Kalau membicarakan orang tua, tentang kerja keras mereka, rasanya saya ingin menangis. Seminggu ini pun, sepertinya saya terlalu banyak menangis gara-gara menonton film, yang ada kaitannya dengan orang tua. Oke, sebut saya ini lebay atau dramaqueen. Tapi jujur, kalau ingat orang tua, ingat mama, ingat papa, saya bisa menangis sekejer-kejernya. Masih merasa malu sama diri sendiri, belum bisa kasih yang terbaik untuk mama papa.
Papa. One in a million. Cinta pertama saya. Yang selalu bawel dan cerewet di telefon kalau saya sedang nggak ada di rumah.
'Cepat pulang, anak perempuan nggak boleh pulang malam.'
'Mbak, pulang udah malam.'
'Mbak diluar udah makan belum?'
ah, rasanya senang sekali di recoki oleh bertubi-tubi perasaan khawatir papa seperti itu. Nggak ada laki-laki yang seperhatian papa kepada saya. Nggak ada laki-laki yang sesayang papa kepada saya. Nggak ada laki-laki lain yang selalu dukung saya, dalam kegiatan apapun, selain papa saya.
Papa nggak pernah pukul saya. Saya sangat tenang kalau duduk berdua dengan papa membaca buku. Atau berdebat tentang ini-itu. Atau berbicara mengenai kerajaan Majapahit (papa saya senang membahas ini). Atau tentang buku-buku jaman dulu.
Saya ingat sekali waktu balita, kepala saya dielus-elus sampai saya tertidur pulas. Bahkan sampai umur saya menginjak 16 tahun ini, saya masih sangat ingat bagaimana rasanya.
Papa agak keras dengan agama. Dan saya yang bandel ini masih merasa berdosa, jikalau saya keluar pagar rumah nggak memakai jilbab. Papa yang selalu diam-diam membuka handphone saya, membaca pesan saya, siapa laki-laki yang mengirimi saya pesan. Papa yang khawatir tentang anak-anaknya.
Papa itu laki-laki nomor satu untuk saya. Yang membiayai saya sekolah, yang memberi nafkah, yang bekerja sampai berpeluh-peluh. Papa adalah panutan saya. Papa pintar mengaji. Papa banyak hafal surat-surat di dalam Al-Qur'an. Papa yang menjunjung tinggi tentang kesucian. Papa yang suka buah belimbing. Papa yang sangat sayang sama mama. Papa yang sangat sayang kepada anak-anaknya.
Papa yang nggak gendut, nggak kurus. Papa yang gemar membaca. Papa yang mengelus-elus kepala saya. Papa yang pendiam. Papa yang humoris. Papa yang bekerja keras. Nggak ada kata-kata untuk mengungkapkan lebih, selain 'aku sangat sayang papa. aku sayang papa'.
I love you, pa. I love you.