(pic source : Tumblr)
Jalanan selalu penuh dengan orang-orang dan
cerita-ceritanya.
Jadi pada suatu siang yang panas terik (ceilah!), aku
sama kawan dari bandung lagi ada di luar kota. Kebetulan kami lagi magang, dan
ya jalan-jalan sedikit di kota tersebut untuk sekedar tahu seperti apa kotanya.
Kebetulan, temenku ini lagi ingin beli oleh-oleh buat keponakannya.
Trus nih, ketika kami lagi di suatu toko untuk
keperluan magang kami, tiba-tiba ada dua orang anak sekolahan (I guessed this because they were wearing
uniform) mendatangi kami, dan menadahkan tangannya untuk meminta uang
kepada kami.
Entah kenapa anak tersebut mendatangi aku sama
temennku ini, mungkin mereka berpikir orang dewasa lebih bisa ‘memberi’atau
entah penampilanku sama temen ini dari orang pendatang banget apa gimana. Never
get the answer. Salah satu anak dari keduanya itu lagi memegang minuman di plastik
gitu, semacam teh manis dingin. Kind of. Lalu aku mikirlah disitu, “ini anak
pakai seragam lengkap, sandal juga pakai, bisa beli jajan, tapi kenapa
minta-minta ya?” sekelebat pikiran yang mengkotak-kotakkan tindakan manusia
untuk memberi.
Temanku kasih uang recehnya ke mereka. Sembari temenku
mencari uang recehnya ini, aku tanya ke anak yang bawa minuman tadi,
Aku : “Dek,
kelas berapa?”
Adik : “Kelas
6 kak.”
*amazed*
Aku : “Ooh
kelas 6, sebentar lagi ujian dong ya?”
*si doi ngangguk*
Gatel banget ingin nanya, orang tuanya kemana, atau
walinya kemana. Atau untuk menasihati bahwa meminta yang kesannya seperti
pengemis itu sebenarnya tidak baik. Tapi semua itu aku tahan. Rasa-rasanya juga
nggak etis ngomong gitu di depan orang banyak.
Aku : “Okey
dek belajar yang bener ya, biar jadi orang sukses.”
Kemudian si doi dahinya mengkerut, mencoba menafsir
kali ya apa yang aku katakana barusan. Kemudian ngangguk dan pergi sama
temennya setelah dikasih duit receh sambal ketawa riang (halah dek-dek jadi kangen bahwa bahagia se-sederhana itu.)
Somehow masih bingung juga apakah tindakanku untuk
nggak memberinya uang receh adalah benar. Kalau aku boleh milih antara yang
baik dan yang benar, aku pilih benar. Karena yang baik belum tentu benar, tapi
kalau benar insya Allah itu baik. Aku nggak ingin aja, adik-adik seperti tadi
yang bersekolah dan bertubuh lengkap (I mean, nggak disfungsional)
meminta-minta. Mungkin orang tuanya nggak memberinya uang lebih untuk sekedar
jajan atau bagaimana, aku nggak tau. Tapi alangkah baiknya tindakan memberi
kepada mereka-mereka yang masih mampu untuk bekerja itu dikurangi.
Pernah juga nih baca thread di sosial media yang membahas tentang ini. Sebenernya bahasan
ini sangat pro-kontra. Ada yang berpendapat mungkin nggak semua orang yang
mampu itu dapat kesempatan bekerja walaupun dia sudah berusaha, jadi masalah
kita memberi itu dijadikan sedekah, yang penting kita ikhlas bahwa itu pure
sedekah. Dan banyak yang berpendapat bahwa “Mereka dapat dunia dan kamu dapat
akhirat.”
I still don’t get the point and I do not agree of
that.
Maksudku, entah mungkin karena di Bandung juga banyak
pengemis dan mereka sehat walafiat, bahkan katanya sehari bisa dapat ratusan
ribu, dan realita itu membuat aku berpendapat bahwa ‘memberi’ kepada pengemis
bukanlah jalan keluar yang benar. Malah aku kagum sama kawanku yang setiap ada
kucing liar, yang minta-minta pas dia makan (biasa lah, kantin di kampus) dia
selalu kasih, padahal kadang itu kucing diusir-usir sama aku dan orang-orang
lainnya. Trus aku nanya ke temanku itu
‘bang, kenapa kucing liar itu selalu dikasih makan
disini? Kan ntar balik-balik lagi’ trus kawanku itu jawab
‘vel, kalau kita ngasih, pahalanya gede banget. Kucing
kan salah satu binatang kesayangan Rasul. Aku gemes juga sih sama kucing hehe’
(okay).
Dan jawabannya itu menohok banget ke aku. Yang selama
ini menganggap kucing yang datang ketika makan itu mengganggu banget. Nggak kepikiran,
mungkin kucing itu media Allah bagi aku untuk ‘bersedekah’ dengan benar.
Jadi, ketika statement “mereka dapat dunia dan kamu
dapat akhirat” dapat diubah, ketika kita mau mengedukasi mereka, setidaknya
memberi pengertian dan tidak menggurui bahwa mengemis itu salah, mereka mungkin
akan merubah dirinya. Mungkin mereka lama-lama akan tertohok dan merasa malu
mengemis, dan mau untuk bekerja, even pekerjaan sederhana. Mungkin mereka akan
paham apa esensi bekerja yang sesungguhnya dan berhenti untuk mengemis. Mungkin
banyak orang mengemis saat ini karena semakin banyak juga yang memberi dengan
anggapan sedekah. Sedekah yang benar itu banyak medianya, anak-anak yatim
piatu, korban-korban perang di suriah bisa ditolong lewat ACT, korban bencana
alam, dan lain-lain. Dan ketika hal-hal tersebut dilakukan statementnya berubah
menjadi “mereka dapat akirat, kamu dapat akhirat dua kali lipatnya.”
Lebih enak kan?
Aku masih belum tahu gimana caranya mengedukasi mereka
dengan benar, kecuali dengan cara having chit-chat dengan pengemis dan membuat
percakapan tersirat bahwa mengemis bukanlah jalan keluar untuk dapat uang dan
tidak memberi mereka uang, walaupun seringnya dijutekkin sama mereka.
I write this as a reminder to myself, and I hope that
somehow the rate of beggar in this country will decrease.

No comments:
Post a Comment