Saturday, March 22, 2014
Percakapan absurd dengan sel kelabu.
"Lo tahu nggak, kadang gue cinta banget sama hujan. Padahal, gue orangnya ya biasa-biasa aja gitu kalau hujan dateng. Biasa-biasa juga sama bau petrichor."
"Dulu, gue sama hujan stranger gitu. Acuh malah, jual harga diri tinggi gitu deh. Tapi sekarang kita temenan baik. Dia baik banget sama gue. Ternyata bener, orang yang paling lo nggak mau berteman sama dia, eh malah jadi temen baik akhirnya."
"Jadi, pernah suatu sore, gue kejebak sama doi. Gara-gara hujan. Kita neduh di tempat parkiran pasar tradisional gitu. Dadakan banget pokoknya. Dan disana banyak banget orang. Tapi masa bodoh, gue nggak peduli."
"Disana kita ngobrol banyak banget. Gue seneng hujan tetep turun selama dua jam. Gue bisa lihat senyum doi ke gue. Mata dia yang berbinar-binar. Sikap gentle dia yang nyuruh gue duduk aja di motornya, daripada gue pegel berdiri selama berjam-jam. Gue seneng banget hari itu. Itu hari Sabtu, gue inget banget."
"Hei sel kelabu! Lo ngedengerin gue kan? Lo bisa bayangin, kan gimana senangnya gue hari Sabtu bulan Desember itu?"
"Ah, lo kan pernah muda juga, wahai Sel Kelabu. Lo pasti ngerti gimana rasanya, gimana rasa meletup-letup itu ada di perut lo. Dan lo pulang ke rumah dengan senyum idiot bertengger di bibir lo semalaman."
"Bagi gue, hal-hal kecil kayak gitu yang paling berkesan. Bukan pemberian mewah seperti coklat mahal dan tetek bengeknya. Gue suka percakapan gue sama 'dia' saat kejebak hujan itu. Kita bisa ngobrol apa aja, ngalor-ngidul. Bicara soal keluarganya, soal kehidupannya yang lampau, terus kita sama-sama tertawa karena takdir kita yang dulu itu ternyata konyol. Dan ini titik puncak kebahagiaan gue, saat kita sama-sama tertawa."
"Gue lebih suka ngopi sama dia, terus ngobrol berjam-jam. Dapet sms selamat pagi yang bikin mood gue naik seharian. Naik motor bareng dia, dan cobain rute-rute ngaco yang belum pernah gue atau dia telusuri. Dianter dia ke perpustakaan kota, dia nungguin gue dengan sabar saat gue harus pilih buku apa. Ke kantin bareng sama dia, kadang-kadang dia beliin gue beng-beng. Ngobrol di depan koridor kelas saat jam istirahat. Dipinjemin jaket dia yang wanginya doi banget."
"Tapi sel kelabu, gue nggak tahu kenapa akhir-akhir ini sedih banget. Gue juga nggak tahu kenapa. Sedih sendiri, ya sakitnya sendiri. Mau cerita ke siapa juga percuma. Lo juga pasti bosen kan nina boboin gue tiap malem dengan mata bengkak dan sesenggukan. Intinya, gue sedih. Dan, gue nggak tahu harus apa."
"Sel kelabu, please gue harus gimana?"
Labels:
uncategorized
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment