Pages

Thursday, January 30, 2014

Racauan : People and Effort.

Kesel. 
Itu sih kata-kata yang pas kalo saat-saat itu dateng. 

Pernah nggak sih ngerasa kesel sendiri? Padahal orang lain ngebuat semuanya jadi super ribet buat mood kita. Saat ada orang lain yang minta bantuan ke kamu, sementara keesokan harinya pas kita minta bantuan dia, dengan malas-malasan dia bergerak buat membantu. Atau mereka sama sekali nggak ngebantu kita, dengan berbagai genre alasan yang bikin muak.

Tunggu dulu, konteks disini bukan berniat negatif atau jelek-jelekkin seseorang, cuman ingin menumpah ruahkan aja, sih. Bukan juga kalau kita ngebantu seseorang, orang tersebut harus memberi imbalan balik. Sama sekali nggak. Aku seneng banget selagi bisa, aku bisa banu orang yang bersangkutan. Cuman, kenapa sih saat kita butuh, saat kita minta tolong, kesan mereka ke kita itu nol besar?

Dan aku sering menemui orang-orang seperti itu. 
lempar orangnya ke kali Ciliwung
*hembusin nafas*
*elus dada*
*do'ain orangnya semoga sadar*

Between people and effort actually make me confuse to the most. 

Friday, January 24, 2014

Mampir ke gedung Kompas

Jadi itu hasil jepretan kamera hp aku yang kurang bagus, saat mampir ke gedung Kompas Gramedia. 

Mampir? 
Iya. Jadi waktu itu aku kan iseng ikut seleksi Kompas Muda. Trus aku kirim CV-ku. Dan alhamdulillah lolos seleksi CV dan dipanggil untuk wawancara di gedung Kompas.

Foto yang pertama itu ada anak-anak lain yang lagi nunggu giliran wawancara. Foto yang kedua diambil pas aku sama temenku (kami dipanggil wawancara) keliling gedung Kompas. Gedungnya enak banget, bikin betah, apalagi waktu kesana pas lagi hujan deras. Foto yang ketiga diambil dari kaca jendela yang mau naik ke lantai entah laintai berapa. Yang keempat, foto aku sama chuck taylor yang udah buluk dan udah singgah kemana-mana.

Walaupun belum keterima jadi kompas muda batch V, tapi seneng banget.
Kenapa? Kok malah seneng?
Karena aku dapet pengalaman baru dan bisa mampir ke gedung kompas.
Sekian *kemudian tertawa sendiri*

Somebody Out There

When those feelings come to me suddenly, i do not have no idea what must i do. I just write and listen. Mostly to the song which can makes me get better. So here's the sweet song i listen everytime i get down. Somebody Out There from A Rocket To The Moon. 



You deserve someone who listens to you
Hears every word and knows what to do
When you’re feeling hopeless lost and confused
There’s somebody out there who will

You need a man who holds you for hours
Make your friends jealous
When he brings you flowers
And laughs when he says they don’t have love like ours
There somebody out there who will

There’s somebody out there who’s looking for you
Someday he’ll find you, I swear that its true
He’s gonna kiss you and you’ll feel the world standstill
There’s somebody out there who will

He’ll take you dancing and pull you in close
Spin you around and won’t let you go
Till they turn the lights off and he’ll take you home
There’s somebody out there who will

There’s somebody out there who’s looking for you
Someday he’ll find you I swear that its true
He’s gonna kiss you and you’ll feel the world standstill
There’s somebody out there who will

Tossing and turning and dreaming at night
About finding him and praying and hoping you might
‘Cause you deserve someone who knows how to treat you right

I know he’s out there
He’s looking for you
Someday he’ll find you I swear that it’s true
And he’s gonna kiss you and you’ll feel the world standstill
Oh

You need some who’ll miss you
Hold you and kiss you
There’s somebody out there who will

Racauan : Setiap apa-apa memiliki warna.

Oke, jadi kali ini saya ingin meracau tentang warna. 

foto diambil dari tumblr dengan search : colour 

Tulisan ini lebih ke personal sih sifatnya, lebih ke pikiran random saya yang tiba-tiba muncul. Yang sebenernya sering banget muncul, tapi menguapnya juga sering banget. 

Menurut saya, setiap apa-apa itu punya warna. Misal, kalau saya pulang ke rumah, saya ingat tentang mama atau papa atau saudara perempuan saya. Nggak hanya harumnya yang khas, setiap sosok tersebut juga memiliki warna yang mencerminkan dirinya. Kalau saya ingat mereka, saya teringat warna putih tulang. 
Mengapa harus warna putih tulang? Entahlah. Itu yang saya maksud pikiran random yang sering banget muncul. Putih tulang itu rasanya lembut dan suci. Nyaman dan juga nggak buat saya merasa asing. Kalau mencicipi kue bolu buatan mama, saya ingatnya warna putih tulang. Kalau sedang baca buku berdua dengan papa, suasana momen itu warnaya putih tulang. 

Banyak orang bilang, "I'm feeling blue, ugh." i don't think so. 
Kenapa istilah galau punya frase feeling blue? Apa kebanyakan orang kalau lagi bergalau ria, yang ada di awang-awangnya warna biru semua? Jawabannya, saya nggak tahu. 

