Pages

Saturday, June 2, 2018

You


You came to me afterall

With your intention of who you talking to

And I’m falling to you

You came all of sudden and still I’m not impressed by how you smile at me

Or doing such a kind things, I’m not still

But the way we had our convo, those early mornings or late midnights, I felt tenderness in ourselves

I felt we’re barely strong and we need someone to rely on

To share stories through our days in different city

And I’m falling…

Deep

Deep

By our days together in such different background

I am me, you are you

The way I fell, it aches me

And you made me feel those emotions I’ve never been again

So it was like I opened up my box present that I kept under my bed years ago

After all those painfull years, you came

But I don’t know what it might be… in next next years

I just hope I’m not gonna fall hard

I hope you’ll understand why I’m not so open up person

I hope you’ll change

Because when you pay yourself to others, honestly I feel pain inside my chest

I’m so childish I know

But you came to me afterall, and brings those emotions again

Say to me I’m not wise at the moment, but

Should I say thanks and stay or go away?

Monday, March 5, 2018

Pengemis dan Berlaku Benar

(pic source : Tumblr)

Jalanan selalu penuh dengan orang-orang dan cerita-ceritanya.
Jadi pada suatu siang yang panas terik (ceilah!), aku sama kawan dari bandung lagi ada di luar kota. Kebetulan kami lagi magang, dan ya jalan-jalan sedikit di kota tersebut untuk sekedar tahu seperti apa kotanya. Kebetulan, temenku ini lagi ingin beli oleh-oleh buat keponakannya. 

Trus nih, ketika kami lagi di suatu toko untuk keperluan magang kami, tiba-tiba ada dua orang anak sekolahan (I guessed this because they were wearing uniform) mendatangi kami, dan menadahkan tangannya untuk meminta uang kepada kami.

Entah kenapa anak tersebut mendatangi aku sama temennku ini, mungkin mereka berpikir orang dewasa lebih bisa ‘memberi’atau entah penampilanku sama temen ini dari orang pendatang banget apa gimana. Never get the answer. Salah satu anak dari keduanya itu lagi memegang minuman di plastik gitu, semacam teh manis dingin. Kind of. Lalu aku mikirlah disitu, “ini anak pakai seragam lengkap, sandal juga pakai, bisa beli jajan, tapi kenapa minta-minta ya?” sekelebat pikiran yang mengkotak-kotakkan tindakan manusia untuk memberi.

Temanku kasih uang recehnya ke mereka. Sembari temenku mencari uang recehnya ini, aku tanya ke anak yang bawa minuman tadi,
Aku     : “Dek, kelas berapa?”
Adik    : “Kelas 6 kak.”
*amazed*
Aku     : “Ooh kelas 6, sebentar lagi ujian dong ya?”
*si doi ngangguk*
Gatel banget ingin nanya, orang tuanya kemana, atau walinya kemana. Atau untuk menasihati bahwa meminta yang kesannya seperti pengemis itu sebenarnya tidak baik. Tapi semua itu aku tahan. Rasa-rasanya juga nggak etis ngomong gitu di depan orang banyak.
Aku     : “Okey dek belajar yang bener ya, biar jadi orang sukses.”
Kemudian si doi dahinya mengkerut, mencoba menafsir kali ya apa yang aku katakana barusan. Kemudian ngangguk dan pergi sama temennya setelah dikasih duit receh sambal ketawa riang (halah dek-dek jadi kangen bahwa bahagia se-sederhana itu.)

Somehow masih bingung juga apakah tindakanku untuk nggak memberinya uang receh adalah benar. Kalau aku boleh milih antara yang baik dan yang benar, aku pilih benar. Karena yang baik belum tentu benar, tapi kalau benar insya Allah itu baik. Aku nggak ingin aja, adik-adik seperti tadi yang bersekolah dan bertubuh lengkap (I mean, nggak disfungsional) meminta-minta. Mungkin orang tuanya nggak memberinya uang lebih untuk sekedar jajan atau bagaimana, aku nggak tau. Tapi alangkah baiknya tindakan memberi kepada mereka-mereka yang masih mampu untuk bekerja itu dikurangi.

