werner Pfenning is really into science, he loves it till death. I always love a man who is very lost in his world especially about science! And i agahst when i read there are sin-cos-tan formula, class about entropy, transmitter. GOD. Suddenly I remember about my study. That’s so asdfgghjkl! I wonder what Werner Pfenning looks like? He is probably very handsome, a quiet-boy kinda like, kind, ugh!

“I am not killing you. I am hearing you. On radio. Is why I come.” He pauses, fumbling to translate. “The song, light of the moon?” She almost smiles. 


I am very curious when will Merie-Laure meet Werner, like please? :") and when i reach around page 489 finally they'll meet. Even if it just less than a day, i feel a huge, massive love hidden between them. That is why i realy love this book, because the ending is swirl back and forth and the exact point, alike the most important point why the stories flow like that is when Marie met Werner. All of the questions hidden within myself is finally asked :)

Ashtonishing. 
Beautiful. 
Extra-ordinary. 


I recommend it to you guys who love a beautiful story between war. 

Friday, July 29, 2016

Perang dunia ke-2, bom atom, hingga remahan biskuit di otak saya.

sumber : tumblr[dot]com


Akhir-akhir ini saya sering bertanya lebih kepada diri sendiri, sebenarnya hidup itu apa? Mengapa kita hidup? Mengapa Tuhan ingin kita merasakan sedih dan bahagia? Menolong satu sama lain? Bahu-membahu kala dibawah dan di atas? Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan sok filsuf itu bertebaran di otak saya layaknya sedang terjadi perang dunia ke-2, bom atom, petir menggelegar, hingga remahan biskuit tercecer kesana kemari lalu membumbung kemudian membuncah.


Buncahannya itu merupakan hari-hari yang meresahkan, mungkin di otak saya layaknya sedang terjadi hari-hari Holocaust setelah terjadinya perang dunia ke-2 nan fiktif bin konyol tersebut. Sebenarnya otak saya ini otak, atau apa? Ah saya pun bingung.


Kemudian setelah pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul, kerap kali saya mengamati tingkah laku orang-orang dewasa di sekitar saya.
Mereka berangkat pagi. Mereka bekerja untuk bertahan hidup. Kemudian ketika masalah datang mereka menangis tersedu-sedu, lanjut bekerja lagi seperti biasa. Saya bingung, lantas saya terpojok di ruangan kelabu di otak saya, sendiri (bukannya otak itu ruang kelabu?). Satu-satunya spesies di otak saya yang merasa kebingungan mengenai orang dewasa itu. Lalu berbagai macam informasi masuk melalui mata saya, merangsek masuk melalui jembatan syaraf dan sampai di otak, menghampiri saya, begitu sumringahnya ia menghampiri dengan terseok-seok. Aduh! Kasihan sekali! Seperti mengejar kuliah pukul 6 pagi di senin pagi saja!


Ya, jawaban-jawaban tersebut muncul seketika. Orang dewasa begitu karena memang mereka ‘harus’ seperti itu. Memang sudah fase mereka ‘harus’ menghadapi segala apa yang datang. Itulah hidup. Saya analis lagi mereka, ternyata menjadi dewasa begitu menyeramkan! Bayangkan saja, mereka berangkat subuh buta; bahkan semut pun masih terhenyak disudut tumpukan gula, sementara orang dewasa sudah berangkat bekerja, mencari uang, untuk makan, untuk bertahan hidup, dan segala cucu-cicit alas an lainnya, kemudian ketika mereka sedih, mereka menjerit lantas kembali seperti sedia kala. Bah! Seperti robot saja lama-lama mereka ini, tak paham lagi aku.


Kemudian saya takut. Ternyata menjadi dewasa sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi kala kau sendiri dan kekasih hati belum datang. Haduh, memang kadang dunia ini kejam. Bayangkan dengan usia lima tahun kita, apa-apa yang dikhawatirkan adalah kebingungan mengenai permainan apa yang akan dimainkan esok sore.


Kemudian saya tersadar.

Ternyata saya sedang mengalami datang bulan ketika semua pikiran sok filsuf bin absurd itu menjelma.

Menjelma menjadi hantu di dalam otak yang acapkali menjadi teman bincang pukul 12 malam.

Memang luar biasa segala apa yang wanita rasakan ketika datang bulan, banyak sekali hal-hal yang sepatutnya tidak usah dipikir dalam-dalam. Sial, hormone ini ternyata yang mengatur saya, harusnya saya yang mengatur mereka.

Lalu ketenangan tersebut datang ketika saya membaca Qur’an. Entah kenapa semua perang, bom atom, petir menggelegar, remahan biscuit sirna perlahan-lahan. Kekuatan spiritual itulah yang saya yakin adanya tujuan Tuhan menciptakan apa itu hidup, apa itu orang dewasa, dan apa itu otak saya yang absurd.

Sampai detik saya menulis ini, saya masih merasakan sensasi luar biasa tenang ketika membaca Qur’an, sungguh pemadam ampuh bagi emosi yang eksplosif di diri saya ini.

Sekian.

Bandung coret, 29 Juli 2016.

(pikiran absurd kala emang mie tek-tek lewat di depan rumah)