Warna biru kalau menurut saya, identik dengan suasanya yang tenang. Tenang dan damai. Seperti waktu kecil saya duduk di atas lapangan hijau di sore hari pukul empat, lalu langit biru muda tanpa awan, memenuhi pemandangan mata saya. Lalu ditambah angin yang sepoi-sepoi membaur dengan suasana. Rasanya damai dan tenang. Bukan galau yang sampai bersedih-sedihan. Malah saya ingin berlama-lama rebahan di lapangan hijau tersebut.
Warna yang pas untuk bergalau ria itu ya warna semrawut, yang nggak karuan, yang dicampur ini-itu sehingga jadi nggak jelas. 

Kalau ingat hujan, saya ingat warna abu-abu dan putih. Saya bukan penggemar hujan sih, bukan juga nggak suka sama hujan. I'm not really addict to it. Kalau hujan, ya itu berkah. 

Kenapa harus abu-abu dan putih? Kenapa nggak hitam saja? 
Karena setiap hujan, momen yang hadir lebih kuat. Entah itu momen duka atau momen suka. Kalau momen duka, saya ingat-ingat itu dan tersenyum meringis. Lalu warna yang muncul jadi abu-abu. Momen itu pahit, seperti kopi hitam, tapi itu masa lalu. Lalu hujan yang datang mengingatkan itu menyadarkan saya bahwa itu suatu pelajaran, dan masih ada masa depan membentang yang lebih baik. Semuanya identik dengan abu-abu, nggak pahit nggak manis. 
Kalau putih, saya jadi ingat momen suka saya. Momen bahagia sama mama, papa, adik-adik. Momen seru-seruan sama sahabat. Momen sama si doi. Semuanya putih, membahagiakan. Dan hujan yang hadir membuat momen itu lebih kuat, entah kenapa. 


Dan saya selalu setuju, bahwa setiap apa-apa itu punya warna. Bukan warna dari objek tersebut, tapi warna yang ada di pikiran saya, warna yang melingkupi objek atau suasana tersebut. 

Gimana menurut kamu? Apa hal-hal random yang kamu ingat tiba-tiba ingat sama suatu warna? Apa momen sedih waktu itu ada warna tersendiri? Apa momen bahagia sampai kamu ingin berteriak dan jingkrak-jingkrak itu juga punya warna yang mengingatkan kamu? 

Thursday, January 2, 2014

Catatan Kecil : Papa

Kalau membicarakan orang tua, tentang kerja keras mereka, rasanya saya ingin menangis. Seminggu ini pun, sepertinya saya terlalu banyak menangis gara-gara menonton film, yang ada kaitannya dengan orang tua. Oke, sebut saya ini lebay atau dramaqueen. Tapi jujur, kalau ingat orang tua, ingat mama, ingat papa, saya bisa menangis sekejer-kejernya. Masih merasa malu sama diri sendiri, belum bisa kasih yang terbaik untuk mama papa.


Papa. One in a million. Cinta pertama saya. Yang selalu bawel dan cerewet di telefon kalau saya sedang nggak ada di rumah.
'Cepat pulang, anak perempuan nggak boleh pulang malam.'
'Mbak, pulang udah malam.'
'Mbak diluar udah makan belum?'
ah, rasanya senang sekali di recoki oleh bertubi-tubi perasaan khawatir papa seperti itu. Nggak ada laki-laki yang seperhatian papa kepada saya. Nggak ada laki-laki yang sesayang papa kepada saya. Nggak ada laki-laki lain yang selalu dukung saya, dalam kegiatan apapun, selain papa saya. 

Papa nggak pernah pukul saya. Saya sangat tenang kalau duduk berdua dengan papa membaca buku. Atau berdebat tentang ini-itu. Atau berbicara mengenai kerajaan Majapahit (papa saya senang membahas ini). Atau tentang buku-buku jaman dulu. 
Saya ingat sekali waktu balita, kepala saya dielus-elus sampai saya tertidur pulas. Bahkan sampai umur saya menginjak 16 tahun ini, saya masih sangat ingat bagaimana rasanya. 


Papa agak keras dengan agama. Dan saya yang bandel ini masih merasa berdosa, jikalau saya keluar pagar rumah nggak memakai jilbab. Papa yang selalu diam-diam membuka handphone saya, membaca pesan saya, siapa laki-laki yang mengirimi saya pesan. Papa yang khawatir tentang anak-anaknya. 
Papa itu laki-laki nomor satu untuk saya. Yang membiayai saya sekolah, yang memberi nafkah, yang bekerja sampai berpeluh-peluh. Papa adalah panutan saya. Papa pintar mengaji. Papa banyak hafal surat-surat di dalam Al-Qur'an. Papa yang menjunjung tinggi tentang kesucian. Papa yang suka buah belimbing. Papa yang sangat sayang sama mama. Papa yang sangat sayang kepada anak-anaknya.

Papa yang nggak gendut, nggak kurus. Papa yang gemar membaca. Papa yang mengelus-elus kepala saya. Papa yang pendiam. Papa yang humoris. Papa yang bekerja keras. Nggak ada kata-kata untuk mengungkapkan lebih, selain 'aku sangat sayang papa. aku sayang papa'.

I love you, pa. I love you.