Pernah juga nih baca thread di sosial media yang membahas tentang ini. Sebenernya bahasan ini sangat pro-kontra. Ada yang berpendapat mungkin nggak semua orang yang mampu itu dapat kesempatan bekerja walaupun dia sudah berusaha, jadi masalah kita memberi itu dijadikan sedekah, yang penting kita ikhlas bahwa itu pure sedekah. Dan banyak yang berpendapat bahwa “Mereka dapat dunia dan kamu dapat akhirat.”

I still don’t get the point and I do not agree of that.

Maksudku, entah mungkin karena di Bandung juga banyak pengemis dan mereka sehat walafiat, bahkan katanya sehari bisa dapat ratusan ribu, dan realita itu membuat aku berpendapat bahwa ‘memberi’ kepada pengemis bukanlah jalan keluar yang benar. Malah aku kagum sama kawanku yang setiap ada kucing liar, yang minta-minta pas dia makan (biasa lah, kantin di kampus) dia selalu kasih, padahal kadang itu kucing diusir-usir sama aku dan orang-orang lainnya. Trus aku nanya ke temanku itu
‘bang, kenapa kucing liar itu selalu dikasih makan disini? Kan ntar balik-balik lagi’ trus kawanku itu jawab
‘vel, kalau kita ngasih, pahalanya gede banget. Kucing kan salah satu binatang kesayangan Rasul. Aku gemes juga sih sama kucing hehe’ (okay).
Dan jawabannya itu menohok banget ke aku. Yang selama ini menganggap kucing yang datang ketika makan itu mengganggu banget. Nggak kepikiran, mungkin kucing itu media Allah bagi aku untuk ‘bersedekah’ dengan benar.

Jadi, ketika statement “mereka dapat dunia dan kamu dapat akhirat” dapat diubah, ketika kita mau mengedukasi mereka, setidaknya memberi pengertian dan tidak menggurui bahwa mengemis itu salah, mereka mungkin akan merubah dirinya. Mungkin mereka lama-lama akan tertohok dan merasa malu mengemis, dan mau untuk bekerja, even pekerjaan sederhana. Mungkin mereka akan paham apa esensi bekerja yang sesungguhnya dan berhenti untuk mengemis. Mungkin banyak orang mengemis saat ini karena semakin banyak juga yang memberi dengan anggapan sedekah. Sedekah yang benar itu banyak medianya, anak-anak yatim piatu, korban-korban perang di suriah bisa ditolong lewat ACT, korban bencana alam, dan lain-lain. Dan ketika hal-hal tersebut dilakukan statementnya berubah menjadi “mereka dapat akirat, kamu dapat akhirat dua kali lipatnya.”

Lebih enak kan?

Aku masih belum tahu gimana caranya mengedukasi mereka dengan benar, kecuali dengan cara having chit-chat dengan pengemis dan membuat percakapan tersirat bahwa mengemis bukanlah jalan keluar untuk dapat uang dan tidak memberi mereka uang, walaupun seringnya dijutekkin sama mereka.

I write this as a reminder to myself, and I hope that somehow the rate of beggar in this country will decrease.



Saturday, November 25, 2017

As i grow up...

(pic source : Tumblr)

As I grow up, I become more an analyzer of what’s going on.

I watch a boy that walk everyday to school, and holding Al-Qur’an, trying to memorize the ayat.

I watch friends coloring her lips with the confusing kind of lipstick’s shades.

I watch someone’s waiting for some other one with sadness all over her face.

I watch my dad rub my mom’s back after a day of tiredness ( I know, I cried too).

I watch my ex in his friend’s instastory with the straight face I knew for our 3 years.

I watch my lecturer wiping his forehead after teaching us in lab. (Can you imagine my heart melts?)

I watch my sister’s face while trying to solve chemistry questions.

I watch the sky is more beautiful than its ever be.

I watch people laugh vulnerably as I watch them from afar.

I watch the dust on my books that I never read again, poor my books.

I watch that people show off everything like everything in their Instagram story which is bullshit.

I watch my friend’s expression while telling me stories about her love-life, it’s very nice to hear.

I watch soldiers with a kind hearted-face trying to finish his academy for sacrifice his life for his nation.

I watch my own face after doing skin-care things which I love the feeling most.

