Surat ini diikutsertakan untuk lomba #SuratUntukRuth novel Bernard Batubara.
Teruntuk,
lelaki September.
Sebuah lagu berjudul
‘September’ tadi malam terputar di radio secara tidak sengaja. Lalu aku
tiba-tiba saja tersentak, dan pikiran melayang, mencari kotak lama tentang
kita. Yang sekarang label ‘kita’ sudah kadaluarsa dan tidak ada. Lalu dengan
ditemani lagu ‘September’, remang jalanan malam, kegelapan di dalam mobil, juga
tetes hujan yang menyumput malu dibalik lampu-lampu jalan, aku tersenyum. Entah
aku pun tidak bisa mendefinisikan arti senyum itu apa dan karena apa. Semuanya
begitu tiba-tiba. Lagu itu seakan badut yang mengagetkanku yang sedang melamun
di tengah keramaian taman bermain.
Ini
hanya basa-basi kata berstampelkan surat.
Terserah
apa kamu sudi membacanya atau tidak.
Kamu,
laki-laki yang aku kagumi daridulu. Kita pernah punya angan-angan konyol akan
tinggal dalam rumah yang sederhana. Saat semua itu tersebut pukul stengah enam
sore, rebahan berdua di tanah lapang, dibawah langit yang beranjak senja.
Burung-burung, bahkan layang-layang pun sedang menertawakan kita sepertinya.
Betapa dua insan muda itu dimabuk roman hingga kepayang.
Kamu,
seseorang yang pernah bersamaku merasakan teori-teori dangkal di buku roman
kesukaanku. Yang pernah mengisi percakapan sepertiga malam hingga ujung
jendelaku pun cemburu. Yang pernah tertawa dan menari bersama, seperti penghuni
rumah sakit jiwa dibawah langit yang sedang deras-derasnya menangis.
Lagu
tadi malam juga membuatku pilu seperti teriris sembilu. Mengenang kembali
pijakan kita dulu. Rasanya, aku ingin berteriak saja. Hingga seluruh isi
perutku memberontak keluar. Hingga kepala ini pecah. Hingga air mata ini
bercampur adu dengan darah. Mengingat kandasnya kita, beralasankan Tuhan kita
yang beda. Tentang berbedanya jalur, dan pertentangan keluarga. Dan bahkan,
tinggal berdua dalam rumah sederhana pun kini sudah basi. Seperti sebongkah
nasi dua hari di atas meja.
Tetapi
kamu, masih tetap laki-laki yang aku kagumi. Kamu mengajariku untuk tetap
berada di jalur sebagaimana mestinya. Kamu yang bersikukuh untuk menuruti
kemauan ibunda mu tercinta, bahwa cinta kita mutlak terlarang. Dan kamu juga
mengajariku untuk tidak terlalu carut-marut menghadapinya. Bahwa kelak, kalau
Tuhan mengizinkan, kita akan mengucap janji setia berdua hingga mati. Dan
lagi-lagi, kamu juga mengajariku untuk ikhlas.
Sudah
dua tahun ini kata-kata ikhlas itu, aku harap senantiasa menjadi teman
terdekatku. Dan hari ini, tanggal 13 September, aku menuliskan ini untukmu.
Hanya Tuhan yang tahu apa kamu sempat singgah untuk membaca ini apa tidak, di
hari jadi kita yang ke lima tahun-seharusnya.
Perempuan yang
jatuh cinta pada lelaki September.
No comments:
Post a Comment