Pages

Saturday, April 1, 2017

Makanan

Sebenernya agak aneh dan kurang penting juga sih menuliskan hal ini karena ini pure hal-hal kecil yang aku perhatikan. Tapi sebenernya tingkat keseriusan pada saat menulis ini ada benarnya, soalnya aku ngalamin hal ini dan menurutku ini cukup penting, terlebih untuk reminder aja sih, dan ini lebih terkesan curhat.

Jadi begini. Semester 4 sudah hampir setengah berjalan dan pada semester inilah aku ketemu dosen yang hmm gimana jelasinnya ya? Honestly, I adore her so much. Tapi entah kenapa, kami, satu kelas (atau bahkan mungkin satu jurusan?) sangat segan terhadap beliau. But to be honest she is a kindhearted woman. Cuman, suasana di kelas pada saat mata kuliah beliau tuh agak-agak horror tegang meggemaskan gitu deh. Mangkanya, sejujurnya sensasi pada saat bertemu beliau itu abstrak gitu.

Beliau ini kerap menyelipkan nasihat-nasihat tentang kehidupan di tengah-tengah mata kuliahnya. Beliau ini orang yang disiplin terlebih karena pengalaman beliau di benua Eropa pada saat menyenyam pendidikan. Rasa-rasanya budaya orang sana sudah terpatri di diri beliau. Kedisiplinannya, masalah tepat waktu, masalah tolerasi, dan lain sebagainya. Pada suatu pertemuan, beliau ini bercerita tentang makanan.

Kurang lebih beliau berkata seperti ini (ini seingetnya aja sih pokoknya intinya begitu) “Orang Indonesia itu kalau beli atau ambil makanan sukanya banyak. Semua dibeli, ditaruh dipiring, tetapi tidak dihabiskan. Tipikal orang Indonesia banget nih, sudah miskin malah hambur makanan.”

And that’s when I got stuck in her words, got my throat right open.

Bener banget, setuju banget dengan statement beliau. Beliau mengkritisi bahkan hingga hal terkecil seperti ini. Aku merasa tersindir sih karena kadang kalau makan banyak nggak habisnya, kemudian dibuang begitu saja, memang nafsu makan akhir-akhir ini menurun drastis. Sebenernya aku tau itu hal yang salah namun entah mengapa budaya yang melingkupiku tidak semuanya aware terhadap perilaku yang salah tersebut. Hingga pada saat kuliah ini aku bertemu dengan salah satu kawan yang makannya tuh pelan banget, suapannya sungguh kecil-kecil bak putri keraton, tapi satu piring porsi makanan di kampus (yang tipikal banyak banget, bok, suer) dia habis, ya walaupun lama sih habisnya, but at least she did her responsibilities. Jujur, kagum sama dia.

Dari mata kuliah tersebut aku berusaha untuk menghabiskan makanan yang aku ambil, yang aku jadikan sebagai tanggung jawab pada saat itu juga, yang Tuhan jadikan berkah. Entah kenapa, dari hal kecil seperti itu sangat men-trigger aku untuk berubah menjadi lebih baik bahkan dari hal kecil seperti menghabiskan makanan. Karena serius deh, kalau denger cerita kawan medsos dari negeri sebrang, bahkan untuk mendapatkan akses makanan aja tuh susahnya minta ampun, hal yang paling menjadi akar dari kesulitan ini salah satunya ialah terjadinya perang diluar sana, diluar Indonesia, dimana aku sebagai orang awam nggak mengetahui bagaimana sulitnya struggling ditengah-tengah perang. Aduh ini jadi nyambung ke perang gini jadinya.

Kalau ortu dulu bilang ‘ayo habiskan makananya, nanti nasinya nangis’, baru kecerna sekarang kali ya. Menurutku, nangis disini kiasan, yg artinya, si nasi ini menangis karena orang yang bertanggung jawab ke si doi malah tidak bertanggung jawab. Si doi nangis padahal masih banyak orang-orang yang bahkan untuk sesuap nasi aja tuh susahnya minta ampun, eh malah dibuang-buang sama orang yang belum bertanggung jawab ini. Case disini nggak hanya nasi, tapi setiap makanan apapun itu.

Sebenarnya cara pandang tiap orang itu realtif, mungkin bagi sebagian orang apa yang aku tuliskan ini sekedar racauan nggak jelas dan sepertinya untuk menghabiskan makanan itu perihal yang sederhana dan mudah. Tapi percayalah, masih ada segelintir orang yang belum benar-benar menghabiskan makanannya, belum mengerti hakikatnya. Bahkan pernah sekali waktu aku baca Natgeo edisi berapa lupa ya, disitu ngebahas sampah makanan di eropa, dan itu super-duper menggunung. Bayangin man, itu sampah makanan yang nggak habis dimakan, dan menurutku budaya untuk menghabiskan makanan secara penuh itu masih belum merata.

 Pernah aku ikut semacam kegiatan PKM dari dosen yang membutuhkan SDM mahasiswa untuk sosialisasi di suatu daerah tentang sampah. Dan disitu juga ternyata dibahas tentang sampah makanan. Ternyata sampah makanan juga bisa menjadi media tanam, melalui teknologi terbaru. Sebenernya antara senang dan sedih juga sih. Senang karena disatu sisi ada teknologi yang bisa memanfaatkan sesuatu yang tidak berguna menjadi punya value yg jelas bermanfaatlah ya, tapi disatu sisi sedih juga karena kalau sudah terbersit ide ‘sampah makanan’ ini berarti banyak kesempatan untuk dijadikannya suatu terobosan, yg artinya ‘sampah makanan’ ini masih banyak loh guys. Someways I feel terrible, just…. Because of this little things. So dude, finish what you’ve started, finish your meal until none left in your food-place.


No comments:

Post a Comment