I watch that people judge you by your social media.

I watch myself, that I become more sarcastic.

I watch the flowers that my mum planted which is beautiful.

I watch my friend’s expression while entering the class and knowing that the lecturer have come earlier. That shocked face!

I watch my phone, no message from someone special.

I watch my phone, a message from a man that I don’t think that he’s special but he keeps sending one.

I watch that my life is absurd in a positive kind of way.

I watch my grades. O….kay

I watch my swatch, sadly it’s broken,  and I’m such an idiot for making it broken.

I watch the food on the trash can, while childerns in Syria don't know how to get a food, that hurts…

I watch the scavenger on the street, looking nowhere with a dull face.

I watch my friend’s lip that so purplish because of cigarette.

I watch like everything (not really), but I keep it inside.

Sometimes it becomes the tought I want to write, but I can’t start with something. Too much on my head. When I was a kid, I analyze too but I know what is it. As I grow up, I know what is it, maybe more than when I was a kid. It relaxs me just to analyze and put it into words.


Life is sort of weird things going in a good way. Somehow I watch then I smile, then I let it go. 

Have you ever in life, watch something passes in fornt of you, and start thinking about something like your boy/girlfriend, home, mom's food, your room and you don't know what to do next?

This is how i ever be in that.

Thursday, April 13, 2017

Bersyukur


(Source pic : tumblr[dot]com)

Judulnya sok-sokan poetic gitu ya? Padahal enggak sama sekali, ini tulisan agak galau gitu soalnya mau menginjak 20 tahun, hiks.

Jadi di tulisan kali ini, aku mau mengungkapkan kegelisahan ingin menulis tentang fikiran akhir-akhir ini tentang bagaimana rasa syukur itu akan sangat bertambah jikalau kita merasa sangat bersyukur atas apa yang Allah kasih.

Jadi gini, tahun ini alhamdulillah aku diamanahi sebagai salah satu pengurus di organisasi kampus. Which is amazing because I can put myself into an amazing listing people in my opinion. Awalnya aku ragu, bahkan nangis kejer karena ada amanah yang sangat besar yang harus aku penuhi. Nangis karena takut. Ya takut nggak amanah lah, ya takut nggak bisa memimpin lah, ya takut ini itu dan lain-lain. Ternyata rasa takut itu hantu banget buat aku, karena coy aku dikasih kesempatan yang gede banget, bisa dikasih kesempatan untuk mengasah diri menjadi lebih baik, istilahnya, lu dikasih emas cuma-cuma terus lu gak mau emas itu karena takut menjaganya? Mulai dari situ, aku merasa salah besar terhadap pemikiran aku yang waktu itu masih sangat kerdil. Trus aku mikir, aku dikasih emas sama orang secara cuma-cuma, ya walaupun istilahnya, aku harus ngegali sumber emas itu untuk ngedapetin emasnya, dan setelah aku dapet, seharusnya aku bisa memanfaatkan fungsi dari emas itu semaksimal mungkin, bukan menolaknya mentah-mentah. I was totally wrong.

Mulai dari titik itu, aku banyak-banyak memanjatkan do’a, karena selain kerja keras dan usaha, do’a dan ibadah itu menurutku penguat yang paling ampuh. Mulai dari titik ini, do’a yang aku panjatkan bukan hanya tentang diri sendiri, tentang keluarga sendiri, tentang teman-teman lingkupku sendiri, tapi berdo’a untuk anak orang yang aku asuh selama ada di organisasi tersebut. Oke ini bukan riya aku bilang udah berdo’a untuk anak-anak orang itu, tapi hanya ingin mengungkapkan bahwa, setelah titik kepedulianmu juga melibatkan orang selain dirimu, tuhan akan kasih rahmat dan berkahnya lebih banyak dari yang kamu kira, dan kamu akan takjub akan apa yang tuhan kasih. Dan aku sangat merasa bersyukur bisa menerima amanah tersebut, bisa menjalani amanah tersebut. Ketika aku bersyukur, akan bertambah pula nikmat yang datang.

And it happens to me.

