Sebenernya
agak aneh dan kurang penting juga sih menuliskan hal ini karena ini pure
hal-hal kecil yang aku perhatikan. Tapi sebenernya tingkat keseriusan pada saat
menulis ini ada benarnya, soalnya aku ngalamin hal ini dan menurutku ini cukup
penting, terlebih untuk reminder aja sih, dan ini lebih terkesan curhat.
Jadi
begini. Semester 4 sudah hampir setengah berjalan dan pada semester inilah aku
ketemu dosen yang hmm gimana jelasinnya ya? Honestly, I adore her so much. Tapi
entah kenapa, kami, satu kelas (atau bahkan mungkin satu jurusan?) sangat segan
terhadap beliau. But to be honest she is a kindhearted woman. Cuman, suasana di
kelas pada saat mata kuliah beliau tuh agak-agak horror tegang meggemaskan gitu
deh. Mangkanya, sejujurnya sensasi pada saat bertemu beliau itu abstrak gitu.
Beliau
ini kerap menyelipkan nasihat-nasihat tentang kehidupan di tengah-tengah mata
kuliahnya. Beliau ini orang yang disiplin terlebih karena pengalaman beliau di
benua Eropa pada saat menyenyam pendidikan. Rasa-rasanya budaya orang sana
sudah terpatri di diri beliau. Kedisiplinannya, masalah tepat waktu, masalah
tolerasi, dan lain sebagainya. Pada suatu pertemuan, beliau ini bercerita
tentang makanan.
Kurang
lebih beliau berkata seperti ini (ini seingetnya aja sih pokoknya intinya
begitu) “Orang Indonesia itu kalau beli atau ambil makanan sukanya banyak.
Semua dibeli, ditaruh dipiring, tetapi tidak dihabiskan. Tipikal orang
Indonesia banget nih, sudah miskin malah hambur makanan.”
And
that’s when I got stuck in her words, got my throat right open.
Bener
banget, setuju banget dengan statement beliau. Beliau mengkritisi bahkan hingga
hal terkecil seperti ini. Aku merasa tersindir sih karena kadang kalau makan
banyak nggak habisnya, kemudian dibuang begitu saja, memang nafsu makan
akhir-akhir ini menurun drastis. Sebenernya aku tau itu hal yang salah namun
entah mengapa budaya yang melingkupiku tidak semuanya aware terhadap perilaku
yang salah tersebut. Hingga pada saat kuliah ini aku bertemu dengan salah satu kawan
yang makannya tuh pelan banget, suapannya sungguh kecil-kecil bak putri
keraton, tapi satu piring porsi makanan di kampus (yang tipikal banyak banget,
bok, suer) dia habis, ya walaupun lama sih habisnya, but at least she did her
responsibilities. Jujur, kagum sama dia.
Dari
mata kuliah tersebut aku berusaha untuk menghabiskan makanan yang aku ambil,
yang aku jadikan sebagai tanggung jawab pada saat itu juga, yang Tuhan jadikan berkah.
Entah kenapa, dari hal kecil seperti itu sangat men-trigger aku untuk berubah menjadi
lebih baik bahkan dari hal kecil seperti menghabiskan makanan. Karena serius
deh, kalau denger cerita kawan medsos dari negeri sebrang, bahkan untuk
mendapatkan akses makanan aja tuh susahnya minta ampun, hal yang paling menjadi
akar dari kesulitan ini salah satunya ialah terjadinya perang diluar sana,
diluar Indonesia, dimana aku sebagai orang awam nggak mengetahui bagaimana
sulitnya struggling ditengah-tengah perang. Aduh ini jadi nyambung ke perang
gini jadinya.
Kalau
ortu dulu bilang ‘ayo habiskan makananya, nanti nasinya nangis’, baru kecerna
sekarang kali ya. Menurutku, nangis disini kiasan, yg artinya, si nasi ini
menangis karena orang yang bertanggung jawab ke si doi malah tidak bertanggung
jawab. Si doi nangis padahal masih banyak orang-orang yang bahkan untuk sesuap
nasi aja tuh susahnya minta ampun, eh malah dibuang-buang sama orang yang belum
bertanggung jawab ini. Case disini nggak hanya nasi, tapi setiap makanan apapun
itu.
Sebenarnya
cara pandang tiap orang itu realtif, mungkin bagi sebagian orang apa yang aku
tuliskan ini sekedar racauan nggak jelas dan sepertinya untuk menghabiskan
makanan itu perihal yang sederhana dan mudah. Tapi percayalah, masih ada
segelintir orang yang belum benar-benar menghabiskan makanannya, belum mengerti
hakikatnya. Bahkan pernah sekali waktu aku baca Natgeo edisi berapa lupa ya,
disitu ngebahas sampah makanan di eropa, dan itu super-duper menggunung.
Bayangin man, itu sampah makanan yang
nggak habis dimakan, dan menurutku budaya untuk menghabiskan makanan secara
penuh itu masih belum merata.
Pernah aku ikut semacam kegiatan PKM dari dosen yang membutuhkan SDM
mahasiswa untuk sosialisasi di suatu daerah tentang sampah. Dan disitu juga
ternyata dibahas tentang sampah makanan. Ternyata sampah makanan juga bisa
menjadi media tanam, melalui teknologi terbaru. Sebenernya antara senang dan
sedih juga sih. Senang karena disatu sisi ada teknologi yang bisa memanfaatkan
sesuatu yang tidak berguna menjadi punya value yg jelas bermanfaatlah ya, tapi
disatu sisi sedih juga karena kalau sudah terbersit ide ‘sampah makanan’ ini
berarti banyak kesempatan untuk dijadikannya suatu terobosan, yg artinya
‘sampah makanan’ ini masih banyak loh guys. Someways I feel terrible, just….
Because of this little things. So dude, finish what you’ve started, finish your
meal until none left in your food-place.
No comments:
Post a Comment