Pages

Tuesday, April 1, 2014

Surat Untuk Mantan

Surat ini diikutsertakan untuk lomba #SuratUntukRuth novel Bernard Batubara.


   
            Teruntuk, lelaki September.

Sebuah lagu berjudul ‘September’ tadi malam terputar di radio secara tidak sengaja. Lalu aku tiba-tiba saja tersentak, dan pikiran melayang, mencari kotak lama tentang kita. Yang sekarang label ‘kita’ sudah kadaluarsa dan tidak ada. Lalu dengan ditemani lagu ‘September’, remang jalanan malam, kegelapan di dalam mobil, juga tetes hujan yang menyumput malu dibalik lampu-lampu jalan, aku tersenyum. Entah aku pun tidak bisa mendefinisikan arti senyum itu apa dan karena apa. Semuanya begitu tiba-tiba. Lagu itu seakan badut yang mengagetkanku yang sedang melamun di tengah keramaian taman bermain.

            Ini hanya basa-basi kata berstampelkan surat.

            Terserah apa kamu sudi membacanya atau tidak.

            Kamu, laki-laki yang aku kagumi daridulu. Kita pernah punya angan-angan konyol akan tinggal dalam rumah yang sederhana. Saat semua itu tersebut pukul stengah enam sore, rebahan berdua di tanah lapang, dibawah langit yang beranjak senja. Burung-burung, bahkan layang-layang pun sedang menertawakan kita sepertinya. Betapa dua insan muda itu dimabuk roman hingga kepayang.

            Kamu, seseorang yang pernah bersamaku merasakan teori-teori dangkal di buku roman kesukaanku. Yang pernah mengisi percakapan sepertiga malam hingga ujung jendelaku pun cemburu. Yang pernah tertawa dan menari bersama, seperti penghuni rumah sakit jiwa dibawah langit yang sedang deras-derasnya menangis.

            Lagu tadi malam juga membuatku pilu seperti teriris sembilu. Mengenang kembali pijakan kita dulu. Rasanya, aku ingin berteriak saja. Hingga seluruh isi perutku memberontak keluar. Hingga kepala ini pecah. Hingga air mata ini bercampur adu dengan darah. Mengingat kandasnya kita, beralasankan Tuhan kita yang beda. Tentang berbedanya jalur, dan pertentangan keluarga. Dan bahkan, tinggal berdua dalam rumah sederhana pun kini sudah basi. Seperti sebongkah nasi dua hari di atas meja.

            Tetapi kamu, masih tetap laki-laki yang aku kagumi. Kamu mengajariku untuk tetap berada di jalur sebagaimana mestinya. Kamu yang bersikukuh untuk menuruti kemauan ibunda mu tercinta, bahwa cinta kita mutlak terlarang. Dan kamu juga mengajariku untuk tidak terlalu carut-marut menghadapinya. Bahwa kelak, kalau Tuhan mengizinkan, kita akan mengucap janji setia berdua hingga mati. Dan lagi-lagi, kamu juga mengajariku untuk ikhlas.

            Sudah dua tahun ini kata-kata ikhlas itu, aku harap senantiasa menjadi teman terdekatku. Dan hari ini, tanggal 13 September, aku menuliskan ini untukmu. Hanya Tuhan yang tahu apa kamu sempat singgah untuk membaca ini apa tidak, di hari jadi kita yang ke lima tahun-seharusnya.

Perempuan yang jatuh cinta pada lelaki September.
            

No comments:

Post a Comment