Aku berdo’a supaya kerja keras anggotaku, waktu yang mereka luangkan, keringkat yang mereka tumpahkan, semuanya akan terbayar sebagai cara mencari ilmu, ilmu diluar kelas. Karena aku nggak tahu, waktu yang mereka luangkan untuk membangun organisasi ini mungkin saja adalah waktu yang ia luangkan untuk rela tidak menelfon orang tuanya di sebrang sana, mungkin waktunya untuk istrahat setelah mereka kerja sampingan untuk membayar biaya kuliah mereka, waktu untuk mengejar ketertinggalannya di kelas. Aku nggak tahu, kontribusi mereka yang mungkin dimataku kecil, bisa menjadi hal yang sangat besar bagi mereka. Aku nggak tahu itu, yang aku tahu bahwa mereka datang dan membantuku selaku pengurus. Maka dari itu, semoga Allah mengabulkan do’aku agar kerja keras mereka dapat juga menjadi kerja ikhlas.

Setelah aku berdo’a untuk tidak hanya diriku sendiri, Allah malah ngasih jalan bagi aku, kejadianya adalah seperti ini, aku bisa berkenalan dengan kakak-kakak di kampus yang memberi inspirasi. Banyak orang yang mengajak untuk membangun komunitas di kampus (dan ini sesuai dengan passion jadi kerja kayak ngerjain hobi), mengajak bergabung komunitas yang pada dasarnya bukan keahlianku, tapi aku bisa berinteraksi dengan orang hebat di dalamnya. Lingkup-lingkup baru tersebut adalah lingkup yang sangat positif, menambah ilmu dan sudut pandang dari beragam kalangan. Nggak semua orang bisa berkenalan dengan lingkup tersebut secara Cuma-Cuma, sementara aku kesannya kayak dicomot orang aja trus ‘ayo yuk ikutan, kita kembangan komunitas ini supaya menginspirasi mahasiswa-mahasiswa lainnya’.

Lingkup tersebut adalah rejeki yang aku nggak pernah kira sebelumnya, yang nggak pernah aku sangka-sangka, yang aku dibuat takjub. Setelah aku berdoa untuk orang lain, ternyata malah Allah gampang sekali mengabulkannya, bahkan memberi lebih. Berdo'a untuk orang lain, berdo'a agar rasa takut hilang, berdo'a semoga apa yang aku lakukan ini dapat dihitung selain pahala. Karena sekarang sadar, kenapa orang banyak yang bunuh diri karena meraka ngerasa nggak satisfied sama apa yang mereka punya, nggak mendapat esensi apa yang mereka kerjakan karena mereka nggak punya pegangan untuk apa sebenarnya mereka mencari ilmu, bekerja, menolong sesama, kalau pegangan kita udah teguh nih untuk mendapat pahala, untuk mendapat ridho orang banyak, yakin deh kemungkinannya kecil untuk hal-hal negatif yang begituan.

Aku pernah baca tulisan sih yang mengatakan bahwa, kalau lo terpaksa berada di dalam jurang, tanamlah bunga disana, kalau lo dibuat sakit, buatlah satu pemikiran yang indah apa yang akan lo dapet setelah lo dapat melalui kesakitan lo yang lo rasain. Karena aku percaya, suka duka selama muda, selama idealisme ini masih ada, akan sangat terasa setelah kita tua, yaitu menjadi lebih bijaksana dalam hidup.

Probabilitasnya orang baca tulisanku ini sepertinya kecil banget kali yak, karena blog ini hanya sekedar istilahnya buku catatan aku yang nggak penting gitu sih bagi orang lain, hanya sebagai reminder ketika diri ini down dan lain sebagainya. Tapi jika ada yang membaca, semoga tulisan ini bisa menginspirasi walau hanya setitik rasa itu muncul di hati kalian.

Jadi bro, jangan lupa bersyukur dan berdo'a untuk kepentingan orang banyak, karena kamu gaakan tahu keindahan apa yang sedang tuhan rencanakan buat orang-orang yang seperti itu. 

Saturday, April 1, 2017

Makanan

Sebenernya agak aneh dan kurang penting juga sih menuliskan hal ini karena ini pure hal-hal kecil yang aku perhatikan. Tapi sebenernya tingkat keseriusan pada saat menulis ini ada benarnya, soalnya aku ngalamin hal ini dan menurutku ini cukup penting, terlebih untuk reminder aja sih, dan ini lebih terkesan curhat.

Jadi begini. Semester 4 sudah hampir setengah berjalan dan pada semester inilah aku ketemu dosen yang hmm gimana jelasinnya ya? Honestly, I adore her so much. Tapi entah kenapa, kami, satu kelas (atau bahkan mungkin satu jurusan?) sangat segan terhadap beliau. But to be honest she is a kindhearted woman. Cuman, suasana di kelas pada saat mata kuliah beliau tuh agak-agak horror tegang meggemaskan gitu deh. Mangkanya, sejujurnya sensasi pada saat bertemu beliau itu abstrak gitu.

Beliau ini kerap menyelipkan nasihat-nasihat tentang kehidupan di tengah-tengah mata kuliahnya. Beliau ini orang yang disiplin terlebih karena pengalaman beliau di benua Eropa pada saat menyenyam pendidikan. Rasa-rasanya budaya orang sana sudah terpatri di diri beliau. Kedisiplinannya, masalah tepat waktu, masalah tolerasi, dan lain sebagainya. Pada suatu pertemuan, beliau ini bercerita tentang makanan.

Kurang lebih beliau berkata seperti ini (ini seingetnya aja sih pokoknya intinya begitu) “Orang Indonesia itu kalau beli atau ambil makanan sukanya banyak. Semua dibeli, ditaruh dipiring, tetapi tidak dihabiskan. Tipikal orang Indonesia banget nih, sudah miskin malah hambur makanan.”

And that’s when I got stuck in her words, got my throat right open.

Bener banget, setuju banget dengan statement beliau. Beliau mengkritisi bahkan hingga hal terkecil seperti ini. Aku merasa tersindir sih karena kadang kalau makan banyak nggak habisnya, kemudian dibuang begitu saja, memang nafsu makan akhir-akhir ini menurun drastis. Sebenernya aku tau itu hal yang salah namun entah mengapa budaya yang melingkupiku tidak semuanya aware terhadap perilaku yang salah tersebut. Hingga pada saat kuliah ini aku bertemu dengan salah satu kawan yang makannya tuh pelan banget, suapannya sungguh kecil-kecil bak putri keraton, tapi satu piring porsi makanan di kampus (yang tipikal banyak banget, bok, suer) dia habis, ya walaupun lama sih habisnya, but at least she did her responsibilities. Jujur, kagum sama dia.

Dari mata kuliah tersebut aku berusaha untuk menghabiskan makanan yang aku ambil, yang aku jadikan sebagai tanggung jawab pada saat itu juga, yang Tuhan jadikan berkah. Entah kenapa, dari hal kecil seperti itu sangat men-trigger aku untuk berubah menjadi lebih baik bahkan dari hal kecil seperti menghabiskan makanan. Karena serius deh, kalau denger cerita kawan medsos dari negeri sebrang, bahkan untuk mendapatkan akses makanan aja tuh susahnya minta ampun, hal yang paling menjadi akar dari kesulitan ini salah satunya ialah terjadinya perang diluar sana, diluar Indonesia, dimana aku sebagai orang awam nggak mengetahui bagaimana sulitnya struggling ditengah-tengah perang. Aduh ini jadi nyambung ke perang gini jadinya.

Kalau ortu dulu bilang ‘ayo habiskan makananya, nanti nasinya nangis’, baru kecerna sekarang kali ya. Menurutku, nangis disini kiasan, yg artinya, si nasi ini menangis karena orang yang bertanggung jawab ke si doi malah tidak bertanggung jawab. Si doi nangis padahal masih banyak orang-orang yang bahkan untuk sesuap nasi aja tuh susahnya minta ampun, eh malah dibuang-buang sama orang yang belum bertanggung jawab ini. Case disini nggak hanya nasi, tapi setiap makanan apapun itu.

Sebenarnya cara pandang tiap orang itu realtif, mungkin bagi sebagian orang apa yang aku tuliskan ini sekedar racauan nggak jelas dan sepertinya untuk menghabiskan makanan itu perihal yang sederhana dan mudah. Tapi percayalah, masih ada segelintir orang yang belum benar-benar menghabiskan makanannya, belum mengerti hakikatnya. Bahkan pernah sekali waktu aku baca Natgeo edisi berapa lupa ya, disitu ngebahas sampah makanan di eropa, dan itu super-duper menggunung. Bayangin man, itu sampah makanan yang nggak habis dimakan, dan menurutku budaya untuk menghabiskan makanan secara penuh itu masih belum merata.

 Pernah aku ikut semacam kegiatan PKM dari dosen yang membutuhkan SDM mahasiswa untuk sosialisasi di suatu daerah tentang sampah. Dan disitu juga ternyata dibahas tentang sampah makanan. Ternyata sampah makanan juga bisa menjadi media tanam, melalui teknologi terbaru. Sebenernya antara senang dan sedih juga sih. Senang karena disatu sisi ada teknologi yang bisa memanfaatkan sesuatu yang tidak berguna menjadi punya value yg jelas bermanfaatlah ya, tapi disatu sisi sedih juga karena kalau sudah terbersit ide ‘sampah makanan’ ini berarti banyak kesempatan untuk dijadikannya suatu terobosan, yg artinya ‘sampah makanan’ ini masih banyak loh guys. Someways I feel terrible, just…. Because of this little things. So dude, finish what you’ve started, finish your meal until none left in your food-place.


Sunday, December 25, 2016

Thoughts about Book : All The Light We Cannot See - Anthony Doerr

 All the Light We Cannot See
source : goodreads.com


“But it is not bravery; I have no choice. I wake up and live my life. Don't you do the same?”-Marie-Laure 


After a week I need to finish this beautiful one, finally I can summarize that a war is not a wise way to get an authority, it just remains loss, remains hurt. 
I do love this book. I've never read any of historical romance stories as beautiful as this is. 

At first, it took me so long to finish the 500 pages of the book. GAH! PLEASE HELP ME TO FINISH THIS! Because of- first, the story-line drive me crazy it written down very slow-going until there is a time when i feel very boring about the story line, i'm so sorry. Second, my daily language is not english, so i am not really in touch with English, so when i read the whole book, it is like reading a poem. Third, i-hate-the-life-story-while-WWII, because it leaves me a dark-angst feeling within myself. 

BUT, how could i finish it? because, even if the story-line is slow-going, this book catch my attention, it was like the stories between Marie and Werner tow me to read it until finish every bits of it. Even if the dark-angst somehow tow me into a melancholic person as well, it’s beautiful. And i do agree that this book is absolutely-utterly-beautiful i cannot explain more.  


The story between Marie-Laure and her Papa is completely drive me nuts. Marie-Laure’s Papa is everything on a man i love about. Can you ever imagine that, a man raise his daughter, without his spouse, but he can raise his daughter until his daughter grows into a beautiful and smart woman both looks and heart, and in additional, his daughter is blind. How can he doesn't become stress? I adore you Papa! :) I adore your patience, your love, your everything! 

Marie-Laure is a brave girl. Even if she is blind, her spirit to learn about the world outside hers, is contagious. Her attitude to make lots of friends, i adore her. 

Werner Pfenning. Oh, how can i describe him? 
He is a main character (boy) in this book beside Marie-Laure and her Papa. Werner Pfenning is really into science, he loves it till death. I always love a man who is very lost in his world especially about science! And i agahst when i read there are sin-cos-tan formula, class about entropy, transmitter. GOD. Suddenly I remember about my study. That’s so asdfgghjkl! I wonder what Werner Pfenning looks like? He is probably very handsome, a quiet-boy kinda like, kind, ugh!

“I am not killing you. I am hearing you. On radio. Is why I come.” He pauses, fumbling to translate. “The song, light of the moon?” She almost smiles. 


I am very curious when will Merie-Laure meet Werner, like please? :") and when i reach around page 489 finally they'll meet. Even if it just less than a day, i feel a huge, massive love hidden between them. That is why i realy love this book, because the ending is swirl back and forth and the exact point, alike the most important point why the stories flow like that is when Marie met Werner. All of the questions hidden within myself is finally asked :)

Ashtonishing. 
Beautiful. 
Extra-ordinary. 


I recommend it to you guys who love a beautiful story between war. 

Friday, July 29, 2016

Perang dunia ke-2, bom atom, hingga remahan biskuit di otak saya.

sumber : tumblr[dot]com


Akhir-akhir ini saya sering bertanya lebih kepada diri sendiri, sebenarnya hidup itu apa? Mengapa kita hidup? Mengapa Tuhan ingin kita merasakan sedih dan bahagia? Menolong satu sama lain? Bahu-membahu kala dibawah dan di atas? Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan sok filsuf itu bertebaran di otak saya layaknya sedang terjadi perang dunia ke-2, bom atom, petir menggelegar, hingga remahan biskuit tercecer kesana kemari lalu membumbung kemudian membuncah.


Buncahannya itu merupakan hari-hari yang meresahkan, mungkin di otak saya layaknya sedang terjadi hari-hari Holocaust setelah terjadinya perang dunia ke-2 nan fiktif bin konyol tersebut. Sebenarnya otak saya ini otak, atau apa? Ah saya pun bingung.


Kemudian setelah pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul, kerap kali saya mengamati tingkah laku orang-orang dewasa di sekitar saya.
Mereka berangkat pagi. Mereka bekerja untuk bertahan hidup. Kemudian ketika masalah datang mereka menangis tersedu-sedu, lanjut bekerja lagi seperti biasa. Saya bingung, lantas saya terpojok di ruangan kelabu di otak saya, sendiri (bukannya otak itu ruang kelabu?). Satu-satunya spesies di otak saya yang merasa kebingungan mengenai orang dewasa itu. Lalu berbagai macam informasi masuk melalui mata saya, merangsek masuk melalui jembatan syaraf dan sampai di otak, menghampiri saya, begitu sumringahnya ia menghampiri dengan terseok-seok. Aduh! Kasihan sekali! Seperti mengejar kuliah pukul 6 pagi di senin pagi saja!


Ya, jawaban-jawaban tersebut muncul seketika. Orang dewasa begitu karena memang mereka ‘harus’ seperti itu. Memang sudah fase mereka ‘harus’ menghadapi segala apa yang datang. Itulah hidup. Saya analis lagi mereka, ternyata menjadi dewasa begitu menyeramkan! Bayangkan saja, mereka berangkat subuh buta; bahkan semut pun masih terhenyak disudut tumpukan gula, sementara orang dewasa sudah berangkat bekerja, mencari uang, untuk makan, untuk bertahan hidup, dan segala cucu-cicit alas an lainnya, kemudian ketika mereka sedih, mereka menjerit lantas kembali seperti sedia kala. Bah! Seperti robot saja lama-lama mereka ini, tak paham lagi aku.


Kemudian saya takut. Ternyata menjadi dewasa sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi kala kau sendiri dan kekasih hati belum datang. Haduh, memang kadang dunia ini kejam. Bayangkan dengan usia lima tahun kita, apa-apa yang dikhawatirkan adalah kebingungan mengenai permainan apa yang akan dimainkan esok sore.


Kemudian saya tersadar.

Ternyata saya sedang mengalami datang bulan ketika semua pikiran sok filsuf bin absurd itu menjelma.

Menjelma menjadi hantu di dalam otak yang acapkali menjadi teman bincang pukul 12 malam.

Memang luar biasa segala apa yang wanita rasakan ketika datang bulan, banyak sekali hal-hal yang sepatutnya tidak usah dipikir dalam-dalam. Sial, hormone ini ternyata yang mengatur saya, harusnya saya yang mengatur mereka.

Lalu ketenangan tersebut datang ketika saya membaca Qur’an. Entah kenapa semua perang, bom atom, petir menggelegar, remahan biscuit sirna perlahan-lahan. Kekuatan spiritual itulah yang saya yakin adanya tujuan Tuhan menciptakan apa itu hidup, apa itu orang dewasa, dan apa itu otak saya yang absurd.

Sampai detik saya menulis ini, saya masih merasakan sensasi luar biasa tenang ketika membaca Qur’an, sungguh pemadam ampuh bagi emosi yang eksplosif di diri saya ini.

Sekian.

Bandung coret, 29 Juli 2016.

(pikiran absurd kala emang mie tek-tek lewat di depan rumah)